Skip to main content

Education | Pengertian Pendidikan dan Komponen-Komponen Pendidikan

Daftar Isi [ Tampil ]
Pengertian Pendidikan dan Komponen Pendidikan
Education

Pengertian Pendidikan dan Komponen Pendidikan - Dalam situasi belajar serta proses pembelajaran, supaya siswa dengan aktif meningkatkan kapasitas pribadinya untuk mempunyai kapasitas religius keagamaan, pengaturan diri, personalitas, kepandaian, adab mulia, dan ketrampilan yang dibutuhkan pribadinya & warga.

Pendidikan mencakup edukasi ketrampilan khusus dan satu hal yang tidak bisa disaksikan tapi lebih mendalam yakni pemberian pengetahuan, penilaian dan kebijakan.

Pengertian Pendidikan

Menurut KBBI, pendidikan merupakan proses perubahan sikap serta tata laku pribadi / golongan orang dalam upaya mendewasakan manusia melalui usaha edukasi & training.

Pemahaman pendidikan secara etimologi berawal dari bahasa Latin yakni educatum yang tersusun dari 2 kata yakni Edu dan Catum di mana kata Edu maknanya suatu kemajuan dari dalam diri ke arah keluar, sedangkan Catum bermakna meningkatkan atau tengah berkembang.

Maka Pengertian Pendidikan Secara Etimologi ialah proses meningkatkan kapabilitas diri kita dan kemampuan pribadi.

Kata pendidikan berawal dari kata DIDIK dan mendapatkan sisipan PE dan akhiran AN, jadi kata ini yang maknanya proses atau langkah untuk mendidik.

Pendidikan ialah satu usaha mengemban evaluasi pengetahuan, ketrampilan, dan rutinitas sekumpulan orang yang diturunkan dari 1 angkatan ke angkatan selanjutnya lewat edukasi, training, atau riset.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara (1889-1959) menerangkan mengenai pemahaman pendidikan yaitu: "Pendidikan biasanya bermakna daya usaha untuk mengingkatkan budi pekerti (watak, kemampuan batin), pemikiran (intellect) & jasmani anak-anak selaras dengan alam & penduduknya.

Penddikan menurut Aristoteles

Menurut Aristoteles "Education is a function of the State, and is conducted, primarily at least, for the ends of the State.State- highest social institution which secures the highest goal or happiness of man. Education is preparation for some worthy activity. Education should be guided by legislation to make it correspond with the results of psychological analysis, and follow the bertahap development of the bodily and psikis facultie".

Kurang lebih maknanya: pendidikan yaitu satu diantara peranan dari suatu negara, dan dilaksanakan, terutama sekurang-kurangnya, untuk tujuan Negara tersebut. Negara ialah lembaga sosial paling tinggi yang mengamankan arah paling tinggi atau kebahagiaan manusia. Pendidikan ialah persiapan/bekal untuk sejumlah rutinitas/pekerjaan yang pantas. Pendidikan seharusnya dituntun oleh undang- undang untuk membuatnya sesuai (koresponden) dengan hasilan alisis psikis, dan mengikuti perubahan secara kontinyu, baik secara fisik (lahiriah) / psikis (batiniah/jiwa).

Pendidikan menurut Kemdikbud

Menurut Kemdikbub, pemahaman pendidikan pada umumnya ialah usaha-usaha yang dilaksanakan secara sadar & terkonsep untuk merealisasikan kondisi belajar & mekanisme penilaian untuk anak atau peserta didik dengan aktif menumbuhkan kapabilitas yang ada dalam diri seseorang untuk menumbuhkan pengetahuan religius, langkah pengaturan diri, kapasitas kepandaian, nilai-nilai personalitas, adab dan ketrampilan.

Pendidikan menurut Qadry Azizy

Qodry Azizy (2002:18) mendeskripsikan jika pendidikan "the process of training and developing the knowledge, skill, mind, character, etc, especially by formals chooling" yaitu proses melatih & meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, pemikiran, sikap, dsb, khususnya oleh sekolah resmi.

Pendidikan di dalam UU No. 2 Tahun 1989

Di dalam UU No.2 Tahun 1989 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mempersiapkan peserta didik lewat aktivitas tuntunan, edukasi atau latihan untuk peranannya di periode mendatang.

Pendidikan di dalam UU No. 2 Tahun 2003

Sedang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem pendidikan Nasional bahwa pendidikan merupakan upaya sadar & terkonsep untuk merealisasikan situasi belajar & proses evaluasi agar siswa secara aktif meningkatkan kemampuan pribadinya untuk mempunyai kekuatan religius keagamaan, pengaturan diri, personalitas, kepandaian, adab mulia, dan ketrampilan yang dibutuhkan pribadinya, warga, negara dan bangsa.

Komponen-Komponen Pendidikan

Pada proses pendidikan, benar-benar dibutuhkan terdapatnya komponen2 pendidikan. Komponen itu bermakna sisi dari suatu mekanisme yang mempunyai peranan pada terjadinya proses untuk menggapai suatu arah yang menentukan sukses & tidaknya atau ada & tidaknya proses pendidikan.

Bidang pendidikan terhitung rumpun pengetahuan tabiat, terutamanya suatu rumpun pengetahuan yang membahas rutinitas manusia. Dalam hubungan ini, cakupan pengkajian rutinitas manusia sangat luas, yaitu meliputi rutinitas manusia sebagai pribadi atau kelompok, sebagai kesatuan etnis, bangsa atau ras, dalam cakupan geografis, administratif atau sosial budaya, dalam unit organisasi, lembaga pemerintah, terkait dengan aktivitas ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, keamanan, keagamaan, dan kesejahteraan warga.

1. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan merupakan satu hal yang ingin diraih oleh instansi pengajaran lewat satu aktivitas pengajaran. Tujuan pendidikan ini dilandasi oleh karakter pengetahuan pengajaran yang ringkas & normatif.

Pengetahuan pengajaran sebagai ilmu & pengetahuan normatif yakni merangkum aturan, etika & ukuran tingkah.

Sedangkan ilmu dan pengetahuan praktis, tugas pendidikan dalam masalah ini ialah menancapkan mekanisme etika perilaku yang dijunjung tinggi instansi pendidikan di masyarakat lewat beberapa pendidik.

Tujuan pendidikan bisa disaksikan dalam kurikulum yang terjabar dimulai dari:

  • Tujuan nasional, ialah tujuan yang ingin diraih oleh bangsa sama seperti yang tercantum pada pembukaan UUD 1945.
  • Tujuan institusional, ialah arah yang ingin diraih oleh satu instansi pendidikan.
  • Tujuan kurikuler, ialah arah yang ingin diraih oleh setiap sektor study pelajaran/matkul.
  • Tujuan intrukisonal, ialah arah yang ingin diraih oleh suatu standard kapabilitas dan kapabilitas basic.

Dengan penjelasan itu, bisa nampak jika tujuan pengajar atau guru dalam evaluasi dikelas terkait dengan tujuan pendidikan nasional yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945.

2. Peserta Didik

Kemajuan ide pengajaran yang tidak terbatas pada umur sekolah saja memberi resiko pada pemahaman peserta didik.

Jika dahulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada umur sekolah, karena itu saat ini peserta didik bisa saja termasuk juga di dalamnya orang dewasa.

Mendasarkan pada pertimbangan tersebut karena itu ulasan peserta didik semestinya bersumber pada 2 hal tersebut.

Masalah yang terkait dengan peserta didik berkaitan dengan karakter atau sikap anak didik disampaikan oleh Langeveld;

Anak tidaklah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh karenanya anak mempunyai karakter kodrat kekanakan yang berlainan dengan karakter pokok kedewasaan. Anak mempunyai sikap menggantungkan diri, memerlukan bantuan dan tuntunan baik jasmaniah ataupun rohaniah.

Karakter dasar manusia dalam pengajaran ia menyampaikan anak didik harus dianggap sebagai makhluk individualitas, sosialitas serta moralitas. Manusia sebagai makhluk yang perlu dididik dan mendidik.

Berkenaan dengan masalah anak didik di sekolah, Amstrong1981 menyampaikan beberapa masalah anak didik yang perlu diperhitungkan dalam pengajaran.

Masalah itu meliputi apa latar belakang budaya warga peserta didik? bagaimana tingkat kapabilitas anak didik? hambatan-hambatan apa yang dirasa oleh anak didik di sekolah? dan bagaimana penguasaan bahasa anak di sekolah?

Berdasar pada masalah itu perlu diciptakan pengajaran yang memerhatikan ketidaksamaan individu, perhatian khusus terhadap anak yang mempunyai abnormalitas, dan penanaman sikap serta tangggungjawab pada anak didik.

3. Pendidik

Pendidik ialah orang yang memikul tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan target peserta didik. Oleh sebab itu munculah beberapa pribadi yang termasuk pada pendidik. Guru sebagai pendidik dalam instansi sekolah, orang tua sebagai pendidik di lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal atau informal sebagai pendidik dalam lingkungan masyarakat.

Berkenaan dengan hal tersebut Syaifullah (1982) mendasarkan pada rancangan pendidikan sebagai tanda-tanda kebudayaan, yang terhitung kelompok pendidik yaitu:

a) Orang dewasa

Orang dewasa selaku pendidik didasari oleh karakter umum personalitas orang dewasa, seperti disampaikan oleh Syaifullah yakni sebagai berikut ini:

  • Manusia yang mempunyai pandangan hidup, pedoman hidup yang jelas serta tetap.
  • Manusia yang sudah mempunyai arah hidup / harapan hidup tertentu, termasuk harapan untuk mendidik.
  • Manusia yang mahir menentukan batin sendiri atau tindakannya sendiri serta yang bakal dipertanggungjawabkan sendiri.
  • Manusia yang sudah mahir menjadi anggota masyarakat secara bermanfaat serta aktif penuh gagasan.
  • Manusia yang sudah sampai usia kronologis paling rendah 18 tahun.
  • Manusia beradab mulia & memiliki badan sehat.
  • Manusia yang berani & terampil hidup memiliki keluarga.
  • Manusia yang berpribadi yang utuh & bundar.

b) Guru/pendidik

Guru selaku pendidik di sekolah yang secara langsung atau tak langsung mendapatkan pekerjaan dari orangtua / masyarakat untuk menjalankan pendidikan.

Karenanya, posisi guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik syarat individu ataupun syarat jabatan.

Syarat individu didasari pada ketetapan yang berkaitan dengan nilai dari perilaku yang diyakini, kapabilitas cendekiawan, sikap serta emosional. Syarat jabatan (karier) berkaitan dengan pengetahuan yang dipunyai baik yang terkait dengan pesan yang ingin dikatakan atau langkah penyampaiannya, serta mempunyai filsafat pendidikan yang bisa dipertanggung jawabkan.

c) Pimpinan kemasyarakatan, dan pimpinan keagamaan

Tidak hanya orang dewasa, orang-tua & guru, pimpinan masyarakat & pimpinan keagamaan merupakan pendidik juga. Peranan pimpinan masyarakat menjadi pendidik didasari pada aktivitas pimpinan dalam melangsungkan pembimbingan / tuntunan ke anggota yang dipimpin.

Pimpinan keagamaan sebagai pendidik, terlihat pada aktivitas pembimbingan atau peningkatan karakter kerohanian manusia, yang didasari pada nilai- nilai keagamaan.

4. Hubungan Edukatif Pendidik dan Anak Didik

Proses pendidikan dapat terjadi jika ada hubungan di antara beberapa komponen pendidikan. Khususnya hubungan di antara pengajar dan anak didik.

Hubungan pengajar dengan anak didik mempunyai tujuan untuk menggapai arah pengajaran yang diharapkan. Perlakuan yang dilaksanakan pengajar dalam hubungan itu kemungkinan berbentuk perlakuan berdasar pada kewibawaan, perlakuan berwujud alat pendidikan, dan sistem pendidikan. Pendidikan berdasar pada kewibawaan bisa diilustrasikan dalam kejadian edukasi di mana seorang guru sedang memberi pengajaran, di antara beberapa siswa membuat suatu yang mengakibatkan terusiknya jalan edukasi. Selanjutnya guru itu memberi peringatan atau menegur, maka beliau ini sudah melakukan perbuatan berdasar pada kewibawaan.

Dengan begitu perlakuan yang berdasar pada kewibawaan yakni bersumber dari orang dewasa sebagai pendidik, untuk menggapai tujuan pendidikan (tujuan kesusilaan, sosial dan sebagainya) (Syaifullah,1982).

5. Isi Pendidikan

Isi pendidikan mempunyai hubungan yang kuat dengan arah pendidikan. Untuk menggapai arah pendidikan butuh diungkapkan ke peserta didik isi atau bahan pelajaran yang dipakai sebagai dasar penyelengaraan aktivitas evaluasi yang umumnya disebut kurikulum dalam pendidikan formal.

Beberapa macam isi pendidikan itu terbagi dalam pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan intelektual, pendidikan ketrampilan & pendidikan jasmani.

6. Alat dan Sarana Pendidikan

Alat dan sarana pendidikan benar-benar diperlukan dalam memberikan dukungan proses pendidikan. Dengan adanya sarana pendidikan, maka proses bakal berjalan secara lancar hingga tujuan pendidikan makin lebih gampang digapai. Contoh alat dan sarana pendidikan antara lain ialah ruangan kelas, lapangan upacara, laboratorium komplet dengan beberapa alat eksperimenya, internet di ruang cakupan sekolah, lapangan olahraga, tempat beribadah, perpustakaan, WC sekolah, kantin Sekolah, ruangan UKS, dan lain-lainnya.

7. Lingkungan Pendidikan

Lingkungan pendidikan ialah satu tempat di mana pendidikan dijalankan. Lingkungan pendidikan mencakup segala sisi kehidupan / kebudayaan.

Lingkungan pendidikan bisa berwujud benda2, orang2, situasi-situasi, dan peristiwa-peristiwa yang ada disekitar peserta didik yang dapat memberi dampak pada kemajuannya, baik langsung ataupun tidak langsung, baik menyengaja / tidak disengaja.

Terdapat tiga pusat lingkungan pendidikan, mencakup lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Related: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Peranan Lingkungan Pendidikan

KESIMPULAN

Pendidikan ialah pembentukan personalitas, peningkatan kapabilitas atau kapasitas yang harus ditingkatkan dari yang belum tahu menjadi tahu.

Ada 3 Elemen utama yang berpeluang terjadinya proses pendidikan:

  1. Peserta didik.
  2. Pendidik.
  3. Materi yang bakal dikasihkan & isi pendidikan.

Elemen lain seperti alat & sarana pendidikan, lingkungan pendidikan berperanan menjadi elemen pendukung. Walau tiga elemen pokok sudah disanggupi sebagai persyaratan utama berlangsungnya proses pendidikan, tetapi elemen pendukung lainnya berperanan penting. Sebab dengan begitu, pengajar bisa mengalirkan ilmunya dengan optimal dan peserta didik bisa menerima materi evaluasi secara baik.

Sumber: M. Rizqon Najib, dkk. 2020. "Pengertian dan Komponen Pendidikan". Makalah