Skip to main content

Pengertian Isim dan Tanda-tanda Isim

Daftar Isi [ Tampil ]

Dalam tata bahasa Arab, kalimah digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu isim, fi'il dan huruf, yang di mana masing-masing dari ketiga kalimah tersebut memiliki definisi dan tanda yang berbeda-beda. Tetapi, pada pertemuan "Nahwu Shorof Online" kali ini kita akan fokus pada penjelasan mengenai pengertian isim dan tanda-tanda isim saja. Apa itu isim ? dan apa tanda-tanda isim itu ? Berikut keterangannya.

Pengertian Isim

Bahasa Indonesia dan bahasa Arab ini kaya akan perbedaan. Yang diartikan dengan "kalimah" dengan bahasa Arab ialah "kata" dalam artian bahasa Indonesia. Beberapa kumpulan kalimah dengan bahasa Arab dikatakan sebagai "jumlah". Sedang dengan bahasa Indonesia "jumlah" disimpulkan sebagai "kalimat". Kalimah (كَلِمَة) juga bisa disebut kilmah atau kalmah (كِلْمَة/كَلْمَة) secara etimologi ialah "kata".

Sedang secara terminologi kalimah (كلمة) adalah lafadz mufrod (mandiri) yang memperlihatkan satu arti tertentu. Hasilnya, bila tidak memperlihatkan suatu arti tertentu, berarti bukan kalimah.

Contoh isim : كِتَابٌ (buku), زَيْدٌ (zaid), كُرْسِيٌّ (bangku)

Dalam bahasa Indonesia kalimah isim kerap disimpulkan sebagai kata benda atau nomina, yakni tipe kata yang bisa mengarah pada benda, barang, hewan, manusia dan segala hal yang tidak mempunyai waktu. Kata benda atau nomina ini dapat menempati peranan sebagai Subyek (S), Objek (O) dan pelengkap Klausa. Ini tidak berbeda jauh dengan pengertian isim dalam tata bahasa Arab.

الإِسْمُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَ لَمْ تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ وَضْعًا

"Kalimah isim adalah kata yang memperlihatkan suatu arti tertentu dan terlepas oleh waktu".

Contoh isim : كِتَابٌ (buku), جَوْهَرٌ (permata), أَسَدٌ (singa)

Sebagai perumpamaan, saat kita dengar contoh isim seperti kata أَسَدٌ (singa), tidak muncul pertanyaan akan waktunya. Apa akan singa, sedang singa, atau sudah singa ? Itu yang diartikan وَلَمْ تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ وَضْعًا bahwa isim merupakan kalimah yang terlepas/tidak terikat waktu.

Adapun yang diartikan memperlihatkan arti dengan sendirinya adalah tanpa butuh menyandingkannya atau menyusunnya dengan kalimah lain sudah dapat ditangkap oleh lawan bicara artinya apa, contoh isim كِتَابٌ (buku) artinya sebuah buku, mustahil ia memperlihatkan arti lain. Ketika disebutkan buku kita tidak mungkin menangkap penggaris sebagai artinya. Contoh isim yang lain seperti زَيْدٌ (nama seseorang), kita sudah mengetahui artian tersebut tanpa dipertemukan dengan kalimah lain sebab ia telah memperlihatkan arti untuk dirinya sendiri, mustahil jika kita akan berpikir kepada seseorang yang namanya Khalid.

Baca juga: Pembagian Kalimah Isim dalam Bahasa Arab

Ringkasnya, pengertian isim adalah kata benda (nomina). Dalam bahasa Arab semua tipe kata yang ada dalam bahasa Indonesia baik memiliki sifat konkret atau abstrak digolongkan sebagai kalimah isim. Seperti nama orang, hewan, tumbuhan, tempat, dan segala hal yang dapat dibendakan. Namun ada pengecualian, yakni kata kerja (verba) dan kata tugas. Seperti menulis, membaca, belajar, untuk, oleh, dan, ke.

Untuk mengenali suatu kalimah, apa kalimah itu sebagai kalimah isim, fi'il atau hurf, kita perlu menyaksikan pertanda dari tiap-tiap kalimah. Kalimah isim bisa diketahui dengan beberapa tanda, tidak diisyaratkan harus ada semua tanda-tanda isim tersebut, cukup satu tanda ia telah syah disebut kalimah isim, terlebih ia mempunyai dua tanda atau lebih. Berikut tanda-tanda kalimah isim.

Tanda-tanda Isim

Tanda-tanda isim (اسم), sebagaimana yang tertuang dalam kitab Al-fiyah Ibnu Malik adalah :

بِالجَرِّ وَ التَّنْوِيْنِ وَ النِّدَا وَ أََل | وَ مُسْنَدٍ لِلْاِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَل

1. Pantas di i'rabi dengan i'rab jar (بالجرّ)

Tanda isim yaitu patut di i'rabi dengan i'rab jar, baik itu dengan huruf (بالحرف), penyandaran (بالإضافة), atau mengikuti pada kalimah yang terjatuh sebelumnya (بالتّابع).

Contoh isim ketika jar : بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Lafadz بسم dibaca jar karena dimasuki ب (huruf jer), lafadz اللّه dibaca jer karena jadi mudhaf ilaih, dan lafadz الرّحمن الرّحيم adalah isim yang dibaca jar sebab menjadi sifat dari lafadz اللّه.

2. Pantas dimasuki tanwin (التّنوين)

Secara bahasa tanwin berarti bunyi/suara. Menurut istilah, tanwin adalah nun sukun yang seolah-olah ada di akhir isim secara pelafadzan (penyuaraannya) tapi pisah/raib saat ditulis dan diwaqofkan.

Contoh isim bertanwin : رَجُلٌ (orang laki-laki), أَبٌ (bapak)

Perlu kita kenali, bahwa tanwin dalam ilmu nahwu yang menjadi tanda isim digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu tanwin tamkin, tanwin tankir, tanwin muqobalah, dan tanwin iwadl.

3. Layak dimasuki huruf nida' atau jadi munada (النداء)

Tanda isim adalah layak apabila dimasuki huruf nida'. Karena kalimah-kalimah yang dapat dimasuki huruf nida' hanyalah kalimah isim saja.

Contoh isim menjadi munada : يَا مُحَمَّدُ (wahai Muhammad)

4. Pantas dimasuki al ta'rif (ال تعريف)

Alif+lam/Al ta'rif adalah huruf yang berperan untuk mema'rifatkan suatu kalimah.

Contoh isim disertai alif+lam : lafadz رَجُلٌ (memiliki sifat umum) saat dimasuki ال jadi الرَّجُلُ (memiliki sifat tertentu)

5. Pantas jadi musnad ilaih (مسند اليه)

Tanda-tanda isim yang terakhir adalah layak apabila menjadi musnad ilaih, dengan artian kalimah yang disandarkan padanya, yaitu musnad (مسند), sandaran atau sebagai sandaran, selanjutnya hubungan ke-2 nya dikatakan sebagai isnad (إسناد). Simpelnya, yang dikatakan sebagai subyek dan predikat dalam bahasa Indonesia.

Contoh isim menjadi musnad ilaih : نَصَرَ خَالِدٌ / خَالِدٌ نَصَرَ (Khalid menolong / Khalid orang yang menolong)

Pada contoh isim di atas, posisi خالد sebagai musnad ilaih, dan نصر sebagai musnad-nya.

Itulah pengertian isim dan tanda-tanda isim. Dalam ilmu nahwu kita juga mengenal istilah mu'rab dan mabni, kalimah isim itu sendiri ada yang mu'rab dan ada yang mabni. Akan tetapi, pada dasarnya semua kalimah isim itu mu'rab, jika ada kalimah isim yang mabni hal itu disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya, insyaallah akan kami bahas pada artikel kami selanjutnya.