Skip to main content

Ilmu Nuzulul Qur'an | Apa itu Nuzulul Qur'an dan Sejarah Nuzulul Qur'an

Daftar Isi [ Tampil ]
Ilmu Nuzulul Qur'an

Secara bahasa Nuzulul Qur'an memiliki makna turunnya Al-Qur'an. Al-Qur'an merupakan kitab suci bagi umat Islam serta menjadi sumber tuntunan Islam yang pertama dan paling utama, yang wajib untuk kita imani dan terapkan di kehidupan, supaya kita mendapatkan kebaikan fi ad-dunya wa al-akhirah.

Tonggak sejarah timbulnya suatu hukum Islam diawali oleh turunnya Al-Qur'an untuk yang pertama kalinya. Ayat-ayat Al-Qur'an tidak di turunkan sekaligus secara keseluruhannya, namun secara perlahan-lahan sesuai dengan ketetapan yang ada.

Apa itu Nuzulul Qur'an ?

Dalam bahasa Indonesia Nuzul Al- Qur'an (نزول القران) disimpulkan sebagai proses turunnya Al-Qur'an perlu dimengerti secara seimbang supaya tidak terjadi pemahaman yang salah kalau turunnya Al-Qur'an memiliki ekuivalensi dengan proses turunnya benda atau materi.

Dalam relevansi turunnya Al-Qur'an kerap disebut dengan kalimat seperti nuzul (نزول), inzal (انزال), tanazzul (تنزل), tanzil (تنزيل), dan Munazzal (منزل) yang masing-masing bermakna turun, menurunkan, soal turun, proses yang diturunkan dan penurunan. Harus dipahami bersama, kalau tiap kata memiliki dua fungsi arti, yaitu arti dasar (harfiyah, etimologi) dan arti terminologi (relasional). Adapun arti-arti di atas tadi adalah fungsi arti dasar. Sedangkan arti relasionalnya sebagaimana berikut ini.

Az-Zarqani menerangkan jika kata nuzul memiliki arti dasar (peralihan sesuatu dari atas ke bawah) atau (suatu gerak dari atau ke bawah). Menurut beliau, dua batas itu memang tidak pantas diberikan untuk tujuan di turunkannya Al-Qur'an oleh Allah, sebab ke-2 nya cuma lebih pas dan wajar dipakai dalam soal yang terkait dengan tempat dan benda atau materi yang memiliki berat jenis ( BJ) tertentu.

Sedangkan Al-Qur'an bukan seperti benda yang membutuhkan tempat peralihan dari atas ke bawah baik Al-Qur'an yang terkait dengan kalimat-kalimat ghaib dan azali (Kalam Nafsi) atau Al-Qur'an yang berupa lafadz- lafadz yang memiliki kandungan I'jaz itu.

Jadi, Al-Qur'an tidak turun dari atas ke arah bawah. Yang betul yakni mengerti kalau kata nuzul itu memiliki sifat majazi, yaitu pengertian nuzul Al-Qur'an bukan tergambar dalam bentuk beralihnya Al-Qur'an, atau al-qur'an tersebut turun dari atas ke bawah, namun harus di ketahui sebagai pengetahuan kalau Al-Qur'an sudah dikabarkan oleh Allah SWT ke seluruh penghuni langit dan bumi dalam semua seginya. Di sini terkandung tujuan kalau kata nuzul harus di ta'wilkan dalam kata I'lam yang bermakna edukasi atau pemberitahuan. Karenanya, nuzul al-qur'an bermakna proses pemberitaan atau pengutaraan tuntunan yang terdapat di dalamnya.

Dr. Ahmad as-Sayyid al-Kumi dan Dr. Muhammad Ahmad Yusuf al-Qasim menjelaskan, kalau nuzul memiliki lima arti, yaitu :

  1. Munculnya suatu hal dari lokasi yang tinggi ke lokasi yang rendah.
  2. Jatuh, datang, singgah ( الوقوع).
  3. Tertib, teratur, urutan (الترتيب).
  4. Pertemuan (الإجتماع).
  5. Turun secara berangsur-angsur.

Tahapan Nuzulul Qur'an

Tahapan Nuzulul Qur'an ada 3 tahapan, seperti yang bakal diterangkan berikut ini :

Tahapan Nuzulul Qur'an yang Pertama, Al-qur'an di turunkan/ditempatkan ke Lauhil Mahfudh. Lauhil Mahfudh yakni satu tempat di mana manusia tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Dalil yang mengindikasikan kalau Al-Qur'an itu ditempatkan di Lauhil Mahfudh itu adalah ada dalam firman Allah SWT:

Q.S. Al Buruj: 21-22:

بَلۡ هُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِيۡدٌ {١} فِىۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ {٢}

Artinya: "Bahkan juga (Yang didustakan mereka) itu yakni Al-Qur'an yang mulia yang tersimpan di Lauhil Mahfudh."

Namun terkait semenjak kapan Al-Qur'an ditempatkan di Lauhil mahfudh, dan bagaimana langkahnya adalah suatu perkara ghaib, tidak ada yang sanggup mengetahuinya kecuali Allah SWT.

Tahapan Nuzulul Qur'an yang kedua, Al-Qur'an singgah dari Lauhil Mahfudh ke Baitul izzah di Langit dunia. Sehingga, sesudah ada dalam Lauhil Mahfudh, Kitab Al-Qur'an itu tempatkan ke Baitul Izzah di Langit dunia atau langit paling dekat dengan bumi ini. Banyak dalil yang menerangkan  Tahapan Nuzulul Qur'an yang kedua ini, baik dari ayat Al-Qur'an atau Hadits Nabi Muhammad SAW, di antaranya ialah sebagaimana di bawah ini:

Q.S. Ad-Dhuhan: 3:

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنۡذِرِيۡنَ{٣}

Artinya: "Sebenarnya kami menurunkannya dalam satu malam yang diberkahi dan Sebenarnya Kami-lah yang memberi peringatan".

Q.S. Al-Qadar: 1:

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ{١}

Artinya: "Sebenarnya kami sudah menurunkannya (Al Quran) saat malam kemuliaan".

Q.S. Al-Baqarah: 183:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ{١٨٣}

Artinya: "Bulan Ramadhan yaitu (bulan) yang di dalamnya di turunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk untuk manusia dan keterangan-keterangan berkenaan petunjuk itu dan pembanding (di antara yang betul dan yang batil). Karenanya, barang siapa di antara kamu ada pada bulan itu, karena itu berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau diperjalanan (ia tidak berpuasa), karena itu (wajib menggantinya), sejumlah hari yang ditinggalnya itu, pada beberapa hari lainnya. Allah menghendaki keringanan buatmu, dan tidak menghendaki kesulitan buatmu. Sebaiknya kamu mencukupkan bilangannya dan mengakbarkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberi padamu, supaya kamu mengucapkan syukur."

Tahapan Nuzulul Qur'an yang ketiga, Al-Qur'an di turunkan dari Baitul Izzah di langit dunia langsung ke Nabi Muhammad SAW. Maknanya, baik lewat perantara Malaikat Jibril, maupun langsung ke Nabi Muhammad SAW, atau dari balik tabir.

Diisyaratkan dalam firman Allah SWT dan Hadits Nabi, di antaranya sebagai berikut ini:

QS. Al-Baqarah: 99:

وَلَقَدۡ اَنۡزَلۡنَآ اِلَيۡكَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ...{٩٩}

Artinya: "Dan sebenarnya Kami sudah menyinggahkan padamu ayat-ayat yang pasti."

QS. Ali Imran: 7:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ...{٧}

Artinya: "Dialah yang menyinggahkan Al-Qur'an padamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah beberapa poin isi Al-Qur'an, dan lainnya (ada ayat-ayat) yang mutasyabbihah."

Q.S. Asy - Syu'ara: 193 - 194:

نَزَلَ بِهِ الرُّوۡحُ الۡاَمِيۡنُ‏{١٩٣}عَلٰى قَلۡبِكَ لِتَكُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِيۡنَ{١٩٤}‏

Artinya: "Dia (Al-Qur'an) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (Jibrl) ke hatimu (Muhammad) agar kamu jadi salah seorang di antara orang-orang yang mengirim peringatan."

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

Artinya: "Sebenarnya Al-Harits bin Hisyam menanyakan sesuatu ke Rasulullah SAW sembari berucap: "Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu tersebut turun padamu? Karena itu Rasulullah SAW bersabda: "terkadang tiba kepadaku seperti gemuruhnya bunyi lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku. Karena itu begitu berhenti bunyi itu dariku, aku sudah mendominasi apa yang telah disampaikannya. Dan terkadang malaikat menyamar kepadaku sebagai lelaki, lalu mengajak bercakap denganku. Karena itu aku kuasai apa yang disampaikannya. "Aisyah lalu berkata: "Saya pernah melihat beliau mendapat wahyu di hari yang paling dingin, namun demikian usai wahyu itu dari beliau, maka bercucurlah keringat di pelipis beliau." (H.R. Al-Bukhari).

Metode Nuzulul Qur'an

Al-Qur'an di turunkan tidak lepas dari "asbabun nuzul" yang menyertainya. Asbabun nuzul itu kadang-kadang berupa kejadian atau jawaban dari sebuah pertanyaan. Di lain sisi, redaksi yang dipakai Al-Qur'an ada yang memiliki sifat umum dan ada yang memiliki sifat khusus. Redaksi yang memiliki sifat khusus pasti dimengerti sebagaimana wujud text-nya. Sedang ayat-ayat yang mempunyai redaksi yang umum, tetapi penyebabnya khusus, masalah inilah yang diperselisihkan beberapa ulama Ushul Fiqih.

Sebagian besar ulama memutuskan jika yang menjadi parameter dalam mendalami ayat-ayat yang beredaksi umum, tetapi penyebabnya khusus yakni berdasar pada keumuman lafalnya. Dari sini selanjutnya muncul satu kaidah yang berbunyi : "parameter dalam mendalami ayat yakni lafal yang memiliki sifat umum, bukan berdasar pada sebab yang khusus".

Pandangan ini searah dengan jiwa syariat yang memiliki sifat universal, hingga Al-Qur'an shalih li kulli zaman wa makan (relefan untuk diaplikasikan dalam kurun waktu dan ruang yang tidak sama). Metode istinbath (penggalian hukum) ini yang dilakukan beberapa sahabat dan mujtahid dalam memutuskan hukum Islam. Mengaplikasikan ayat-ayat yang beredaksi umum kepada kejadian-kejadian lain yang bukan jadi sebab turunnya ayat itu.  Begitupun ayat zihar dalam kasus Aus bin Shamit.

Metode beberapa sahabat dalam mendalami ayat-ayat yang beredaksi umum berdasar pada keumumannya, dapat disaksikan dari riwayat yang dinisbatkan ke Ibnu ‘Abbas saat diberi pertanyaan mengenai ayat "maling lelaki dan maling wanita, maka potonglah ke-2 tangannya", apa ayat itu dimengerti khusus sesuai sebab turunnya atau umum?, Ibnu ‘Abbas menjawab "sebaiknya dimengerti secara umum. Ibnu Taimiyah menjelaskan: "Pengetahuan semacam ini telah umum terjadi. Demikian pula pernyataan "ayat ini turun mengenai kasus ini", ditambah lagi bila dikatakan orang tertentu.

Seperti ayat zihar yang di turunkan berkenaan kasus Aus bin Shamit. Pengakuan semacam ini tidak membatasi hukum ayat cuma berlaku untuk beberapa orang tertentu saja sebagai sebab turunnya ayat. Nalar semacam ini tidak digunakan oleh seorang Muslim yang mempunyai akal prima. Lantaran sekalipun ulama berlainan pandangan berkenaan ayat-ayat beredaksi umum yang turun dengan suatu sebab, apa lafal itu cuma berlaku ke sebab yang khusus ? Namun tidak seorang juga di antara mereka yang menjelaskan kalau ayat-ayat Al-Qur'an diutamakan untuk beberapa orang tertentu yang menjadi sebab turunnya ayat. Yang mereka ucapkan yakni redaksi yang umum itu khusus berkenaan "tipe kasus" tersebut hingga berlaku umum untuk kasus yang serupa. Ayat yang memiliki sebab tertentu, bila berbentuk perintah atau larangan, maka berlaku pada orang yang menjadi sebab turunnya dan orang lain yang sama posisinya. Begitupun ayat yang berisi sanjungan atau kecaman, diperuntukkan ke orang yang itu dan orang lain yang sama kedudukannya.

Sejarah Nuzulul Qur'an

Sejarah Nuzulul Qur'an terjadi di saat Rasulullah pertama kalinya menerima wahyu di gua Hira 610 M. Surat yang pertama kalinya turun ke Nabi Muhammad ialah Q.S. al-Alaq ayat 1-5.

اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌{١}خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ‌‏{٢}‏اِقۡرَاۡ وَرَبُّكَ الۡاَكۡرَمُ{٣}الَّذِىۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ{٤}عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ{٥}

Kejadian ini terjadi di bulan Ramadhan hingga kerap diperingati pada malam Ramadhan. Banyak yang memperingatinya pada hari ke-17 bulan Ramadhan. Warga memperingati Nuzulul Qur'an dengan bermacam hal seperti pengajian, makan bersama, sampai membuat seperti perayaan tradisi yang terkait dengan Ramadhan.

Saat sebelum memperoleh wahyu di gua Hira, Nabi Muhammad SAW waktu itu seringkali melaksanakan perenungan. Beliau memikirkan mengenai inti kebenaran yang jauh dari kehidupan warga Jahiliah pada waktu itu. Rutinitas ini telah dilaksanakan oleh Muhammad dari sejak saat sebelum beliau menikah dengan Khadijah.

Tiap bulan Ramadhan Nabi Muhammad menyendiri di gua itu dengan membawa perbekalan berupa makanan untuk melaksanakan ibadah. Posisi gua Hira sendiri benar-benar strategis dan nyaman untuk jadi tempat beruzlah. Lantas terjadi peristiwa besar pada bulan Ramadan yakni turunnya ayat Al-Qur'an untuk pertamanya kali sekaligus sebagai tanda kenabian.

Peristiwa Nuzulul Qur'an pada bulan Ramadan itu lalu diberitakan oleh Nabi Muhammad ke istrinya Sayyidah Khadijah. Lantas Sayyidah Khadijah yakin dan membenarkan atas risalah besar yang bakal diemban oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT.

Keutamaan Malam Nuzulul Qur'an

Malam Nuzulul Qur'an merupakan malam yang penuh dengan keberkahan. Di bulan Ramadan, terutamanya pada malam Nuzulul Qur'an, Rasulullah SAW selalu dijumpai oleh malaikat untuk mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an.

Di antara keutamaan malam Nuzulul Qur'an yakni dilipat gandakan pahala kita ketika melaksanakan ibadah. Ada beberapa amalan beribadah yang dapat dilaksanakan untuk raih keutamaan malam penuh berkah ini, termasuk tadarus Al-Qur'an.

Mewarnai malam Nuzulul Qur'an dengan tadarus Al-Qur'an, perbanyak zikir, perbanyak sedekah, beriktikaf, salat sunah tarawih, witir sampai tahajud serta melakukan perbuatan baik dalam sikap maupun tindakan. Tergolong memberi makan untuk berbuka puasa kepada orang yang kurang sanggup, merupakan salah satunya langkah beramal yang simpel untuk dipraktikkan. Malam Nuzulul Qur'an merupakan malam penuh berkah di mana beberapa malaikat turun ke bumi untuk mendoakan para hamba yang melaksanakan ibadah.

Do'a Malam Nuzulul Qur'an

Berikut ini adalah beberapa doa malam Nuzulul Qur'an yang dapat Anda praktekkan pada malam Nuzulul Qur'an.

اَللهُم اغْفِرَلِيْ وَلِوَالِدَى ورْحَمْهُمَا كَمَارَبيَانِيْ صَغِيْرًا

Artinya: "Ya Allah, ampunilah diriku dan ke-2 orang tuaku, kasihilah ke-2 orang tuaku seperti ke-2 nya mengasihiku di saat kecil"

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya: "Ya Allah, sebenarnya Engkau Maha pengampun dan suka mengampuni, karena itu ampunilah kesalahanku."

Kapan peristiwa Nuzulul Quran terjadi ?

Peristiwa Nuzulul Qur'an terjadi pada tanggal 17 Ramadhan yang merupakan hari di mana Al--Qur'an diturunkan untuk pertama kalinya. Secara terminologi Nuzulul Qur'an adalah peristiwa di turunkannya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW lewat Malaikat Jibril AS secara bertahap.

Nuzulul Qur'an terjadi pada Tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan, di Gua Hira . Peristiwa ini sebagaimana dalam Q.S. Al-Baqarah: 185;

شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِ{١}

Artinya: "Ramadhan yang kepadanya di turunkan Al-Qur'an, ialah petunjuk untuk manusia, serta merupakan informasi yang menerangkan petunjuk dan menerangkan ketidaksamaan mana yang betul dan mana yang keliru".

Al-Qur'an adalah sumber utama yang menjadi petunjuk guna menggapai kebahagiaan fi ad-dunya wa al-akhirah. Peringatan Nuzulul Qur'an menjadi momen yang baik untuk mendalami pesan mulia dalam Al Qur'an serta mempraktikkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Al-Qur'an datang sebagai petunjuk umat manusia, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 2;

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛفِيْهِ ھُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ{٢}

Artinya: "Al-Qur'an itu tidak ada kebimbangan padanya; petunjuk untuk mereka yang bertakwa."

Telah kita ketahui bersama, bahwa sekarang ini adalah masa pandemi Virus Corona, yang di mana Ramadhan kali ini tentu akan berbeda dengan masa-masa sebelumnya. COVID - 19 sudah membatasi rutinitas keagamaan di beberapa penjuru dunia, terutamanya di Indonesia. Peringatan Nuzulul Qur'an di tengah-tengah Wabah COVID 19 mesti digunakan sebagus-bagusnya oleh umat Islam agar semakin khusyuk dalam melaksanakan ibadah di rumah saja, memperkokoh jalinan antar keluarga, menggunakan kondisi ini untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan kesayangan pada Al-Qur'an dan mentadaburinya.

Surat apa yang Pertama kali diturunkan ?

Ada perbedaan pendapat berkenaan dengan surat yang pertama kalinya diturunkan, berikut pendapat dari beberapa sumber berkenaan wahyu yang pertama kalinya turun.

1. Asy-Syaikhan dari Aisyah RA. Menjelaskan kalau yang sahih yaitu Q.S al-Alaq: 1-5 sebagai Wahyu yang turun pertama kalinya.

2. Riwayat Asy-Syaikhan dari Abi Salamah ibn Abdur Rahman menerangkan kalau yang surat yang pertama kalinya turun yaitu surat al-Muddatsir. Surat ini sesungguhnya berdasarkan penjelasan dari Jabir yang diterima oleh Abi Salamah sebagai surat yang turun secara lengkap saat sebelum surat al-Alaq turun secara prima.

3. Riwayat Abi Ishaq dari Abi Maisarah mengatakan jika Wahyu yang pertama kali turun ialah surat al-Fatihah.

4. Ibnu Ishaq memiliki pendapat kalau Wahyu yang turun pertama kali ialah awalan surat ad-Dhuha.

5. Muhammad Abduh mengatakan Wahyu yang pertama kalinya turun ialah surat al-Fatihah, karena sebab-sebab sebagai berikut ini:

  • Terletak pada posisi pertama dalam Al-Quran.
  • Kandungan sisinya mencakup semua isi Al-Quran.
  • Yang demikian itu sesuai dengan riwayat Al-Baihaqi dalam Dala'il an-Nubuwwah.

Surat apa yang terakhir diturunkan ?

Dalam pembahasan kami sebelumnya diterangkan kalau ada perbedaan pendapat berkenaan dengan surat yang pertama kalinya di turunkan. Begitu pun berkenaan dengan surat yang terakhir kali di turunkan, ada perbedaan pendapat berkenaan hal ini, lebih detailnya sebagai berikut.

1. Mayoritas ulama menyatakan kalau wahyu yang berbentuk ayat, yang terakhir turun yaitu Q.S al-Maidah: 3. Sedangkan wahyu yang berbentuk surat yang diturunkan terakhir ialah an-Nashr.

2. Imam Nasa'i melalui Ikrimah dari ibnu Abbas RA dan Sa'id ibn Jubair menerangkan jika ayat yang terakhir kali turun yaitu ayat 281 dari Q.S. al-Baqarah.

3. Riwayat Sa'id ibn al-Musayyai mengatakan jika wahyu yang paling akhir di turunkan yaitu ayat mengenai utang piutang.

4. Riwayat ibn Ka'ab RA mengatakan jika wahyu yang terakhir yaitu ayat 128 dari surat at-Taubah.

5. Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA, Baihaqi dari Umar RA memberikan keterangan jika wahyu paling kahir adalah Q.S. al-Baqarah: 278.

6. Ibn Jarir dari Muawiyah ibn Abi Sufyan RA memiliki pendapat kalau wahyu yang terakhir turun adalah ayat 110 Q.S. Al-Kahfi.

7. Sahabat Anas RA memiliki pendapat jika wahyu yang terakhir turun yaitu ayat 5 dan 11 Q.S. at-Taubah.

Mengapa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap ?

Al-Qur'an diturunkan secara bertahap mempunyai tujuan untuk mengukuhkan hati Rasulullah SAW. Lantaran turunnya Al-Qur'an sesuai peristiwa yang menyertainya, dengan begitu pasti lebih kuat pula menancap dan berkesan di hati yang menerima wahyu itu yaitu Rasulullah SAW.

Q.S. al-Furqan: 32;

وَقَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ الۡـقُرۡاٰنُ جُمۡلَةً وَّاحِدَةً‌، كَذٰلِكَ، لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُـؤَادَكَ‌ وَرَتَّلۡنٰهُ تَرۡتِيۡلًا{٣٢}

Artinya: "Orang-orang kafir berkata, "Kenapa Al-Qur'an itu tidak di turunkan secara sekaligus?" Begitulah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dan Kami membacakannya secara tartil."

Beberapa orang kafir memandang aneh bila Al-Qur'an di turunkan tidak sekaligus. Selanjutnya Allah menantang mereka membuat 1 surat saja yang sepadan. Rupanya beberapa orang kafir itu tidak mampu membuat seperti Al-Qur'an, apa lagi untuk membuat satu kitab langsung jadi dan komplet.

Al-Qur'an turun secara bertahap membuat manusia gampang dalam mengingat dan mendalami artinya. Terutama bagi orang yang buta huruf. Sehingga perihal ini menolong mereka untuk menghafal dan mendalaminya.

Beberapa sahabat langsung bisa menghafalkannya secara baik, mendalami artinya dan mengaplikasikannya di kehidupan setiap hari.

Fokus permasalahan yang pertama kalinya ada pada Al-Qur'an ialah mengenai keimanan terhadap Allah SWT, malaikat, kitab-kitab Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dibangkitkannya manusia dari alam kubur, dan juga iman mengenai adanya surga & neraka.