Skip to main content

Ciri Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja)

Daftar Isi [ Tampil ]
Ahlussunnah wal-Jama'ah

Ahlussunnah wal-jama’ah (Aswaja) adalah golongan atau kelompok yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat baik dalam bidang syari’at, tasawuf maupun aqidah. Ajaran Aswaja adalah satu di antara banyaknya aliran dan sekte yang bermunculan dalam tubuh Islam.

Di bidang aqidah atau tauhid dalam memurnikan iman umat muslim agar sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, Aswaja mengikuti dua rumusan dari ulama’ salaf yaitu, Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.

Baca juga: Apa itu Aswaja ?

Di bidang fiqih, Aswaja mengikuti salah satu dari empat madzab imam yang mu’tamad atau dapat dipercaya akan keilmuan dan kemahirannya, yaitu Imam Abu Hanifah an-Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan dalam bidang tasawuf, Aswaja mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali serta imam-imam lainnya.

Ciri Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja) adalah sebagai berikut :

Dalam perkembangan sejarah umat Islam, terdapat beberapa aspek yang membedakan ajaran Aswaja dengan kelompok lainnya. Di antara dari beberapa aspek tersebut adalah aspek politik.

Hal ini dapat dimaklumi, mengingat kelompok-kelompok klasik dalam Islam pada waktu itu, yaitu Syi’ah, Khawarij, dan Mu’tazilah, keseluruhannya mengusung isu politik, bahkan dalam ranah tertentu politik dikait-kaitkan dengan tauhid dan keimanan.

Baca juga: Sumber Dasar Ajaran Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah

Selain aspek politik, yang membedakan Aswaja dengan kelompok lainnya adalah aspek aqidah (teologi). Dalam aspek aqidah, Ahlussunnah wal-jama’ah meyakini bahwa Allah SWT itu tanpa arah dan tempat. Allah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ ١١

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”. (QS. Al-syura: 11).

Ayat tersebut dengan tegas menjelaskan tentang kesucian Allah secara absolut dari menyerupai makhluk-Nya.  Allah tidak membutuhkan tempat yang menjadi tempat-Nya dan tidak butuh arah yang menentukan-Nya. Mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah akal kita bisa menerima terhadap keberadaan sesuatu yang tanpa arah dan tempat ?

Jawabannya bisa, lebih jelasnya begini, Allah itu ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan). Artinya, tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya. Karena pada azal belum ada angin, matahari, arsy, langit, cahaya, kegelapan, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah.

Baca juga: Prinsip-Prinsip Ajaran Aswaja

Dengan demikian, berarti Allah itu ada sebelum terciptanya sesuatu apa pun, dan Allah juga tidak berubah dari wujud semulanya, yakni tetap ada tanpa arah dan tempat, karena berubah merupakan ciri dari sesuatu yang baru (makhluk). Jika akal kita bisa menerima bahwa Allah ada sebelum terciptanya arah dan tempat, tentu akal kita juga bisa menerima wujud-Nya Allah tanpa arah dan tempat setelah terciptanya tempat dan arah.

Keyakinan bahwa Allah tanpa arah dan tempat adalah konsensus Ahlussunnah wal-jama’ah sejak generasi ulama’ salaf yang shalih. Kelompok yang meyakini bahwa Allah ada di Arsy bukanlah Ahlussunnah waljama-ah, melainkan kelompok yang disebut sebagai kelompok Musyabbihah dan Mujassimah, yaitu kelompok yang mensifati Allah dengan tempat, padahal Allah itu maha suci dari tempat. Wallahu’alam.

Baca juga: Tantangan dalam Melestarikan Ajaran Aswaja

Demikianlah Ciri Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja) yang membedakan Aswaja dari kelompok-kelompok lainnya, sekian dan semoga bisa memberi manfaat bagi para pembaca.

Referensi: Navis, Abdurrahman, M. Idrus Ramli, dan Faris Khaoirul Anam. (2012). “Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah”. (Surabaya: Khalista).