Skip to main content

SEJARAH TERBENTUKNYA FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM

Daftar Isi [ Tampil ]

SEJARAH TERBENTUKNYA FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM - Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, beberapa teman dekat membaiat Ali jadi Khalifah. Ini karena Ali ialah salah satu dari 6 calon yang dipilih oleh Khalifah Umar saat sebelum meninggal dunia dan mendapatkan suara yang serupa dengan Utsman. Sayang, orang-orang yang turut serta dalam pembunuhan Utsman ikut juga berbaiat pada kekhalifahan Ali. Ini memunculkan fitnah di kelompok beberapa teman dekat. Apa lagi beberapa teman dekat menginginkan beberapa aktor pembunuhan Khalifah Utsman diadili dulu saat sebelum pembaiatan khalifah yang baru.

Legalitas kekhalifahan Ali tidak capai 100 % dari umat Islam waktu itu. Ini dipakai oleh beberapa orang yang tidak inginkan persatuan umat Islam untuk mengadu domba umat sampai terjadi Perang Jamal (perang unta). Parang Jamal ialah perang di antara Sayyidina Ali karramallahu wajhah dengan Sayyidatina Aisyah ummul mukminin radliyallahu ‘anha. Disebutkan dengan perang Jamal karena Aisyah memakai Unta. Kecuali perang Jamal, ada juga Perang Siffin.

Perang Siffin ialah perang di antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Mu'awiyyah. Dalam Perang Siffin itu pasukan Ali nyaris memenangi peperangan. Namun, atas gagasan Amr bin Ash, pasukan Mu'awiyah selanjutnya ajak lakukan tahkim (nyaman) dengan mengusung mushaf. Atas tekanan beberapa qurra', Khalifah Ali menyepakati tahkim itu. Lantas dilaksanakanlah perbincangan oleh ke-2 faksi. Faksi Mu'awiyah diwakilkan oleh Amr bin Ash sedang faksi Ali diwakilkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari.

Dari hasil perbincangan dari ke-2 tim itu ialah penempatan kedudukan dari tiap-tiap faksi, baik Ali atau Mu'awiyah. Ke-2 nya juga setuju untuk umumkan hasil perbincangan itu ke khalayak. Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa Al-Asy'ari untuk bicara lebih dulu dengan argumen Abu Musa Al-Asy'ari lebih tua darinya. Sebagai seseorang yang bertakwa dan stabil pada kesepakatan, Abu Musa umumkan penempatan posisi Khalifah yang digenggam oleh Ali. Saat Amr bin Ash mendapatkan gantian untuk umumkan hasil perbincangan, rupanya dia menjelaskan yang lain dari persetujuan. Sebab Ali menempatkan kedudukan, maka Muawiyahlah yang naik kedudukan. Pasti ini benar-benar bikin rugi faksi Ali. Ali juga malas melepas posisinya sampai terbunuh.

Tahkim Shiffin ini memunculkan kekesalan besar pada pihak Ali. Bahkan juga beberapa penganut Ali keluar dari barisan Ali. Mereka yang disebutkan Khawarij. Menurut Khawarij, baik Muawiyah atau Ali keduanya bersalah. Muawiyah dipandang merebut posisi Khalifah yang dipunyai Ali sedang Ali bersalah karena menyepakati tahkim walau sebenarnya ia pada pihak yang betul. Kelompok yang ke-2 ialah kelompok Syi'ah. Kelompok syi'ah ialah kelompok simpatisan Ali. Dan kelompok yang ke-3 ialah kelompok Jumhur. Dari sini Islam pecah jadi banyak sekte.

Baca juga : Ciri Ahulussunnah wal-Jama'ah (Aswaja)