Skip to main content

Isim, Fi'il, Huruf : Contoh, Tanda, dan Pengertiannya

Daftar Isi [ Tampil ]
Isim, Fi'il, dan Huruf

Isim, Fi'il, Huruf adalah pengelompokan kata atau kalimah dalam ilmu nahwu. Ketiga macam kalimah tersebut memiliki tanda dan pengertian yang berbeda. Bagi pemula yang mempelajari ilmu tata bahasa Arab, kalimah isim, kalimah fi'il dan kalimah huruf sangat penting untuk dipahami terlebih dahulu. Sebab, dalam menyusun suatu kalimat yang sempurna, kita membutuhkan komponen dari ketiga macam kalimah tersebut. Apa arti isim, fi'il, huruf ? apa saja tanda-tanda isim, fi'il dan huruf ? berikut penjelasannya.

Pengertian Kalimah Isim

Kalimah isim adalah kalimah yang menunjukkan suatu makna tertentu dan tidak terikat dengan waktu.

الاِسْمُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَ لَم تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ وَضْعًا

Sederhananya, kalimah isim merupakan kata benda (nomina). Dalam kaidah bahasa Arab semua jenis kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia baik bersifat konkret atau abstrak dikategorikan sebagai kalimah isim. Seperti nama seseorang, hewan, tumbuhan, tempat, dan semua hal yang bisa dibendakan. Akan tetapi ada pengecualian, yaitu kata kerja (verba) dan kata tugas. Seperti menulis, membaca, belajar, untuk, oleh, dan, kepada.

Contoh kalimah isim : فَاطِمَةُ (Fatimah), أَسَدٌ (Singa), نُوْرٌ (Cahaya), زَهْرَةٌ (Bunga).

Baca juga : Pembagian Kalimah Isim dalam Bahasa Arab

Tanda-tanda Kalimah Isim

Adapun tanda-tanda kalimah isim, Imam Ibnu Malik telah berkata dalam nadzamnya yang berbunyi :

بِالجَرِّ وَ التَّنْوِيْنِ وَ النِّدَا وَ أََل  |  وَ مُسْنَدٍ لِلْاِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَل

Dari keterangan bait nadzam di atas, tanda-tanda kalimah isim yaitu :

  1. Dengan i'rab jer,
  2. Bertanwin,
  3. Menjadi munada,
  4. Kemasukan alif+lam,
  5. Menjadi musnad ilaih.

1. Patut di i'rabi dengan i'rab jer

Tanda-tanda kalimah isim yaitu patut di i'rabi dengan i'rab jer (بالجرّ), baik dengan huruf (بالحرف), penyandaran (بالإضافة), atau mengikuti kepada kalimah yang terjatuh sebelumnya (بالتّابع).

Contoh isim dengan i'rab jer :

  • بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang).

Pada contoh isim di atas, lafadz بسم dibaca jer sebab dimasuki huruf jer ba' (ب), lafadz اللّه dibaca jer sebab menjadi mudlaf ilaih, dan lafadz الرّحمن الرّحيم dibaca jer sebab menjadi sifat dari lafadz اللّه.

2. Kemasukan tanwin

Kalimah isim dapat diketahui dengan tanda tanwin atau patut kemasukan tanwin. Secara bahasa tanwin adalah bunyi atau suara. Sedangkan secara istilah tanwin adalah nun sukun yang seakan-akan berada pada akhir isim secara pengucapannya, tetapi pisah atau hilang ketika dituliskan dan diwaqofkan.

Dalam ilmu nahwu, tanwin yang menjadi tanda kalimah isim dibagi menjadi 4 macam, yaitu tanwin tamkin, tanwin tankir, tanwin muqobalah, dan tanwin iwadl.

Contoh isim dengan tanwin :

  • رَجُلٌ (orang laki-laki), أَبٌ (bapak).

Baca juga : Pengertian Tanwin dan Pembagiannya dalam Ilmu Nahwu

3. Kemasukan huruf nida'

Termasuk tanda kalimah isim yaitu kemasukan huruf nida' atau menjadi munada. Karena kalimah-kalimah yang bisa dimasuki huruf nida' hanyalah kalimah isim. Tanda ini menjadi tanda yang khas bagi kalimah isim itu sendiri.

Contoh isim kemasukan huruf nida' :

  • يَا مُحَمَّدُ (wahai Muhammad).

4. Kemasukan al ta'rif

Al ta'rif adalah al (ال) yang berfungsi untuk mema'rifatkan suatu kalimah. Dengan begitu, jika kalimah isim ditandai dengan al ta'rif ini, maka statusnya berubah dari yang semula nakirah menjadi ma'rifat.

Baca juga: Al Ta'rif dalam Ilmu Nahwu

Contoh isim kemasukan al ta'rif :

  • رَجُلٌ (bersifat umum) ketika dimasuki ال menjadi الرَّجُلُ (bersifat tertentu).

5. Menjadi musnad ilaih

Artinya yang disandarkan kepadanya, yaitu musnad (sandaran atau yang menjadi sandaran), kemudian kaitan keduanya disebut sebagai isnad. Sederhananya, yang disebut sebagai subyek dan predikat dalam bahasa Indonesia.

Contoh isim menjadi musnad ilaih :

  • نَصَرَ خَالِدٌ / خَالِدٌ نَصَرَ (Khalid menolong / Khalid orang yang menolong).

Pada contoh tersebut kedudukan خالد sebagai musnad ilaih, dan نصر sebagai musnadnya.

Pengertian Kalimah Fi'il

Kalimah fi'il adalah kalimah yang menunjukkan suatu makna tertentu dan terikat oleh waktu.

الفِعْلُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِى نَفْسِهَا وَ اقْتَرَنَتْ بِزَمَانٍ وَضْعًا

Secara leksikal, fi'il adalah kata kerja (verba). Akan tetapi, kata kerja dalam bahasa Arab berbeda dengan kata kerja dalam bahasa Indonesia yang kita pahami selama ini. Perbedaannya terletak pada waktu, jika dalam bahasa Arab kalimah fi'il (kata kerja) terikat oleh waktu, maka kata kerja dalam pengertian bahasa Indonesia tidak terikat oleh waktu.

Contoh fi'il : يَأْكُلُ (sedang/akan makan).

Pada contoh kalimah fi'il tersebut, keterangan waktu sudah dijelaskan pada fi'il yang bersangkutan. Berbeda dengan kata kerja dalam bahasa Indonesia, yang membutuhkan kata lain untuk menjelaskan waktu suatu pekerjaan yang dilakukan. Seperti kata "sedang makan", untuk menunjukkan waktu "makan" membutuhkan kata lain yaitu "sedang".

Baca juga: Macam-macam Fi'il Beserta Cirinya

Tanda-tanda Kalimah Fi'il

Adapun tanda-tanda kalimah fi'il yaitu :

  1. Bertemu ta' fa'il,
  2. Bertemu ta' ta'nis sakinah,
  3. Bertemu ya' fa'ilah,
  4. Kemasukan nun taukid.

بِتَا فَعَلْتَ وَ أَتَتْ وَ يَفْعَلِى  |  وَ نُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْلٌ يَنْجَلِى

1. Bertemu ta' fa'il atau ta' mutaharrik

Tanda kalimah fi'il yaitu patut bertemu dengan ta' fa'il atau ta' mutaharrik, isyaroh bait ‘‘بتاء فعلت’’. Ta' fa'il adalah ta' berharakat yang menunjukkan pelaku suatu pekerjaan, yang terletak pada akhir fi'il madhi. Jika ta' fa'il berharakat dhammah untuk mutakallim (تُ), jika berharakat fathah untuk mukhotob (تَ), jika berharakat kasrah maka untuk mukhotobah (تِ).

تَاءُ الفَاعِلِ هِيَ الضَّمِيْرُ المُتَحَرِّكُ الَّذِيْ يُلْحَقُ بِآخِرِ الفِعْلِ المَضِي وَ هِىَ المَضْمُومَةُ لِلْمُتَكَلِّمِ وَ المَفْتُوْحَةُ لِلْمُخَاطَبِ وَ المَكْسُوْرَةُ لِلْمُخَاطَبَةِ

Contoh fi'il bertemu ta' fa'il/mutaharrik :

  • نَصَرْتُ خَالِدًا (saya telah menolong Khalid).
  • ضَرَبْتَ زَيْدًا (kamu (lk) telah memukul Zaid).
  • أَكَلْتِ خُبْزِى (kamu (pr) telah memakan rotiku).

2. Bertemu dengan ta' ta'nits sakinah

Tanda kalimah fi'il yang kedua adalah bertemu dengan ta' ta'nis sakinah, isyaroh bait ‘‘و أتت’’. Yaitu ta' yang menunjukkan jenis kelamin wanita.

Contoh fi'il bertemu ta' ta'nits :

  • قَرَئَتْ كِتَابًا (dia (pr) membaca buku/kitab).

Penyebutan kata sukun (الساكنة) pada ta' ta'nis dimaksudkan untuk membedakan dengan ta' ta'nis berharokat yang bisa masuk pada kalimah isim dan kalimah huruf.

Contoh ta' ta'nits berharakat :

  • هٰذِهِ مُسْلِمَةٌ (ini orang Islam (pr)), وَلَاتَ سَاعَةَ مَنْدَمِ (tidak ada waktu penuh penyesalan).

3. Bertemu ya' fa'ilah

Ya' fa'ilah adalah tanda kalimah fi'il yang berfungsi untuk menunjukkan jenis kelamin wanita, isyaroh bait ‘‘وياء إفعلى’’. Jenis ya' ini dapat kita temuakan pada fi'il amr dan fi'il mudlari'.

Contoh fi'il bertemu ya' fa'ilah :

  • تَعَلَّمِي (belajarlah (pr)), يَفْتَحِيْنَ بَابًا (engkau (pr) akan membuka gerbang).

4. Bertemu nun taukid

Tanda fi'il yang terakhir yaitu patut bertemu dengan nun taukid, isyaroh bait ‘‘و نون أقبلنّ’’, baik itu nun taukid tsaqilah (berat), yaitu nun taukid yang berat saat diucapkan sebab bertasydid, dan nun taukid khafifah (ringan), yaitu nun taukid yang ringan saat diucapkan sebab tidak bertasydid. Nun taukid ini mempunyai fungsi sebagai pentaukid atau penguat kalimah yang dimasukinya.

Contoh fi'il bertemu nun taukid :

  • لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ (pasti kami akan mengusirmu wahai syu'aib), لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ (sungguh kami akan tarik ubun-ubunnya).

Pengertian Kalimah Huruf

Kalimah huruf adalah kalimah yang bisa mempunyai makna sebab disambung dengan kalimah lainnya. Artinya jika tidak disambung dengan kalimah lain, maka kalimah huruf tidak mempunyai arti apa-apa.

الحَرْفُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي غَيْرِهَا

Tanda-tanda Kalimah Huruf

Adapun tanda-tanda kalimah huruf yaitu tidak adanya tanda-tanda dari kalimah isim dan fi'il. Seperti ba' huruf jer, yang sama sekali tidak memiliki tanda-tanda dari kalimah isim dan fi'il, maka patut disebut sebagai kalimah huruf. Contoh lainnya seperti huruf لَمْ, yaitu huruf yang masuk pada fi'il, yang berfungsi menjazemkan fi'il. Disebut kalimah huruf sebab tidak adanya indikasi isim dan fi'il yang diperlihatkannya. Dan lain-lain.

Pembagian Kalimah Huruf dalam Ilmu Nahwu

Dalam kaidah ilmu nahwu, kalimah huruf dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Kalimah huruf mukhtash (khusus),
  2. Kalimah huruf ghairu mukhtash (umum).

1. Huruf mukhtash (khusus)

Adalah kalimah huruf yang bersifat khusus pada suatu kalimah tertentu. Kalimah huruf jenis ini kemudian dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu khusus masuk pada isim (mukhtash bil ismi) seperti مِنْ، إِلى، فِي، عَنْ، عَلَى, dan khusus masuk pada fi'il (mukhtash bil fi'li), seperti لَمْ، لَنْ، كَي، لَمَّا، إِذَنْ.

Contoh huruf mukhtash :

  • أُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ (tuntutlah ilmu dari mulai lahir sampai ke liang lahad (meninggal).
  • لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدُ ((Allah) tidak beranak dan tidak melahirkan pula).

2. Huruf ghairu mukhtash

Adalah huruf yang dapat masuk baik pada kalimah isim maupun kalimah fi'il. Seperti هَلْ dan ثُمَّ. Kedua kalimah huruf tersebut dapat masuk pada isim dan fi'il, tidak dikhususkan harus masuk pada kalimah tertentu seperti halnya huruf jer فِى.

Contoh huruf ghairu mukhtash :

  • هَلْ أَقْرَأُ عَلَيْهَا مِنْكَ السَّلَامَ ؟ (Maukah kusampaikan salammu kepadanya?).

Demikianlah penjelasan seputar pengertian kalimah isim, fi'il, huruf dan tandanya. Semoga apa yang saya tulis ini bisa membantu para pembaca dalam memahami kaidah-kaidah bahasa Arab. Sekian dan terima kasih atas kunjungannya.