Skip to main content

Teori Belajar

Daftar Isi [ Tampil ]

Pengertian Teori Belajar

Teori adalah seperangkat konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang memberikan, menjelaskan, dan memprediksi fenomena. Ada dua macam teori, yaitu teori intuitif dan teori ilmiah. Teori intuitif adalah teori yang dibangun berdasarkan pengalaman praktis. Sedangkan, teori ilmiah (teori formal) adalah teori yang dibangun berdasarkan hasil-hasil penelitian. Guru cenderung lebih sering menggunakan teori jenis yang pertama. Menurut Suppes, ada empat fungsi umum teori. Fungsi ini juga berlaku bagi teori belajar, yaitu sebagai berikut :

  • Berguna sebagai kerangka kerja untuk melakukan penelitian.
  • Memberikan suatu kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu.
  • Identifikasi kejadian yang kompleks.
  • Reorganisasi pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Secara umum Imron (1996:2), belajar adalah suatu upaya yang dimaksudkan untuk menguasai/mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tau (guru) atau sumber-sumber lain karna guru sekarang ini bukan satu-satunya yang menjadi sumber belajar. Orang yang banyak pengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang banyak belajar, sedangkan orang yang sedikit pengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang sedikit belajar dan orang yang tidak berpengetahuan dipandang sebagai orang yang tidak belajar.

Menurut Psikologi, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang sebagai hasil dari sebuah pengalaman. Contoh: belajar membaca berarti individu mendapat pengalaman, dan terjadi perubahan dalam 3 ranah yaitu: ranah kognitif, ranah efektik, dan ranah psikomotorik. Pakar psikologi menjelaskan bahwa perilaku belajar sebagai proses psikologis, individu dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami (Imron, 1996:3).

Fontana (1981:147) menjelaskan, belajar adalah proses perubahan yang relatif tetap dalam perubahan perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Dalam pengertian ini memusatkan perhatian pada 3 hal :

  • Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku.
  • Perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman.
  • Perubahan itu terjadi pada perilaku individu yang mungkin (Winataputra, 2008:2).

Slameto (2002:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru, sebagai hasil dari pengalaman itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan sekitar. Perubahan dalam aspek kematangan, pertumbuhan, perkembangan tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.

Crow and Crow dalam Educational psychology (1984), belajar adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan, dan berbagai sikap, termasuk penemuan baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha memecahkan rintangan, dan menyesuaikan dengan situasi baru. Definisi ini menekankan hasil dari aktifitas belajar (Sriyanti, 2013:16).

Dictionary of psychology di sebutkan bahwa belajar mempunyai dua definisi:

  • Belajar diartikan sebagai suatu proses untuk memperoleh pengetahuan “the process of acquiring knowledge”.
  • Belajar diartikan sebagai sutau perubahan kemampuan untuk bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat “a relatively permanent change potentiality which occurs as a result of reinforced practice”. Pengertian belajar ini menekankan pada aspek proses serta keadaan sebagai hasil dari belajar (Sriyanti, 2013:16-17).

Macam-Macam Teori Belajar

Menurut pandangan psikologis, setidak-tidaknya ada tiga pandangan mengenai teori belajar yaitu dari psikologi behavioristik, psikologi kognitif, dan psikologi humanistik.

1. Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah salah satu teori pembelajaran yang paling tua. Meski terdengar kolot dan sudah semakin berkembang menjadi teori-teori baru yang di anggap lebih baik untuk digunakan, teori behavioristik ini pun nyatanya masih banyak digunakan dalam implementasi dunia pendidikan. Misalkan penerapan hukuman membersihkan halaman bagi siswa yang terlambat datang ke sekolah. Sekilas teori ini cukup menakutkan karena penekanan prinsip pemberian hukuman, akan tetapi teori ini tak selamanya buruk. Untuk kondisi dan tujuan tertentu, teori ini dianggap merupakan pilihan metode pembelajaran yang tepat dan dianggap mampu menghasilkan output yang diharapkan.

Teori belajar behavioristik adalah teori pembelajaran yang mengamati dan mempelajari perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman dimasa lalu. Teori ini menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan seseorang merupakan akibat dari interaki antara stimulus dan respon. Teori ini berkembang dan cenderung mengikuti aliran psikologi belajar lantas menjadi dasar pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran saat ini.

Ciri dari implementasi sukses teori belajar behavioristik ini adalah adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan seseorang setelah mengalami kejadian dimasa lampau. Perubahan adalah tanda bahwa seseorang telah merespon suatu kejadian dan menjadikannya pembelajaran untuk tidak menggunakan respon yang sama dimasa depan, guna menghindari akibat yang pernah dialaminya.

Ciri dari implementasi sukses teori belajar behavioristik ini adalah adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan seseorang setelah mengalami kejadian dimasa lampau. Perubahan adalah tanda bahwa seseorang telah merespon suatu kejadian dan menjadikannya pembelajaran untuk tidak menggunakan respon yang sama dimasa depan, guna menghindari akibat yang pernah dialaminya.

Teori ini masih banyak digunakan, baik dalam institusi pendidikan Indonesia maupun dalam implementasi kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh:

Pendisiplinan murid yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan mengurangi poin perilakunya yang menjadi pertimbangan pemberian nilai akhir atau nilai rapor.

Ketika terlambat berangkat kerja maka pekerja kantoran bisa mendapatkan sanksi, mulai dari teguran sampai surat peringatan.

Pengendara kendaraan yang melanggar rambu-rambu lalu lintas akan diberi surat tilang oleh polisi.

Sanksi sosial berupa pengucilan terhadap masyarakat yang dianggap telah bertindak menyimpang dari budaya dan norma sosial yang berlaku disuatu tempat tertentu.

Tokoh-Tokoh Teori Behavioristik

Tokoh-tokoh teori belajar behavioristik antara lain adalah Pavlov, Guthrie, Watson, Skinner dan Thorndike.

a. Teori Belajar Menurut Pavlov

Bentuk paling sederhana dalam belajar adalah conditioning. Karena conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli sering mengambilnya sebagai contoh untuk menjelaskan dasar-dasar dari semua proses belajar. Peletak dasar teori conditioning adalah Ivan Petrovich Pavlov. Secara kebetulan conditioning refleks (psychic refleks) di temukan oleh Pavlov pada saat ia sedang mempelajari fungsi perut dan mengukur cairan yang di keluarkan dari perut ketika anjing (sebagai binatang percobaannya) sedang makan. Ketika Pavlov mengukur sekresi perut saat anjing merespon bubuk makanan dia melihat bahwa hanya dengan melihat makanan telah menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Pada awalnya Pavlov menganggap respon tersebut sebagai reflek “psikis”. Menurut Pavlov (1927), ia melakukan percobaan terhadap anjing. Anjing tersebut diberi makanan dan di beri lampu/bel. Pada saat diberi makanan dan lampu keluarlah respon anjing tersebut berupa keluarnya air liur. Pada saat lampu dinyalakan mendahului makanan, pada saat lampu dinyalakan mendahului makanan, anjing tersebut juga mengeluarkan air liur. Makanan yang diberikan tersebut oleh Pavlov disebut sebagai perangsang tak bersyarat (unconditioned stimulus/UCS), sementara lampu/bel yang menyertai disebut sebagai perangsang bersyarat (conditioned stimulus/CS). Terhadap perangsang tak bersyarat/UCS (makanan) yang disertai dengan perangsang bersyarat/CS (lampu/bel) tersebut, anjing memberikan respon (keluarnya air liur) (unconditioned response/UCR). Selanjutnya, ketika perangsang bersyarat/CS (lampu/bel) diberikan tanpa perangsang tak bersyarat/UCS, anjing tetap memberikan respon dalam bentuk air liur (UCR)

Kelebihan Teori Pavlov :

  • Cocok diterapkan untuk pembelajaran yang menghendaki penguasaan keterampilan dengan latihan. Karena dalam teori ini menghadirkan stimulus yang dikondisikan untuk merubah tingkah laku pembelajar.
  • Memudahkan pendidik dalam mengontrol pembelajaran sebab individu tidak menyadari bahwa dia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

Kekurangan Teori Pavlov :

  • Teori ini menganggap bahwa belajar hanyalah terjadi secara otomatis (ketika diberi stimulus yang sudah ditentukan pembelajar langsung memberi respon) keaktifan pebelajar dan kehendak pribadi tidak dihiraukan.
  • Teori juga terlalu menonjolkan peranan latihan/kebiasaan padahal incividu tidak semata-mata tergantung dari pengaruh luar yang menyebabkan individu cenderung paif karena akan tergantung pada stimulus yang diberikan.
  • Teori conditioning memang tepat jika kita hubungkan dengan kehidupan binatang. Dalam teori ini, proses belajar manusia dianalogikan dengan perilaku hewan sulit diterima, mengingat karakter fisik dan psikis yang berbeda dari keduanya. Karena manusia memiliki kemampuan yang lebih untuk mendapatkan informasi. Oleh karena itu, teori ini hanya dapat diterima dalam hal-hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar yang mengenai skill (keterampilan) tertentu dan mengenai pebiasaan pada anak-anak kecil.

Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie

Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan proses terjadinya belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah stituasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karna dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.

Menurut Guthrie (1935-1941), berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dapat diubah, baik tingkah laku yang diubah menjadi jelek atau sebaliknya. Teori belajar Guthrie berdasar atas model penggantian stimulus satu ke stimulus yang lain. Respon/situasi cenderung diulang ketika menghadapi situasi yang sama. Teori Guthrie juga disebut teori asosiasi. Menurut Guthrie, setiap situasi belajar merupakan gabungan berbagai stimulus (dapat internal/eksternal) dan respon. Dalam situasi tertentu, banyak stimulus yang berasoiasi dengan banyak respons. Asosiasi tersebut, dapat benar dapat juga salah.

b. Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike (1949) belajar dapat dilakukan coba-coba (trial and error). Mencoba-coba ini dilakukan seseorang ketika tidak tahu bagaimana harus memberikan respon atas sesuatu. Dalam mencoba-coba ini mungkin dapat memberikan inisiatif yang tepat terhadap persoalan yang dihadapinya tersebut.

Menurut Romiszowski (1981:4) dalam Winataputra (1996:2) tim MKDK IKIP Semarang (1989:109) dan Irawan (2001:3) bahwa pendekatan behaviorist khususnya teori Thorndike disebut juga teori connectionist. Karena pendekaatan ini melihat proses belajar seperti proses terjadinya hubungan stimulus atau rangsangan (pikiran,perasan,gerakan) dengan respon atau jawaban (pikiran,perasaan,gerakan) atau respon dengan penguat atau reinforcement.

Menurut Irawan (2001:2)  teori belajar behaviourist ini disebut juga teori belajar tingkah laku. Teori perilaku menekankan pada “hasil” dari proses belajar. Menurut teori ini belajar merupakan perubahan tingkah laku. (1) Seseorang dianggap belajar tingkah laku apabila seseorang tersebut belajar mengubah tingkah laku seperti seseorang belum bisa membaca menjadi bisa membaca. (2) memasukkan input yang berupa stimulus dan keluaran berupa respons. Yang terjadi antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati, yang bisa diamati, diukur hanyalah stimulus dan respons (tersurat tidak boleh tersirat). (3) penguatan, apabila penguatan ditambah maka respons akan semakin kuat, apabila penguatan dikurangi respons akan tetap dikuatkan.

Penerapan teori behaviorist atau belajar perilaku dalam pendidikan tergantung dari sifat materi pelajaran, karakteristik pembelajaran, media belajar dan fasilitas belajar yang tersedia. Menurut Irawan (2001:25) teori behaviorst meliputi:

  1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
  2. Menganalisis lingkungan kelas saat ini termasuk mengidentifikasi “entry behavior” siswa (kemampuan/pengetahuan awal siswa)
  3. Menentukan materi pembelajaran (pokok bahasan, sub pokok bahasan, topic, sub topik,dll)
  4. Menyajikan materi pelajaran.
  5. Memberikan stimulus berupa pertanyaan
  6. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan.
  7. Memberikan penguatan/reinforment positif dan negative.
  8. Memberikan stimulus baru.
  9. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan (mengevaluasi hasil belajar)
  10. 1Memberikan penguatan.

c. Teori Belajar Menurut B.F. Skinner

Skinner menganggap reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Reinforcement atau peneguhan diartikan sebagai suatu konsekuensi perilaku yang memperkuat perilaku tertentu. Ada dua macam peneguhan, yaitu positif dan negatif. Peneguhan positif adalah rangsangan yang semakin memperkuat atau mendorong suatu tindak balas. Peneguhan negatif adalah peneguhan yang mendorong individu untuk menghindari suatu tindak balas tertentu yang tidak memuaskan.

Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respon. Hanya perbedaannya, Skinner membuat perincian dengan membedakan respon menjadi dua bagian (dalam Purwanto, 2002: 95-96), yaitu sebagai berikut.

  1. Respondent Response (Reflexive Response), respon ini ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, misalnya keluar air liur setelah melihat makanan tertentu. Pada umumnya, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya. Jenis respon ini sangat terbatas pada manusia saja.
  2. Operante Response (Intrumental Response), respon ini adalah respon yang timbul dan berkembang yang di ikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang demikian itu disebut reinforcing stimulus atau reinforce karena perangsang itu memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Misalnya, seorang anak yang belajar lalu mendapatkan hadiah, ia akan menjadi lebih giat belajar (responnya menjadi lebih intensif). Operante response merupakan bagian terbesar tingkah laku manusia dan kemungkinan untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respons ini.

Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behariors yang di sponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian, dalam Trimanjuniarso.wordpress.com).

2. Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang melibatkan peristiwa mental dengan penekanannya pada proses. Dalam arti teori belajar kognitif menekankan belajar sebagai aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks (Suprijono, 2010:22). Teori belajar kognitif muncul sebagai reaksi dari penemuan-penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai proses hubungan perangsang-tanggapan-penguatan (stimulus-response-reinforcement) atau belajar adalah pengondisian (Syakur,2009:39).

Para psikologi kognitif yakin bahwa pengetahuan yang sudah ada (dimiliki) sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi/pengetahuan baru (Hamdayama, 2016:38). Keyakinan para penganut psikologi kognitif ini terutama bersumber dari Piaget yang menggambarkan proses adaptasi intelektual, yakni yang melibatkan skemata, asimilasi, akomodasi, dan equilibration. Skemata merupakan struktur kognitif berupa ide, konsep, dan gagasan. Asimilasi merupakan proses pengintegrasian informasi baru diperoleh ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh individu. Selanjutnya, akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Selain itu, equilibration adalah pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi (Suprijono, 2010:23).

Jika tidak ada keterkaitan antara informasi baru dan apa yang sudah diketahui siswa tau konteks asal informasi itu, mengajari siswa menghafal sebenarnya bertentangan dengan cara kerja sistem pembelajaran kognitif. Sistem pembelajaran kognitif menempatkan guru pada peran fasiliator pembelajaran dan siswa para peran pemecah masalah dan pengambil keputusan nyata. Seorang fasiliator tidak mengatakan atau mengaku bahwa dia mengetahui semua jawaban, tetapi melengkapi kelas dengan masalah untuk dipecahkan, dan menyusun materi pendukung untuk solusi (Given, 2007:62-63). Oleh karna itu, proses belajar-mengajar dan latihan melibatkan otak atau pikiran untuk melakukan hubungan melalui refleksi, artikulasi, dan belajar melihat perbedaan pandangan (Rusman, 2011:236). 

3. Teori Belajar Humanistik

Teori belajar humanistik lebih mengedepankan humanis manusia dan tidak menuntut jangka waktu pembelajar mencapai pemahaman yang diinginkan. Teori ini lebih menekankan pada isi/materi yang harus dipelajari agar membentuk manusia seutuhnya. Proses belajar dilakukan agar pembelajar mendapatkan makna yang sesungguhnya dari belajar atau yang disebut Ausubel sebagai meaningful learning yang memiliki makna bahwa belajar adalah mengasosiasikan pengetahuan baru dengan prior knowledge (pengetahuan awal) si pembelajar. Menurut teori ini keberhasilan belajar akan tercapai jika pembelajar dapat memahami diri dan lingkungannya, dengan alasan setiap pembelajar memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Hal ini karena setiap manusia adalah unik dan tugas pendidik adalah membantu mengenali sisi unik tersebut serta mewujudkan potensi yang dimiliki oleh siswa.

Tokoh-Tokoh Belajar Humanistik

Beberapa tokoh yang mendalami teori ini, sebagai berikut:

a. Arthur Combs

Apa yang dipelajari haruslah memiliki makna bagi yang belajar. Jika tidak, tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Oleh karena itu, guru perlu memberikan bekal pengetahuan yang memiliki manfaat dan relevan dengan kehidupan siswa. Siswa yang tidak memahami IPA bukan berarti siswa tersebut bodoh, bisa jadi karena siswa tersebut terpaksa belajar IPA dan guru tidak mengaitkannya dengan kehidupan siswa sehingga siswa merasa tidak ada gunanya belajar IPA. Oleh karena itu, seorang guru harus berusaha memahami perilaku siswa dan mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik kedepannya. Salah satunya yaitu dengan cara menyajikan relevansi mata pelajaran dengan kehidupan siswa.

Combs menyatakan bahwa kebanyakan guru menganggap bahwa jika ia menyajikan materi pelajaran secara sistematis, siswa mau belajar. Padahal, sistematika penyajian tidak menyatu dengan arti pelajaran tersebut. Oleh karena itu, lebih penting jika guru mampu menyajikan materi dan menunjukkan kebermaknaan materi terebut bagi siswa saat ini atau yang akan datang. Jika makna itu berhasil ditunjukkan guru ke siswa, materi tidak mudah dilupakan oleh siswa.

b. Abraham Maslow

Maslow mendasarkan teorinya pada asumsi dasar bahwa didalam diri individu ada dua hal utama, yaitu usaha untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan perkembangan itu. Bagaikan dua sisi mata uang, dalam diri manusia ada dua kekuatan, yaitu kekuatan positif untuk berkembang dan kekuatan negatif (rasa takut) untuk melawan perkembangan. Pada setiap individu pasti pernah muncul rasa takut, seperti takut berusaha, takut mengambil kesempatan, takut mengambil resiko, takut membahayakan diri, takut kehilangan apa yang dimiliki.Namun, disisi lain manusia juga memiliki kekuatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan kemampuan diri dan kebutuhannya. Oleh karena itu, Maslow menamakan dengan teori kebutuhan.

Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi tujuh tingkatan. Jika seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan tingkat pertama, seperti makan dan minum, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan ditingkat ke dua, misalnya kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Demikian halnya dalam pembelajaran, guru perlu memerhatikan kebutuhan siswa. Maslow mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar mungkin berkembang jika kebutuhan dasar siswa telah terpenuhi.

c. Carl Rogers

Menurut rogers, ada dua tipe pelajar, yaitu kognitif (kebermaknaan) dan experiential (pengalaman). Guru memberikan makna (kognitif) bahwa tidak membuang sampah sembarangan dapat mencegah terjadinya banjir. Jadi, guru perlu menghubungkan pengetahuan akademik (kognitif) ke dalam pengetahuan terpakai (kebermaknaan). Sementara experiental learning melibatkan siswa secara personal, berinisiatif, termasuk penilaian terhadap diri sendiri (self assessment).

Menurut Rogers guru perlu memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, sebagai berikut:

  • Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya karena tiap siswa memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
  • Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya sehingga guru perlu membuat bahan pelajaran sistematis untuk mempermudah pemahaman dan meningkatkan kebermaknaan bagi siswa.
  • Belajar bermakna diartikan sebagai belajar tentang proses, bukan hanya hasil akhir.

d. David Krathwohl dan Benjamin Bloom

Selain tokoh-tokoh diatas, Bloom dan Karthwohl juga termasuk penganut aliran humanis. Mereka lebih menekankan perhatiannya kepada apa yang seharusnya dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar), setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Thobroni, M. 2015. “BELAJAR DAN PEMBELAJARAN: Teori Praktik”. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

Suprihatiningrum, Jamil.2013.”STRATEGI PEMBELAJARAN: Teori Aplikasi”. Jogjakarta:AR-RUZZ MEDIA.

Mahmud, saifudin. Muhammad idham. 2019.”teori pembelajaran”. Banda Aceh: syi’ah Kuala University Press.

Haryati; sri.”BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERBASIS COOPERATIVE LEARNING”. Graha Cendekia.