Skip to main content

Kisah Cinta Ulama Sufi Penuh Hikmah

Daftar Isi [ Tampil ]
Kisah Cinta Ulama Sufi

Kisah Cinta Ulama Sufi Penuh HikmahDikisahkan bahwa Hasan Basri ialah seorang kiai yang memiliki wajah sangat tampan, selalu mengenakan pakaian rapi, bersih dan berpembawaan menarik pada periode mudanya, karakternya juga menarik.

Suatu hari ia berekreasi, jalan-jalan keliling kota Basrah. Ternyata ia betah tinggal di kota itu. Berada di tepian jalan kota, dia menyaksikan perawan sunti pulang berbelanja dari pasar menyalip langkahnya.

Perawan itu elok, badannya singset, sintal juga. Sebagai perawan yang sopan, dia juga meminta ijin kepada orang yang didahuluinya.

"Mari mas" suara gadis itu lirih, sambil memandang kiai dengan manisnya senyuman.

Tak tahu mengapa, mendadak badan Hasan Basri bergetar, detak jantungnya semakin kencang, hatinya juga resah. Dia bertanya dalam diri sendiri, "inikah yang namanya getaran cinta ?", dia berhenti sesaat. Pikirannya mulai dihantui oleh kecantikan dan keelokan mata gadis yang sudah menyapanya. Saat itu juga dia jatuh cinta kepadanya. Karena itu, dia lantas membuntutinya, sampai gadis itu masuk rumah. Perawan itu tahu ada pemuda tampan yang sudah membuntutinya.

Gadis itu keluar dari di rumah, lalu Hasan Basri melihat sembari tetap berdiri di depan tempat tinggalnya.

"Mengapa kanda membuntutiku sampai sini ?", tanya perawan elok itu.

"Sungguh saya tertarik dengan keindahan matamu", jawab Hasan Basri.

"Jika demikian, pulanglah ke rumahmu, biar kelak saya tiba padamu". Sahut gadis itu sembari masuk ke dalam tempat tinggalnya.

Rupanya gadis elok itu sudah tahu alamat rumah Hasan Basri. Hasan Basri pun pulang penuh kegirangan. Dia begitu yakin jika cintanya tak kan bertepuk sebelah tangan, dan gadis elok itu pasti membalas cintanya. Dia membayangkan jika dia dan gadis itu bisa menjadi pasangan yang abadi. Ia gadis yang tidak sekadar elok, tapi juga keibuan. Sedang dirinya seorang yang tampan dan kebapakan.

Setelah tiba di dalam rumah, dia lekas membersihkan ruang tamu dan tempat tidurnya. Dia berpikiran jika gadis itu akan selekasnya tiba. Hatinya berdebar, gairah syahwatnya menggelora, nyaris tidak dapat meredamnya. Hasan Basri duduk di kursi depan, menanti kehadiran gadis itu dengan penuh harapan.

Selang beberapa saat, hadirlah seorang wanita yang membawa nampan yang tertutupi dengan sepotong kain yang indah. Hasan Basri menyangka, wanita itu membawa suatu hal untuk pertemuannya kelak. Bisa jadi , itu hadiah dari gadisnya.

"Saudari tiba ke sini ada kepentingan apa ?" Tanya Hasan Basri.

"Saya diutus Tuan Putriku untuk membawakan hadiah yang Anda pesan" Jawab ia, sembari memberikan bawaannya.

Hasan Basri pun menerima nampan itu, dan lekas membuka penutupnya. Betapa kagetnya Hasan Basri menyaksikan isi nampan itu. 'Dua bola mata' yang berlumuran darah.

"Hai pelayan, bagaimana ini bisa terjadi ?" Tanya Hasan Basri.

"Sungguh, Tuan Putri bercakap jika beliau tidak mau seseorang terfitnah oleh keelokan matanya. Beliau terus mencukil ke-2 matanya, dan sekarang kukirim kepada Anda, yang ucapnya tertarik, dan menghendakinya."

Mendengar informasi wanita utusan gadis pujaannya, getaran badannya tiba-tiba berbeda, pupus saat itu juga. Wajahnya pucat, badannya juga lemas. Duduk bertumpu dinding sekalian mengelus-elus jenggot, dia mencemooh diri sendiri. Ucapnya dalam hati, "Nahas kamus Bas, dasar orang tidak tahu diri."

Peristiwa itu membuatnya merasa takut. Dia merasa ngeri memikirkannya. Pada akhirnya, dia menyesali tindakannya sendiri, dan bertobat kepada Allah Swt. Dia menangis semalam jemu.

Pagi harinya, Hasan Basri pergi ke rumah gadis itu untuk memohon maaf. Namun, pintu tempat tinggalnya tertutup, dan terdengar suara tangisan dari dalam. Lantas Hasan Basri bertanya kepada tetangga, rupanya gadis itu telah tiada.

Hasan Basri segera pulang dengan penuh duka cita. Hatinya berasa teriris-iris. Dia menangis sepanjang 3 hari 3 malam. Pada suatu malam, dia bermimpi menyaksikan gadis itu tengah berada di surga. Hasan Basri pun memohon maaf padanya.

"Telah kumaafkan kekeliruanmu, karena aku sudah mendapatkan kebaikan dari Allah lantaran tingkahmu" Jawab gadis itu.

Hasan Basri lalu meminta nasihatnya. Gadis itu pun menasihatinya, supaya dia selalu berzikir di tempat yang sepi, dan beristigfar saat malam yang sunyi. Karena mengikuti sarannya, Hasan Basri menjadi orang yang ahli beribadah. Karena kesabaran dan kesucian hatinya dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, dia terhitung golongan para sufi.

Hari demi hari berlalu, dirundung duka cita yang dalam, dia semakin telaten dalam melaksanakan ibadah. Cintanya terhadap Allah semakin meningkat, menaklukkan cintanya pada lainnya. Dia juga mencapai posisi yang tinggi dan menjadi golongan para Wali Allah SWT. Bahkan dia terhitung sufi yang paling alim di antara sahabat-sahabatnya seperti Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani.

Suatu hari, Hasan Basri merenungi nasib hidupnya yang masih sendirian. Sepanjang itu, ia masih mencari wanita yang kira-kira pas untuk menjadi teman hidupnya, setidak-tidaknya pribadi yang telaten melaksanakan ibadah. Lantas dia mendapatkan inspirasi untuk melamar seorang wanita yang tersohor telaten melaksanakan ibadah yang terhitung golongan para sufi, yakni Rabi'ah al-Adawiyah. Walau rendah diri untuk mendekatinya, dia pun nekat juga.

Berdialoglah Hasan Basri dengan sahabat karibnya, yaitu Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani. Masing-masing seorang sufi yang alim. Tetapi rupanya, ke-2 sahabatnya itu menyimpan hati yang serupa ke Rabi'ah al-Adawiyah. Pada akhirnya mereka bertiga pergi bersama ke rumah Rabi'ah al-Adawiyah. Tanpa basa-basi, ke-3 ulama' sufi kondang itu bertamu ke tempat tinggalnya. Sesudah masuk rumah, mereka duduk berjejer di bangku. Rabi'ah al-Adawiyah menjumpai mereka bertiga dibalik hijab.

Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani sepakat menunjuk Hasan Basri sebagai jubir. Mulailah Hasan Basri membuka diskusi cinta tingkat atas.

"Hai Rabi'ah, nikah itu terhitung salah satu sunah Nabi SAW., karena itu pilihlah satu di antara kami bertiga sebagai suamimu" Kata Hasan Basri membuka pembicaraan itu.

"Baik tuan-tuan, tapi sebelumnya saya ingin mengetahui di antara kalian bertiga yang paling alim".

"Hasan Basrilah yang paling alim di antara kita bertiga" Jawab Malik dan Tsabit.

"Saya akan menanyakan empat perkara yang sejauh ini saya pikirkan, jika tuan dapat menjawab, saya sanggup melayani tuan sebagai istri". Wanita sufi itu mengajukan syarat-syaratnya.

Mendengar persyaratan yang akan disodorkan Rabi'ah al-Adawiyah, Hasan Basri gemetar. Dia siap-siap untuk menjawab pertanyaan Rabi'ah dengan penuh konsentrasi.

"Bagaimana tuan Hasan ?" Tanya Rabi'ah.

"Baik saya siap, mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufik kepadaku untuk menjawab pertanyaanmu".

Mulailah Rabi'ah mengajukan pertanyaan pertama. "Menurut tuan, bila saya wafat kelak, apakah saya dalam keadaan iman atau tidak ?".

"Maaf, ini merupakan perkara gaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah". Kata Hasan Basri.

"Menurut tuan, di alam kubur kelak, saya bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir atau tidak ?" Pertanyaan ke-2 Rabi'ah.

"Maaf, itu juga termasuk perkara gaib, hanya Allah yang mengetahui". Jawab Hasan Basri.

"Menurut tuan, di hari catatan amal dibagi, saya terhitung golongan orang yang menerimanya dengan tangan kiri atau kanan ?", Tanya Rabi'ah.

"Sekali lagi maaf, itu juga termasuk perkara gaib, hanya Allah yang mengetahuinya". Jawab Hasan Basri.

Lalu Rabi'ah al-Adawiyah mengajukan pertanyaannya yang terakhir. "Menurut tuan, di hari kiamat nantinya, saya terhitung kelompok orang yang masuk neraka atau surga ?".

"Wah, itu juga termasuk perkara gaib, saya tidak mengetahuinya". Jawab Hasan Basri sembari menunduk.

Empat pertanyaan sudah diajukan, dan tidak satu juga yang terjawab olehnya, "Bagi orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan ini, bagaimana mungkin akan berpikir mengenai pernikahan ?". Nasihat Rabi'ah.

Mendengar kata-kata hikmah yang demikian dalam artinya, ke-3 ulama sufi itu termenung tidak bertingkah, hanya tenang sambil menundukkan kepala, seperti santri yang merenungi nasihat kiai.

Ternyata Rabi'ah al-Adawiyah belum puas sampai di situ saja, ia juga menanyakan dengan pertanyaan yang berbeda. "Hai tuan Hasan, ada berapakah akal yang dijadikan untuk manusia ?".

"Sepuluh, sembilan untuk pria dan satu lagi untuk wanita". Jawab Hasan Basri cepat.

"Baik, lalu berapa bagian Allah menciptakan nafsu manusia ?". Tanya Rabi'ah kembali.

"Sepuluh, sembilan untuk wanita dan satu untuk pria".

Hasan Basri merasa tenang sebab bisa menjawab dua pertanyaan dengan lancar. Rabi'ah al-Adawiyah kembali menanyakan, laksana pukulan telak yang mematikan untuk mereka.

"Ya tuan Hasan, dengan akalku yang cuman satu, saya dapat menaklukkan sembilan nafsuku, tapi mengapa tuan tidak sanggup menaklukkan nafsu yang cuman satu dengan akal tuan yang sembilan ?".

Baca juga: Kisah Lucu Abu Nawas Menipu Malaikat

Demikianlah kisah cinta Hasan Basri yang kandas. Dia selekasnya pulang dengan duka cita yang dalam. Dia tak kuasa lagi meredam butir-butir air mata, begitu pun ke-2 sahabatnya. Mereka merasa malu.