Skip to main content

Pengertian dan Sejarah Perkembangan Fiqh dan Ushul Fiqh

Daftar Isi [ Tampil ]
Pengertian dan Sejarah Perkembangan Fiqh dan Ushul Fiqh

Ushul fiqh merupakan ilmu yang merinci metode yang digunakan oleh beberapa imam mujtahid dalam menggali serta memutuskan sebuah hukum syar'i dan nash, yakni dari Al Qur'an dan sunah Nabi. Kandungan ushul fiqh merinci dasar dan metode penetapan hukum taklif yang bersifat praktis yang menjadi landasan bagi fuqohaq dan mujtahid supaya dapat beristinbat dengan tepat. Untuk lebih lanjutnya lagi sebagai beriku ini.

Pengertian Fiqh

Kata fiqih (fikih) sesungguhnya datang dari kata bahasa Arab, yakni bentuk masdar (verbal noun) dari akar kata bentuk madhi (past tense) faquha yang secara etimologis bermakna mengetahui, mengerti, memahami dan menuntut pengetahuan. Kata fiqih dipandang persamaan kata dengan kata pengetahuan. Dalam Al-Qur'an ada dua puluh ayat yang menggunakan kata ini dengan pengertian literal yang berbeda-beda itu. Tetapi ada satu ayat yang mempunyai konotasi jika fiqih ialah pengetahuan agama, yaitu pada ayat QS. 9:13. Tapi pengertian pengetahuan agama pada ayat ini masih amat luas, mencakup bermacam pengetahuan agama pada umumnya. Dia bias bermakna pengetahuan tasawuf atau sufisme (tariqat) seperti yang dijelaskan pakar sufi Farqad (w. 131 hijriah) pada Hasan Al-Bashri (w. 110 h.) Fiqih dapat bermakna ilmu kalam (tauhid atau teologi), dan lain-lain.

Jadi di sini dapat dimengerti jika di awal kemajuan Islam kata fiqih belum berarti detil sebagai "pengetahuan hukum Islam yang mengendalikan penerapan ibadah-ibadah ritual, yang merinci mengenai detil sikap Muslim dan hubungannya dengan 5 prinsip dasar (wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah), dan yang mengulas mengenai hukum-hukum kemasyarakatan (muamalat)." Perihal ini bias dimaklumi mengingat yang pada saat itu para Sahabat Nabi tidak atau belum memerlukan suatu perangkat pengetahuan khusus untuk mengendalikan kehidupan mereka. Mereka tinggal menyaksikan dan meniru sikap setiap hari kehidupan Nabi, karena pada beliaulah terletak wujud paling ideal Islam. Beberapa Sahabat Nabi bisa menikmati secara langsung implikasi paling cocok dan utuh peri kehidupan Islami; dari metode berwudhu, sholat, puasa, haji, berinteraksi dengan tetangga, dengan sesama Muslim, sampai pada hal hal yang memiliki sifat usaha dan politis.

Pada periode generasi setelah Sahabat ataupun lebih terkenal dengan istilah Tabi'in, timbullah tiga divisi besar secara geografis dalam dunia Islam, yakni Irak, Hijaz dan Syiria. Di mana masing-masing memiliki aktivitas legal yang mandiri. Di Irak selanjutnya ada dua kelompok fiqih yakni di Basrah dan Kufa. Di Syria aktivitas hukumnya tidak begitu dikenali terkecuali melalui karya-karya Abu Yusuf. Sedang di Hijaz ada dua pusat aktivitas hukum yang paling mencolok yakni di Makkah dan Madinah. Antara ke-2 nya, Madinah lebih populer dan menjadi perintis dalam kemajuan hukum Islam di Hijaz. Malik bin Anas atau Imam Malik (w.179 h/795 m) pendiri madzhab Maliki merupakan eksponen akhir dari pakar hukum kelompok Madinah. Dan dari kelompok pakar fiqih Kufah terdapat nama Abu Hanifah. Sekian tahun selanjutnya nampaklah nama Muhammad bin Idris Ash Shafi'i (w.204 h/ 820 m) atau Imam Syafi'I pendiri madzhab Shafi'i yang disebut salah satunya murid Imam Malik. Selanjutnya muncullah nama Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (w.241 h./ 855 m.), atau Imam Hanbali, pendiri madzhab Hanbali. Beliau merupakan murid dari Imam Syafi'i.

Pengertian Ushul Fiqh

Secara etimologi ushul fiqh terdiri dari 2 kata yakni ushul dan fiqh. Dilihat dari kata bahasa arab serangkaian kata ushul dan fiqih itu disebut dengan tarkib idhafah. Kata ushul adalah bentuk jama' dari kata ashl yang menurut bahasa bermakna sesuatu yang dijadikan dasar untuk lainnya, atau berarti landasan suatu hal, baik bersifat materi atau non materi sehingga ushul fiqh berarti sesuatu yang dijadikan dasar untuk fiqh.

Secara terminologi banyak pengertian yang diberikan beberapa ulama mengenai ushul fiqh. Tetapi di sini cuman akan disampaikan beberapa pengertian yang komplet dan gampang di pahami. Satu diantaranya ialah pengertian ushul fiqh yang disampaikan oleh ulama ushul. M. Khudary Beik, Ushul fiqh adalah pengetahuan mengenai kaidah atau ketentuan-ketentuan, di mana dengan kaidah itu seorang mujtahid sampai (mendapati) hukum syar'i yang diambil dari dalilnya.

Ali Hasaballah, Ushul fiqh merupakan kaidah-kaidah yang dengan kaidah itu menyampaikan untuk mengistinbatkan (mengeluarkan) hukum dari dalil-dalil yang terinci. Abdul Wahhab Khallaf mendeskripsikan ushul fiqh sebagai pengetahuan mengenai kaidah-kaidah atau ketentuan-ketentuan dan ulasan yang dijadikan sebagai media untuk mendapatkan hukum syar'i yang terkait dengan amaliyah dari dalil-dalilnya yang terinci.

Menurut Abu Zahrah, ushul fiqh yaitu pengetahuan mengenai kaidah-kaidah yang menggariskan jalan untuk mendapatkan hukum syara' yang memiliki sifat amaliyah dari dalil-dalilnya yang terinci, karena itu ia merupakan pedoman yang menerangkan metode (thariqah) mengeluarkan hukum dari dalilnya.

Sejarah Perkembangan Fiqh dan Ushul Fiqh

Dalam sejarah islam, fiqh sebagai hasil ijtihad para ulama terlebih dulu terkenal dilapisan umat islam dan dibukukan dalam mekanisme tertentu dibanding dengan ushul fiqh. Perumusan fiqh dilaksanakan sesudah Nabi SAW wafat, yakni masa sahabat. Sementara ushul fiqh sebagai sebuah sistem istinbat, baru tersusun sebagai salah satu bidang pengetahuan pada era kedua Hijriah. Tetapi, beberapa pakar hukum islam mengakui dalam praktiknya ushul fiqh muncul bersamaan dengan lahirnya fiqh.

Pemikiran mengenai ushul fiqh sudah ada di saat perumusan fiqh. Beberapa sahabat yang melaksanakan ijtihad melahirkan fiqh secara praktis, mereka sudah memakai beberapa kaidah ushul fiqh, walau belum tersusun dalam sebuah disiplin pengetahuan. Banyak contoh sahabat yang mempunyai kebolehan menguasai ushul fiqh dan memakainya dalam mengistinbatkan hukum.

Contohnya, Umar tidak membagikan tanah dari daerah yang ditaklukkan oleh tentara Islam untuk kemaslahatan warga setempat. Umar melihat tanah itu tidak terhitung harta Ghonimah yang ada dalam ketetapan umum firman Allah surat Al-Anfal ayat 41yang maknanya :"Ketahuilah, sebenarnya apa saja yang bisa kamu dapatkan sebagai Rampasan perang, maka sebenarnya seperlima untuk Allah, Rasul, keluarga Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil". Harta ghonimah yang dimaksudkan ayat itu ialah harta ghonimah yang bisa dipindahkan. Sedangkan wilayah yang ditaklukkan bukan terhitung ghonimah karena tidak bisa dipindah. Jika tanah itu didiamkan tetap berada pada tangan pemiliknya, maka bisa bermanfaat untuk mengongkosi pertahanan negara dan menutupi anggaran negara lewat jizyah yang diharuskan terhadap pemilik tanah itu. Selain berijtihad dengan cara qiyas, mereka memakai cara Istislah yang berdasarkan pada cara Maslahah al-mursalah, yakni satu kemaslahatan yang tidak ada dalil mendukung atau menolaknya, tapi mendukung pemeliharaan tujuan syari'at. Contohnya mengumpulkan Al-Qur'an dalam satu mushaf (naskah Al-Qur'an).

Pada masa tabi'in, model istinbat ini lebih jelas dan meluas bersamaan dengan meluasnya wilayah islam yang berimplikasi timbulnya bermacam masalah baru yang membutuhkan jawaban. Keadaan ini menggerakkan golongan tabi'in yang memperoleh pengajaran dari generasi sahabat mengutamakan diri untuk berfatwa dan melaksanakan ijtihad. Pada periode ini, menurut Abu Sulaiman, terjadi ketidaksamaan pendapat yang tajam mengenai apakah fatwa sahabat bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil hukum) dan ketidaksamaan pendapat mengenai Jiwa ahli Madinah apa bisa dipegang sebagai ijma'.

Langkah ijtihad semakin jelas lagi pada masa Muhammad bin Idris al Syafi'i (150-204 H), pendiri mazhab Syafi'i. Usaha pembukuan Ini searah dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan keislaman waktu itu. Kemajuan ilmu dan pengetahuan ini mulai berjalan pada saat Harun Al-Rasyidi (145 H-193 H) dan puncaknya pada periode al-Ma'mun (170 H-281 H). Pada kondisi inilah imam Syafi'i tampil menyusun buku yang diberinya judul Al-Kitab yang kemudian populer dengan sebutan Al-Risalah yang bermakna sepucuk surat. Munculnya kitab ini sebagai babak awal perkembangan ushul fiqh sebagai satu disiplin pengetahuan.