Skip to main content

Isim Mabni: Pengertian, Faktor Kemabnian, dan Macam-macam Isim Mabni beserta Contohnya

Daftar Isi [ Tampil ]
Isim Mabni

Isim mabni merupakan bab pokok yang masuk dalam kajian ilmu tata bahasa Arab. Istilah mabni banyak dipakai dalam menggambarkan suatu kalimah yang dilihat berdasarkan perubahan bentuk akhirnya. Kalimah itu sendiri dalam ilmu Nahwu terdiri atas tiga macam, yaitu isim, fi’il, dan huruf. Dari ketiga kalimah tersebut, kiranya hanya huruf lah yang tidak berubah sama sekali keadaan akhir kalimahnya. Sedangkan sisanya, sebagian ada yang mu’rab dan ada juga yang mabni. Pada artikel kali ini, kami hanya membahas seputar isim mabni saja. Selebihnya akan kami bahas pada artikel kami selanjutnya, insyaallah.

Kata kunci: Isim mabni, tabel isim mabni, sebab isim mabni, syibhul mudni, faktor kemabnian isim, contoh isim mabni, macam-macam isim mabni, isim mabni alfiyah, yang termasuk isim mabni.

PENGERTIAN ISIM MABNI (اسم المبني)

Secara bahasa mabni (المَبْنِيُّ) merupakan isim maf’ul dari madli bana (بَنَى) dengan makna “yang dibangun”. Sedangkan secara umum, isim mabni diartikan sebagai kalimah yang huruf akhirnya tidak berubah meski didahului oleh amil yang masuk pada kalimah tersebut. Amil inilah yang menjadi penyebab pada perubahan akhir kalimah.

Contoh:

  • هَذَا كِتَابٌ (Ini kitab).
  • ضَرَبَ زَيْدٌ هَذَا الكَلْبَ (Zaid memukul anjing ini).
  • جَاءَ خَالِدٌ فِى هَذَا المَجْلِسِ المُبَارَكِ (Khalid datang di majlis yang berkah ini).

Pada contoh di atas, harakat akhir lafadz هَذَا tidak berubah (mabni sukun) baik menempati mahal rafa’, nashab, maupun jer.

Baca juga : Perbedaan antara Isim Mabni dan Isim Mu'rab

FAKTOR KEMABNIAN ISIM

Dalam kitab Ibnu Aqil ala Afiyah Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Malik Rahimahumallah dijelaskan.

وَالاِسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِى | لِشَبَهٍ مِنَ الحُرُوْفِ مُدْنِى

“Isim itu ada yang mu’rab dan ada juga yang mabni lantaran menyerupai kalimah hurf dengan persamaan yang dekat”.

Pada dasarnya semua kalimah isim itu mu’rob hukumnya. Kalimah isim bisa berubah status menjadi mabni sebab kalimah isim tersebut memiliki persamaan yang bisa mendekatkan kepada kalimah huruf. Dalam istilah ilmu nahwu, persamaan ini disebut sebagai syibhul mudni (شبه المدني), yang jumlahnya ada empat, yaitu Syibhul wadl’i, Syibhul ma’nawi, Syibhun niyabah, dan Syibhul iftiqar.

Baca juga : Syibhul Mudni / Faktor Kemabnian Isim dalam Ilmu Nahwu

MACAM-MACAM ISIM MABNI

Sebagai tindak lanjut daripada faktor kemabnian isim atau yang disebut sebagai syibhul mudni. Kali ini kita akan menguraikan satu persatu dari macam-macam isim mabni yang enam.

Macam-macam isim mabni yang dimaksud yaitu :

  1. Isim dhamir,
  2. isim istifham,
  3. Isim syarat,
  4. Isim isyarah,
  5. Isim maushul,
  6. Isim fi’il.

Perincian dari masing-masing macam isim mabni tersebut sebagai berikut.

1. Isim Dhamir (اسم الضمير)

Secara umum dhamir (الضمير) memiliki arti suara hati, pikiran, paling dalam. Dalam ilmu nahwu, dhamir adalah kata ganti atau pronoun yang digunakan untuk menunjukkan orang pertama, kedua, atau orang ketiga.

فَمَا لِذِيْ غَيْبَةٍ اَوْ حُضُوْرِ | كَأَنْتَ وَهْوَ سَمِّ بِالضَمِيْرِ

“Isim yang menunjukkan pada yang ghaib dan hadir seperti  'أَنْتَ' dan  'هُوَ' namailah dengan dhamir”

سَمِّ بِالضَمِيْر” (namakanlah dengan dhamir), perintah Syaikh Ibnu Malik kepada kita. Artinya, namakanlah dengan sebutan dhamir, isim yang menunjukkan ma’na yang samar dengan dalalah ghaib seperti “هُو”, atau hadir yang dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu mukhatab, seperti “أَنْتَdan mutakallim, seperti “أَنَا”.

Baca juga : Isim Dhamir Kata Ganti dalam Bahasa Arab

Isim dhamir dibagi ke dalam dua macam, yaitu :

  1. Dhamir bariz (بارز),
  2. Dhamir mustatir (مستتر).

a. Dhamir Bariz (الضمير البارز)

Dilihat dari asal muasal katanya, bariz (بارز) berarti mencolok, terkemuka, nyata, dll. Bukan baris-berbaris lho ya, beda lagi konteksnya. Berangkat dari situ, dhamir bariz adalah dhamir yang tampak dalam pelafadzannya.

مَا لَهُ صُوْرَةٌ فِى اللَّفْظِ

“Isim yang memiliki bentuk dalam pelafadzannya”

Dhamir bariz dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Muttashil (متّصل),
  2. dan Munfashil (منفصل).

1) Dhamir Muttashil (الضمير المتّصل)

Dhamir muttashil adalah dhamir yang tidak bisa terletak di awal kalam dan tidak bisa pula terjatuh setelah “اِلَّا”.

وَذُوْ التِّصَالٍ مِنْهُ مَا لَا يُبْتَدَا | وَلَا يَلِيْ اِلَّا اخْتِيَارًا اَبَدَا

“Dhamir muttasil adalah isim yang tidak bisa dibuat awalan dan tidak pula bersanding dengan ‘اِلَّا’ dalam kondisi ikhtiyar (pilih-pilih)”

مَا لَا يُبْتَدَأُ بِهِ وَلَا يَقَعُ بَعْدَ اِلَّا فِى الإِخْتِيَارِ

“Yaitu isim yang tidak dapat diletakkan di awal kalam dan tidak pula terjatuh setelah ‘اِلَّا’ dalam tingkah ikhtiyar”

Contoh : يَا إِبْنِيْ (Wahai anakku), أَكْرَمَكَ (Zaid memulyakanmu).

Dhamir muttashil dibagi lagi ke dalam tiga bagian, yaitu mahal rafa’, mahal nashab, dan mahal jer.

Contoh dhamir muttashil mahal rafa’: وَجَدْتُ كَثِيْرَةً مِنَ الغَرَائِبِ فِيْ هَذَا المَكَانِ (Aku menemukan banyak hal aneh di tempat ini).

Contoh dhamir muttashil mahal nashab : تَقَدَّمَ الجُنُوْدُ نَحْوَ العَدُوِّ وَحَاصَرُوْهُ (Para tentara maju ke arah musuh dan mengepungnya).

Contoh dhamir muttashil mahal jer : أَخَذْتُ قَلَمَكَ مِنْكَ (Aku mengambil penamu darimu).

Baca juga : 10 Contoh Fa'il Isim Mabni beserta Artinya

Jika ada dhamir muttashil yang terjatuh setelah illa (الّا) maka hukumnya adalah syadz. Seperti ungkapan sya’ir berikut;

أَعُوْذُ بِرَبِّ العَرْشِ مِنْ فِئَةٍ بَغَتْ | عَلَيَّ فَمَالِي عَوْضُ اِلَّاهُ نَاصِرُ

“Aku meminta perlindungan kepada Rabb yang menguasai Arsy dari golongan yang zalim atas diriku, tidak ada dzat yang menjadi penolongku kecuali hanya Rabb yang menguasai Arsy”

2) Dhamir Munfashil (الضمير المنفصل)

Bagian yang kedua dari dhamir bariz yaitu dhamir munfashil (الضمير المنفصل). Jika dhamir muttashil adalah dhamir yang tidak dapat terletak di awal kalimah dan tidak bisa terjatuh setelah illa “الّا”, maka dhamir munfashil adalah kebalikannya.

الضَّمِيْرُ المُنْفَصِلُ مَا يُبْتَدَءُ بِهِ وَ يَقَعُ بَعْدَ إِلَّا

“Dhamir Munfashil adalah dhamir yang dapat diletakkan di awal dan terjatuh setelah illa (الّا) ”

Dhamir munfashil adalah dhamir yang dapat terletak di awal kalimah dan dapat pula terjatuh setelah illa “الّا”. Dhamir munfashil ini juga dibagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu dhamir munfashil mahal rafa’ dan dhamir munfashil mahal nashab.

Contoh dhamir munfashil rafa’ dan nashab:

  • اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Kepadamu aku menyembah dan kepadamu aku meminta pertolongan).
  • هُمْ قَائِمُوْنَ (Semua orang berdiri).
  • مَاقَامَ اِلَّا أَنَا (Tidak ada yang berdiri kecuali Saya).

b. Dhamir Mustatir (الضمير المستتر)

Secara umum dhamir mustatir memiliki arti tersembunyi, tertutup, atau rahasia. Dalam ilmu nahwu, dhamir mustatir adalah dhamir yang tidak  tampak dalam pelafadzannya. Kebalikan dari dhamir bariz.

الضَمِيْرُ المُسْتَتِرُ مَا لَيْسَ لَهُ صُوْرَةٌ فِي اللَّفْظِ

“Dhamir Mustatir adalah dhamir yang tidak berwujud dalam pelafadzannya”

Dhamir mustatir adalah kata ganti yang tidak nampak atau tidak tercatat secara jelas, namun terselinap pada suatu kata kerja (fi'il) dan kehadirannya cuma dapat dijumpai dengan menyaksikan wujud dari kata kerja (fi'il) itu.

Contoh dhamir mustatir: تَعَلَّمْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا (Belajarlah di masa kecil dan amalkanlah di masa besar).

Pada contoh di atas, lafadz تَعَلَّمْ dan وَاعْمَلْ adalah fi'il amr yang pasti memiliki ma'mul marfu' sebagai fa’ilnya. Fa’il dari lafadz fi’il amr tersebut yaitu dhamir yang wajib disimpan, jika ditakdirkan berupa أَنْتَ (Engkau/kamu).

Dhamir mustatir dibagi ke dalam 2 macam, yaitu :

  1. Mustatir jawaz (المستتر الجواز),
  2. dan Mustatir wujub (المستتر الوجوب).

1) Dhamir Mustatir Jawaz (المستتر الجواز)

Dalam Kamus al-Munawwir, jawaz (الجواز) artinya adalah boleh. Pada konteks ini dhamir mustatir jawaz adalah dlamir yang dapat digantikan oleh isim dhahir, bahkan dhamir munfashil.

المُسْتَتِرُ الجَوَازُ مَا يُخْلِفُهُ الظَاهِرُ اَوِ الضَمِيْرُ المُنْفَصِلُ

“Mustatir Jawaz adalah dhamir yang isim dhahir ataupun dhamir munfasil dapat menggantikannya”

Dhamir mustatir jawaz adalah dhamir yang terletak pafa fi’il madli dan fi’il mudlari’ dalalah mufrad mudzakar ghaib dan mufrad muannats ghaibah.

Contoh :

  • سَمِعْتُ اَنَّهُ تَزَوَّجَ فَإِذَا هُوَ لَمْ يَزَلْ عَازِبًا (Saya dengar dia (lk) sudah menikah, ternyata masih menjomblo).
  • لَعَلَّهَا أَرْسَلَتْ عَلَيَّ هَذِهِ الرِّسَالَةَ عَنْ قَصْدٍ لِتَجْرِحَ قَلْبِيْ (Barangkali dia (pr) sengaja mengirim pesan ini untuk melukai hatiku).

Baca juga: Contoh Kata Ganti Milik dalam Bahasa Arab

2) Dhamir Mustatir Wujub (المستتر الوجوب)

Wujub artinya ialah keharusan, kewajiban, keperluan atau kebutuhan. Dhamir mustatir wujub adalah dhamir yang tidak dapat digantikan baik isim dhahir ataupun dhamir munfashil.

مَا لَا يُخْلِفُهُ الظَّاهِرُ اَوِ الضَمِيْرُ المُنْفَصِلُ

“Dhamir mustatir wujub adalah dhamir yang tidak tergantikan oleh isim dhahir ataupun dhamir munfashil”

Dhamir mustatir wujub adalah dhamir yang terletak pada fi’il amr dalalah mufrad mudzakar mukhatab dan fi’il mudlari’ dalalah mufrad mudzakar mukhatab, mutakallim wahdah, dan mutakallim ma’alghair / mu’addhim nafsah.

Contoh :

  • أُشْكُرِ اللّهَ (Bersyukurlah kamu (lk) kepada Allah).
  • إِذَنْ لِمَاذَا لَمْ تَتَعَلَّمِ العَرَبِيَّةَ وَأَنْتَ تَعْلَمُ اَنَّهَا مُهِمَّةٌ ؟ (Lalu kenapa kamu (lk) tidak belajar bahasa Arab, padahal kamu (lk) tau itu penting?).
  • أَتَعَلَّمُ اللَّغَةَ العَرَبِيَّةَ مَهْمَا كَانَتْ صُعُوْبَتُهَا (Saya akan belajar bahasa Arab, betapapun sulitnya).
  • عَلَيْنَا أَنْ نَنْظُرَ إِلَى غَيْرِنَا عَلَى أَسَاسِ الإِخْوَةِ (Kita harus memandang orang lain atas dasar persaudaraan).

Dan perlu kita ingat kembali, jangan hanya mengingat ia yang tak kunjung kembali, bahwa semua isim dhamir yang telah disebutkan di atas hukumnya adalah mabni. Dawuh Imam Ibnu Malik;

وَ كُلُّ مُضْمَرٍ لَهُ البِنَا يَجِب | ...

“Dan semua isim dhamir adalah mabni hukumnya”

Bait ini semakin memperkuat saja kemabnian isim dhamir lantaran serupa dengan kalimah huruf, sebagaimana telah dijelaskan pada bab “Syibhul Mudni/Faktor Kemabnian Isim”.

Dari pengertian dan pembagian isim dhamir di atas, kurang lebih dapat kita rangkum sebagaimana tabel isim dhamir di bawah ini.

Isim Dhamir
Dhamir Mustatir Dhamir Bariz
Wujub Jawaz Munfashil Muttashil
Amr/Mudhari' Madhi/Mudhari' Nashab Rafa' Jar Nashab Rafa'
إِضْرِبْ (أَنْتَ) ضَرَبَ (هُوَ) إِيَّاهُ هُوَ بِهِ نَصَرْتُهُ نَصَرَ (هُوَ)
تَضْرِبُ (أَنْتَ) ضَرَبَتْ (هِيَ) إِيَّاهُمَا هُمَا بِهِمَا نَصَرْتُهُمَا نَصَرَا (هُمَا)
أَضْرِبُ (أَنَا) يَضْرِبُ (هُوَ) إِيَّاهُمْ هُمْ بِهِمْ نَصَرْتُهُمْ نَصَرُوا (هُمْ)
نَضْرِبُ (نَحْنُ) تَضْرِبُ (هِيَ) إِيَّاهَا هِيَ بِهَا نَصَرْتُهَا نَصَرَتْ (هِيَ)
   
   
إِيَّاهُمَا هُمَا بِهِمَا نَصَرْتُهُمَا نَصَرَتَا (هُمَا)
إِيَّاهُنَّ هُنَّ بِهِنَّ نَصَرْتُهُنَّ نَصَرْنَ (هُنَّ)
إِيَّاكَ أَنْتَ بِكَ نَصَرْتُكَ نَصَرْتَ (أَنْتَ)
إِيَّاكُمَا أَنْتُمَا بِكُمَا نَصَرْتُكُمَا نَصَرْتُمَا (أَنْتُمَا)
إِيَّاكُمْ أَنْتُمْ بِكُمْ نَصَرْتُكُمْ نَصَرْتُمْ (أَنْتُمْ)
إِيَّاكِ أَنْتِ بِكِ نَصَرْتُكِ نَصَرْتِ (أَنْتِ)
إِيَّاكُمَا أَنْتُمَا بِكُمَا نَصَرْتُكُمَا نَصَرْتُمَا (أَنْتُمَا)
إِيَّاكُنَّ أَنْتُنَّ بِكُنَّ نَصَرْتُكُنَّ نَصَرْتُنَّ (أَنْتُنَّ)
إِيَّايَ أَنَا بِيْ نَصَرْتُنِيْ نَصَرْتُ (أَنَا)
إِيَّانَا نَحْنُ بِنَا نَصَرْتُنَا نَصَرْنَا (نَحْنُ)

Keterangan macam isim dhamir dan dalalahnya:

مفرد مذكر غائب : هُوَ (Dia {Laki-laki 1})

تثنية مذكر غائب : هُمَا (Mereka {Laki-laki 2})

جمع مذكر غائب : هُمْ (Mereka {Laki-laki 3})

مفرد مؤنث غائبة : هِيَ (Dia {Perempuan 1})

تثنية مؤنث غائبة : هُمَا (Mereka {Perempuan 2})

جمع مؤنث غائبة : هُنَّ (Mereka {Perempuan 3})

مفرد مذكر مخاطب : أَنْتَ (Kamu {Laki-laki 1})

تثنية مذكر مخاطب : أَنْتُمَا (Kalian {Laki-laki 2})

جمع مذكر مخاطب : أَنْتُمْ (Kalian {Laki-laki 3})

مفرد مؤنث مخاطبة : أَنْتِ (Kamu {Perempuan 1})

تثنية مؤنث مخاطبة : أَنْتُمَا (Kalian {Perempuan 2})

جمع مؤنث مخاطبة : أَنْتُنَّ (Kalian {Perempuan 3})

متكلم وحده : أَنَا (Saya)

متكلم مع الغير/معظم نفسه : نَحْنُ (Kita/kami/untuk dzat yang agung).

2. Isim Istifham (اسم الإستفهام)

Macam-macam isim mabni yang kedua yaitu isim istifham (اسم الإستفهام). Isim istifham  adalah isim yang digunakan untuk bertanya mengenai suatu hal. Dalam bahasa Indonesia disebut kata tanya.

Kalimat tanya adalah kalimat yang idenya berbentuk pertanyaan yang mempunyai tujuan untuk memohon tanggapan atau respon dari seseorang mengenai pertanyaan yang disodorkan.

Dalam bahasa Indonesia, kata tanya memiliki sejumlah jenis beserta fungsi yang berbeda-beda. Begitu juga dalam kaidah bahasa Arab. Lebih jelasnya sebagai berikut.

1) أَ (Apakah, Adakah)

Hamzah ialah huruf hijaiyah (أ) yang mempunyai banyak peranan. Pengertian dari kalimat istifham yang memakai hamzah berada pada formasi penulisannya. Kalimat bertanya yang memakai hamzah hanya dapat dipakai bila sang penanya itu ingin memperoleh kejelasan jawaban.

Contoh : أَمُحَمَّدٌ حَاضِرٌ أَمْ عَلِي ؟ (Apakah Muhammad yang hadir, atau Ali ?).

Kalimat pertanyaan di atas memerlukan jawaban penegasan. Orang yang melontarkan pertanyaan seperti contoh di atas, tentu ingin memperjelas satu antara dua opsi yang ditanya itu kan?. Jadi, seseorang yang ingin melontarkan pertanyaan tipe ini, maka harus menyematkan yang namanya hamzah istifham.

2) هَلْ (Apakah)

Adawatul istifham yang ke-dua ialah hal (هل). Hal (هل) merupakan huruf  istifham yang digunakan untuk bertanya tentang benar atau tidaknya sesuatu.

Contoh: سَأَلَنِيْ هَلْ أُحِبُّهُ فَأَجَبْتُ صَرَاحَةً : لَا (Dia bertanya padaku apakah aku mencintainya ? Lalu kujawab terus terang: tidak).

3) مَنْ (Siapa)

Man (مَنْ) adalah isim istifham mabni sukun untuk aqil baik mudzakar, muannats, mufrad ataupun ghairu mufrad.

Contoh: قَالُوا يَاوَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا  (Mereka berkata: Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur) ?).

4) مَا (Apa)

Dipakai untuk menanyakan info/keterangan suatu nama atau menanyakan inti suatu hal yang dinamakan.

Contoh: مَا اللَّذِيْ حَدَثَ فِي الحَقِيقَةِ ؟ (Apa yang sebenarnya terjadi ?).

Catatan: Apabila ma istifhamiyah (ما إستفهامية) ini kemasukan huruf jer, maka alifnya harus dibuang.

وَ يَجِبُ حَدْفُ آلِفِ "مَا" الإِسْتِفْهَامِيَةِ وَ إِبْقَاءُ الفَتْحَةِ إِذَا سُبِقَتْ بِحَرْفِ جَرٍّ

“Dan wajib membuang alifnya ma istifhamiyah dan menetapkan fathahnya ketika didahului dengan huruf jer”

Contoh: لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ (Untuk apa kalian membicarakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan ?).

5) مَتَى (Kapan)

Di pakai untuk menanyakan perihal waktu, baik itu مضى (masa lampau) ataupun مستقبل (masa sekarang/yang akan datang).

Contoh

  • مَتَى تَحْتَجِيْ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ اتَّصِلِيْ بِي (Kapan pun kamu butuh bantuan, hubungilah aku).
  • اِلَى مَتَى سَتَظِلُّ عَازِبًا ؟ (Sampai kapan kamu terus men-jomblo ?).
  • اطَّلِعِيْ عَلَي سُوْرَتِيْ مَتَى تَشْتَاقِي اِلَيَّ (Lihatlah photoku kapan pun kamu merindukanku).

6) اَيَّانَ (Kapankah)

Kata tanya ini dipakai dalam konteks untuk menanyakan waktu atau masa yang akan datang secara spesifik.

Contoh: اَيَّانَ يَوْمُ القِيَامَةِ ؟ (Kapankah hari kiamad itu ?).

7) كَيْفَ (Bagaimana)

Kata tanya selanjutnya yakni كَيْفَ, isim istifham mabni fathah yang dipakai untuk bertanya mengenai keadaan.

Contoh:

  • أَلَا تَقُوْلِيْنَ لِي كَيْفَ أَفُوْزُ بِحُبِّكِ ؟ (Maukah kau (wanita) mengatakan bagaimana cara aku bisa mendapatkan cintamu ?).
  • كَيْفَ لَهَا اَنْ تُحِبَّ رَجُلًا فَقِيْرًا مِثْلِيْ ؟ (Bagaimana mungkin dia mencintai lelaki miskin seperti saya ?).
  • كَيْفَ أَقُوْلُ وَدَاعًا لِمَنْ فِي قَلْبِهَا أَنَا سَاكِنٌ ؟ (Bagaimana aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang di dalam hatinya aku tinggal ?).

8) اَيْنَ (Di mana)

Kata tanya berikut ini dipakai untuk menanyakan perihal tempat.

Contoh:

  • لَا يَهُمُّنِيْ أَيْنَ أَسْكُنُ شَرْطًا اَنْ تَكُوْنَ مَعِيْ (Saya tidak masalah tinggal di mana, asalkan kamu bersamaku).
  • نَحْنُ أَيْضًا لَا نَعْرِفُ أَيْنَ هُوَ الآنَ (Kami pun tidak tahu di mana dia sekarang).

9) اَنَّى (Dari mana, bagaimanakah, kapankah)

Kata tanya yang satu merupakan kata tanya dalam kaidah bahasa Arab dengan menggunakan maknanya اَيْنَ, مَتَي, مِنْ dan كَيْفَ.

Contoh:

  • أَنَّى يُحْيِيْ هَذِهِ اللّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا (Bagaimana Allah Swt menghidupkan kembali Negeri ini setelah hancur ?).
  • يَا مَرْيَمُ اَنَّى لَكِ هذَا (Wahai Siti Maryam, dari mana kamu mendapatkan (makanan) ini ?).
  • زِدْ اَنَّى شِئْتَ (Tambahlah kapanpun kamu mau).

10) كَمْ (Berapakah)

Kata tanya atau isim istifham berupa كَمْ, ialah kata tanya yang dipakai untuk menanyakan perihal عدد (bilangan) dan isim yang terjatuh setelahnya dibaca nashab menjadi tamyiz.

Contoh:

  • كَمْ تَقْرِيْبًا عَدَدُ المَعَاهِدِ فِي إِنْدُوْنِيْسِيَا ؟ (Berapa kira-kira jumlah pesantren di Indonesia ?).
  • كَمْ يُسَاوِي الطُّنَّ مِنَ الكِيْلُوْ جِرَامِ ؟ (Satu ton sama dengan berapa kilogram ?).

11) أَيٌّ (Siapakah, mana saja, apa saja)

Isim istifham / kata tanya yang terakhir yakni أَيٌّ (Siapakah, mana saja, apa saja) yang dipakai untuk menanyakan dua perkara yang mungkin baik bagi عاقل (berakal) ataupun غير عاقل (tidak berakal). Berbeda dengan adad istifham lainnya, أَيٌّ disini hukumnya adalah mu’rab. Adapun i’rabnya, di perhitungkan berdasarkan konteks kalamnya.

Contoh:

  • أَيُّ المَوْعِيْدَيْنِ أَفْضَلُ اليَوْمُ أَمِ الغَدُ ؟ (Mana waktu yang lebih pas, hari ini atau besok ?).
  • أَيٌّ مِنْ هؤُلَاءِ المُرَشَّحِيْنَ حَفِظَ القُرْآنَ ؟ (Siapa diantara calon-calon itu yang hafal Al-Qur’an ?).

Baca juga : 10 Contoh Isim Mabni dalam Al-Qur'an beserta Artinya

3. Isim Syarat (اسم الشرط)

Isim syarat ialah isim yang memiliki fungsi sebagai penghubung antara dua kalimah, yang di mana kalimah pertama menjadi syarat dari kalimah yang kedua, dalam hal ini kalimah yang pertama disebut sebagai syarat dan kalimah yang kedua disebut sebagai jawabnya. Berikut macam-macam isim syarat.

1) مَنْ (Barangsiapa)

Isim syarat مَنْ adalah isim mabni sukun yang dapat menjazemkan dua fi’il, yaitu fi’il yang menjadi syaratnya dan fi’il yang menjadi jawabnya. Isim syarat مَنْ digunakan untuk aqil, baik itu mudzakar, muannats, mufrad maupun ghairu mufrad.

Contoh:

  • مَنْ يَعْمَلْ سُوْءً يُجْزَ بِهِ (Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi balasa atas kejahatan itu).
  • فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (maka barangsiapa yang telah berbuat baik sekecil apapun itu dia akan melihat amalan tersebut).

2) مَا (Apa yang)

Isim syarat yang menjazemkan dua fi’il, yakni fi’il yang dimasukinya (syarat) dan yang menjadi jawabnya.

Contoh: وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ (Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya).

3) مَتَى (ketika, kapan)

Isim syarat مَتَى adalah isim yang menunjukkan arti kata waktu dan dapat menjazemkan dua fi’il. Terkadang setelah مَتَى juga ditambahi مَا zaidah.

Contoh:

  • مَتَى تَجْتَهِدْ تَنْجَحْ (Ketika kamu bersungguh-sungguh, maka kamu akan sukses).
  • مَتَى مَا يَزُرْنِي أَخُوْكَ أُعْطِهِ هَدِيَّةً (Kapan saudarmu mengunjungiku, maka akan aku beri ia hadiah).

4) أَيَّانَ (Bilamana, ketika)

Yaitu isim mabni fathah yang menunjukkan makna waktu dan dapat menjazemkan dua fi'il mudlari’.

Contoh: أَيَّانَ يَكْثُرْ فَرَاغُ الشَّبَابِ يَكْثُرْ فَسَادُهُمْ (Bilamana pemuda-pemuda banyak waktu penganggurannya, maka banyak juga kerusakannya).

5) أَيْنَ (Di mana)

أَيْنَ adalah isim syarat mabni fathah yang juga dapat menjazemkan dua fi'il.

Contoh: اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا (Di mana pun kamu sekalian berada, pasti Allah SWT akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat)).

6) أَيْنَمَا (Di mana saja, di mana pun)

Asal muasal lafadz أَيْنَمَا adalah أَيْنَ yang kemudian mendapat imbuhan مَا menjadi أَيْنَمَا dengan arti di mana saja/di mana pun. Jadi مَا di situ merupakan مَا ziyadah atau tambahan.

Contoh: أَيْنَمَا تَكُوْنُوْ يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ (Di mana pun kamu sekalian berada, kematian akan menemukan kalian).

7) أَنَّى (Di mana, Di mana saja)

أَنَّى adalah isim syarat yang menggunakan maknanya أَيْنَ (Di mana, di mana saja).

Contoh: أَنَّى تَبْحَثْ تَجِدْ فَائِدَةً (Di mana kamu mengkaji, pasti akan menemukan faidah).

8) حَيْثُمَا (Di mana saja)

حَيْثُمَا adalah isim syarat mabni dhammah yang dapat menjazemkan dua fi’il. Fi’il yang pertama merupakan fi’il syarat, dan yang kedua menjadi jawabnya. حَيْثُ itu sendiri adalah dharaf makan (الظرفية المكانية) dalam hal maknanya. Adapun مَا yang terdapat pada akhir lafadz حَيْثُمَا merupakan zaidah atau tambahan.

Contoh: حَيْثُمَا تَكْثُرِ السِّلْعُ تَنْخَفِضِ الاَسْعَارُ (Di mana saja banyak barang dagangan, maka akan merosot pula harganya).

9) كَيْفَمَا (Bagaimana pun, betapa juga)

Asal mula lafadz كَيْفَمَا adalah كَيْفَ yang kemudian mendapat tambahan مَا menjadi كَيْفَمَا dengan arti bagaimana pun atau bagaimana juga.

Contoh: كَيْفَمَا تَكُنْ يَكُنْ قَرِيْنُكَ (Bagaimana pun keadaanmu, istrimu akan selalu ada).

10) أَيُّ (Mana saja, apa saja)

Isim syarat yang terakhir yakni أَيُّ (Mana saja, apa saja), dan pada umumnya bertemu dengan مَا zaidah atau tambahan. أَيُّ itu sendiri sebenarnya tidaklah mabni, ia dihukumi mu’rab (yang berubah harakat akhirnya).

Contoh: أَيُّ كِتَابٍ تَقْرَأهُ يُفِدْكَ (Mana saja buku yang kamu baca, akan bermanfaat bagimu).

Catatan: Untuk membedakan antara isim syarat dan isim istifham dapat dilihat dari penggunaannya. Kalau isim istifham dipakai untuk menghimpun informasi. Sedangkan isim syarat itu dipakai untuk menjadikan satu dari dua kalimat yang terkait oleh sebab dan akibat.

4. Isim Isyarah (إِسْمُ الإِشَارَةِ)

Isim mabni yang keempat yaitu isim isyarah. Apa itu isim isyarah ? Isim isyarah adalah isim yang menjelaskan sesuatu dengan cara penunjukkan. Bentuk-bentuk dan contoh isim isyarah sebagaimana berikut ini.

a. ذَا (Ini, yang ini)

Isim isyarah yang pertama yaitu ذَا yang biasa diartikan dengan "ini" atau "yang ini". ذَا adalah isim isyarah yang digunakan untuk musyar ilaih (yang ditunjuk) berupa mufrad mudzakar, baik itu aqil (berakal) atau ghairu aqil (tidak berakal), dan baik itu menempati mahal rafa’, nashab, maupun jer.

بِذَا لِمُفْرَدٍ مُذَكَّرٍ آشِرْ ... |

“Isyarahilah dengan memakai dza (ذَا) untuk mufrad mudzakar"

Dan musyar ilaihnya isim isyarah itu pasti berupa lafadz yang dimasuki ال.

Contoh:

  • ذَا اللَّحْمُ شَوَيْتُهُ (Api ini membakarnya).
  • إِرْحَمْ ذَا الهِرَّةِ (Sayangilah kucing ini).
  • قُمْتُ اَمَامَ ذَا الرَّجُلِ (Aku berdiri di depan pemuda ini).

b. ذِى, ذِهْ, تِى, تَا (Ini, yang ini)

Jika pada lafadz ذَا digunakan untuk musyar ilaih yang berupa mufrad mudzakar. Maka, ذِى, ذِهْ, تِى, تَا digunakan untuk musyar ilaih berupa mufrad muannats, baik itu aqil (berakal) ataupun ghairu aqil (tidak berakal), dan baik itu menempati mahal rafa’, nashab, maupun mahal jer.

|... بِذِى وَ ذِهْ تِى تَا عَلَى الأُنْثَى اقْتَصِرْ

“Cukupkanlah dengan menggunakan ذِى, ذِهْ, تِى, تَا untuk mufrad muannats”

Contoh:

  • ذِى القَلَنْسُوَةُ إِشْتَرَيْتُهَا (Peci ini telah saya beli).
  • نَصَرْتُ ذِهِ العَجُوْزَ (Aku telah menolong orang tua (perempuan) ini).
  • تِى الدَجَاجَةُ رَمَيْتُهَا بِتَا الحَصَاةِ (Ayam jago ini kulempari dengan batu kerikil ini).

c. ذَانِ, تَانِ (Ini, yang ini)

Isim isyarah yang selanjutnya yaitu ذَانِ dan تَانِ yang dipakai untuk musyar ilaih berupa tastniyah yang menempati mahal rafa’ saja, baik itu aqil (berakal) maupun ghairu aqil (tidak berakal).

| ... وَذَانِ تَانِ لِلْمُثَنَّى المُرْتَفِع

“Dan dengan ذَانِ dan تَانِ untuk tastniyah mahal rafa”.

Perbedaan antara keduanya yakni, kalau ذَانِ untuk mudzakar, sedangkan تَانِ untuk musyar ilaih yang berupa muannats.

Contoh:

  • ذَانِ الرَّجُلَانِ يَذْهَبَانِ إِلَى المَسْجِدِ (Kedua pemuda (lk) ini pergi ke masjid).
  • تَانِ الطَّالِبَتَانِ تَقْرَآنِ القُرْآنَ (Kedua pelajar (pr) ini sedang membaca Al-Qur’an).

d. ذَيْنِ، تَيْنِ (yang ini)

Jika ذَانِ dan تَانِ dipakai untuk musyar ilaih berupa tastniyah mahal rafa’, maka ذَيْنِ dan تَيْنِ digunakan untuk musyar ilaih tastniyah mahal nashab dan jer, baik aqil ataupun ghairu aqil.

وَفِي سِوَاهُ ذَيْنِ تَيْنِ اذكُرْ تُطِع | ...

“Sebutlah dengan ذَيْنِ dan تَيْنِ musyar ilaih tastniyah selain mahal rafa’, maka kamu ta’at”.

ذَيْنِ untuk musyar ilaih mudzakar, dan تَيْنِ untuk muannats.

Contoh:

  • أَطْعَمُ ذَيْنِ الخُبْزَيْنِ (Aku mencicipi kedua roti ini).
  • صَنَعْتُ الشُّرْبَ لِتَيْنِ المَرْأَتَيْنِ (Aku membuat minuman untuk kedua wanita ini).

e. اُوْلَى (dengan makna اللَّذِينَ)

اُوْلَى adalah isim isyarah yang digunakan untuk musyar ilaih mudzakar atau muannats berupa jamak secara mutlak, baik untuk mahal rafa’, nashab maupun jer.

... وَبِاُولَى أَشِرْ لِجَمْعٍ مُطْلَقَا | وَالمَدُّ اَوْلَى

“Dan isyarahilah jamak dengan menggunakan اُوْلَى secara mutlak, dan dibaca mad itu lebih utama”.

Lafadz اُوْلَى (dibaca qhasar) juga dapat dibaca mad menjadi اُوْلَاءِ. Ketika dibaca dibaca qhasar, maka hukumnya adalah mabni sukun. Jika dibaca mad (اُوْلَاءِ) maka hukumnya menjadi mabni kasrah. Lalu, lebih utama mana, dibaca qhasar (اُوْلَى) atau dibaca mad (اُوْلَاءِ) ? Sebagian besar ulama ahli nahwu mengatakan lebih baik dibaca mad daripada dibaca qhasar.

Contoh: اُولَى تُحِبُّوْنَهُمْ / اُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ (Orang-orang ini menyukai mereka).

Pada umumnya, اُوْلَى / اُوْلَاءِ digunakan untuk mengisyarahi musyar ilaih berupa aqil (berakal). Adapun yang digunakan untuk mengisyarahi musyar ilaih ghairu aqil (tidak berakal) itu langka adanya. Contohnya seperti syair di bawah ini.

ذَمُّ المَنَازِلَ بَعْدَ مَنْزِلَةِ اللِّوَى | وَالعَيْشَ بَعْدَ اُولَئِكَ الاَيَّامَ

“Kecamlah pangkat-pangkat setelah peristiwa di lembah Liwa dan kecam juga keadaan kehidupan setelah hari-hari itu”.

f. هُنَا / هَهُنَا (Di sini / di tempat ini)

Isim isyarah yang terakhir yakni هُنَا / هَهُنَا (Di sini / di tempat ini). هُنَا / هَهُنَا adalah isim isyarah yang digunakan untuk mengisyarahi musyar ilaih berupa tempat yang dekat.

... وَبِهُنَا اَوْ هَهُنَا أَشِرْ اِلَى | دَانِى المَكَانِ

“Dan isyarahilah dengan هُنَا / هَهُنَا pada tempat yang dekat”.

Contoh: إِجْلِسْ هُنَا (Duduklah di sini), قِفْ هَهُنَا (Berhentilah di sini).

Dari macam-macam adat isyarah yang telah disebutkan di atas tadi adalah adat isyarah yang digunakan untuk musyar ilaih yang dekat. Lalu pertanyaannya, ketika kita menghendaki musyar ilaih yang jauh bagaimana ? Yups betul, kita hanya cukup menambahkan kaf (ك) huruf khitab saja, baik dibarengi dengan lam bu’da (lam yang terjatuh setelahnya) maupun disepikan dari lam bu’da (ل).

وَلَدَى البُعْدِ انْتِقَا ... | ...
بِالكَافِ دُوْنَ لَامٍ اَوْ مَعَه | وَاللَّامُ اِنْ قَدَّمْتَ هَا مُمْتَنِعَه

“Dan ucapkanlah saat menunjukkan musyar ilaih yang jauh dengan kaf khitab baik bersamaan dengan lam bu’da atau tidak. Dan ketika kamu mendahulukan ha’ ta’nits, maka penambahan lam bu’da itu tercegah”.

Misalnya, ذَا adalah isim isyarah untuk musyar ilaih yang dekat. Ketika kita menghendaki musyar ilaih yang jauh, maka tambahkanlah kaf khitab pada lafadz ذَا baik dibarengi dengan lam bu’da ataupun tidak, alhasil menjadi ذَاكَ / ذَلِكَ (yang itu). Dan seterusnya.

Selain itu, kita juga dapat menambahkan ha’ ta’nits pada awal lafadznya. Alhasil, dari ذَا menjadi ذَاكَ / ذَلِكَ kemudian ditambahkan ha’ ta’nits pada awal lafadznya menjadi هَذَاكَ, dan seterusnya. Akan tetapi, jika isim isyarah tersebut sudah dibarengi dengan lam bu’da, maka tidak boleh ditambahi dengan ha’ ta’nits di awal lafadznya. Misalkan ذَلِكَ, tidak boleh diucapkan menjadi هَذَلِكَ. Wajib memilih satunya, menggunakan ha’ ta’nits هَذَاكَ atau lam bu’da ذَلِكَ ?.

وَبِهِ الكَافَ صِلَا ... | ...
فِى البُعْدِ اَوْ بِثَمَّ فُهْ اَوْ هَنَّا | اَوْ بِهُنَالِكَ انْطِقَنْ اَوْ هِنَّا

“Temukanlah هُنَا / هَهُنَا dengan kaf pada musyar ilaih yang jauh atau ucapkanlah dengan lafadz ثَمَّ / هَنَّا / هُنَالِكَ / هِنَّ".

Tidak sama dengan isim isyarah lainnya, هُنَا / هَهُنَا di sini mendapat perlakuan yang berbeda, yaitu ketika هُنَا / هَهُنَا dikehendaki untuk mengisyarahi musyar ilaih berupa tempat yang jauh, maka harus dipertemukan dengan kaf khitab saja, atau dengan mendatangkan lafadz ثَمَّ / هَنَّا / هُنَالِكَ / هِنَّ. Alhasil, ketika هُنَا / هَهُنَا dikehendaki menunjukkan musyar ilaih yang jauh, maka menjadi هُنَاكَ / هَهُنَاكَ.

5. Isim Maushul (اِسْمُ المَوْصُوْلِ)

Macam-macam isim mabni yang kelima yaitu isim maushul (اِسْمُ المَوْصُوْلِ). Sebenarnya maushul dalam ilmu nahwu itu terbagi menjadi dua bagian, yakni isim maushul dan huruf maushul. Namun, berhubungan kita di sini membahas mengenai isim-isim yang mabni, jadi kita akan terfokus pada isim maushul saja. Apa itu isim maushul ?

هُوَ الإِسْمُ المُبْهَمُ الَّذِي يَحْتَاجُ فِي تَوْضِيْحِهِ وَتَعْيِيْنِ المُرَادِ مِنْهُ إِلَى شَيْئٍ يَتَّصِلُ بِهِ

“Isim maushul adalah isim yang masih samar, dan untuk menghilangkan kesamaran serta menyatakan maksudnya membutuhkan sesuatu yang sambung dengannya”.

Baca juga : Isim Maushul dan Huruf Maushul

Perhatikan lafadz الَّذِي di atas, lafadz ini statusnya masih samar. Nah, untuk menghilangkan kesamarannya ini ia membutuhkan sesuatu yang sambung dengannya (dalam ilmu nahwu disebut shilah maushul), yakni يَحْتَاجُ sehingga jelas maksudnya.

Isim maushul dibagi ke dalam dua macam, yaitu :
  1. Isim maushul mukhtash (مختص),
  2. Isim maushul musytarak (مشترك).
Spesifikasi dari pembagian isim maushul tersebut sebagai berikut.

a. Mukhtash (مختص)

هُوَ مَا كَانَ نَصًّا فِي الدَّلَالَةِ عَلَى بَعْضِ الأَنْوَاعِ وَمُقْتَصِرًا عَلَيْهَا وَلَايَتَعَدَّاهَا

“Isim yang jelas dalam menunjukkan pada sebagian macam dan terbatas pada sebagian macam tadi”.

Adapun isim-isim yang termasuk kelompok isim maushul mukhtash yaitu;

1) الَّذِي / الَّتِي

| ... مَوْصُوْلُ الأَسْمَاءِ الَّذِيْ الأُنْثَى الَّتِيْ

“Termasuk isim-isim masuhul yaitu alladzi (الَّذِيْ) untuk mudzakar dan allati (الَّتِيْ) untuk muannats”.

Alladzi atau allati (الَّذِي / الَّتِي) adalah isim maushul yang termasuk golongannya isim maushul mukhtash, yang digunakan untuk aqil (berakal) atau ghairu aqil (tidak berakal), baik menempati mahal rafa’, nashab, ataupun jer. الَّذِي untuk mufrad mudzakar dan الَّتِي untuk mufrad muannats. Terkadang keduanya (الَّذِي / الَّتِي) diucapkan dengan lafadz اللَّذْ / اللَّتْ.

Contoh:

  • العِلْمُ هُوَ الّذِيْ يَحْرِسُكَ لَا المَلُ (Ilmulah yang menjagamu, bukan harta).
  • لَنْ تَرْجِعَ الاَيَّمُ الَّتِيْ مَضَتْ أَبَدًا (Hari-hari yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi).

Penggunaan الَّذِي / الَّتِي ini terbatas, artinya ia hanya bisa digunakan untuk mufrad mudzakar/ muannats saja, tidak bisa dipakai untuk tasniyyah maupun jama’.

2) اللَّذان / اللَّتَانِ

Asal muasal lafadz اللَّذان / اللَّتَانِ adalah lafadz الَّذِي / الَّتِي, ya’ (ي) yang berada di akhir kalimahnya dibuang kemudian di tambahi dengan alamatnya isim tasniyyah, yakni alif nun (ا+ن) ketika rafa’ dan ya’ nun (ي+ن) ketika mahal nashab dan jer.

وَاليَا إِذَا مَا ثُنِّيَ لاَ تُثْبِتِ ... |
... | بَلْ مَا تَلِيْهِ اَوْلِهِ العَلَامَةْ

“Ketika الَّذِي / الَّتِي hendak ditasniyyahkan, maka janganlah kamu menetapkan ya’ (dibuang) kemudian berilah alamat tasniyyah”.

Contoh:

  • سَافَرَ اللَّذَانِ أَقَامَ بِالفُنْدُقِ (Dua orang yang menginap di hotel ini sudah pergi).
  • اللَّتَانِ وَاظَبَتَا عَلَى الحُضُوْرِ نَجَحَتَا (Dua murid (pr) yang rajin hadir telah lulus).

Lafadz اللَّذان / اللَّتَانِ memiliki dua macam bacaan, yakni dapat dibaca dengan menambahkan lam (اللَّذَان/اللَّتَانِ/اللَّذَيْنِ/اللَّتَيْنِ) atau tanpa penambahan lam (الَّذَانِ/الَّتَانِ/الَّذَيْنِ/الَّتَيْنِ).

3) الاُوْلَى / اللَّذِيْنَ

Dalam bahasa Arab, lafadz الاُوْلَى / اللَّذِيْنَ juga berlaku isim maushul yang mukhtash. Lafadz الاُوْلَى / اللَّذِيْنَ dipakai untuk dalalah mudzakar baik mahal rafa’, nashab, maupun jer.

... | جَمْعُ الَّذِيْ الاُولَى الَّذِيْنَ مُطْلَقَا

“Jamaknya الَّذِيْ adalah الاُولَى dan الَّذِيْنَ secara mutlak".

Contoh:

  • جَاءَ الاُولَى نَجَحُوْا مُبْتَهِجِيْنَ (Siswa-siswa yang lulus telah tiba dalam keadaan senang sekali).
  • اَمَّا الَّذِيْنَ لَمْ يُؤْمِنُوْا فَمَا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الصِّيَامُ (Adapun orang-orang yang tidak beriman, tidak diwajibkan atas mereka berpuasa).

4) اللَّاتِ / اللَّاءِ

Dalam ilmu Nahwu, lafadz اللَّاتِ / اللَّاءِ bisa juga diucapkan dengan penetapan ya’ diakhir kalimahnya, yakni اللَّاتِي / اللَّائِي, yang digunakan untuk dalalah jamak muannats aqil atau ghairu aqil, baik mahal rafa’, nashab, maupun jer.

Contoh:

جَاءَنِي اللَّاتِ / اللَّاءِ يَرْجِعْنَ مِنَ السَّوْقِ (Orang-orang (pr) yang kembali dari pasar mendatangiku).

2. Musytarak (مشترك)

Jika dalam maushul mukhtash memiliki peranan yang terbatas pada sebagian macam, maushul musytarak ini adalah kebalikan dari maushul mukhtash tersebut.

الَّذِيْ لَايَقْتَصِرُ عَلَى بَعْضِ الأَنْوَاعِ بَلْ يَصْلُحُ لَهَا جَمِيْعًا

“Isim yang tidak terbatas pada sebagian macam bahkan patut digunakan pada sebagian macam”.

Artinya, isim maushul musytarak ini dapat digunakan untuk dalalah mufrad, tastniyah, jamak dan juga untuk mudzakar atau muannats mahal rafa’, nashab, dan jer baik itu aqil maupun ghairu aqil.

Adapun isim-isim yang termasuk isim maushul musytarak di antaranya yaitu مَنْ ,مَا dan ال. Sebenarnya masih ada lagi selain ketiga yang telah disebutkan itu. Namun, untuk pembahasan yang lebih terinci lagi membutuhkan bab tersendiri.

Contoh:

  • جَاءَنِي مَنْ نَصَرَ (Orang (lk) yang menolong telah datang padaku).
  • أَعْجَبَنِي مَا كَتَبْتَ مِنَ المَادَّةِ (Aku suka sebuah artikel yang kamu tulis).
  • جَاءَنِي الضَّارِبُ (Orang (lk) yang memukul telah mendatangiku).

Baca juga: Contoh Isim Maushul dalam Al-Qur'an

Dari semua isim maushul yang telah disebutkan di atas statusnya adalah mabni kecuali isim maushul اللَّذان / اللَّتَانِ. Status keduanya ini adalah mu’rab, sebagaimana i’rabnya isim tasniyah. Yaitu alif ketika mahal rafa’, ya’ ketika mahal nashab dan jer.

6. Isim fi’il (اِسْمُ الفِعْلِ)

Isim-isim mabni yang terakhir yaitu isim fi’il (اِسْمُ الفِعْلِ). Isim fi’il adalah isim yang digunakan untuk menunjukkan suatu pekerjaan, akan tetapi ia tidak memiliki ciri-ciri kalimah fi’il. Jika dilihat dari waktunya, isim fi’il dibagi menjadi tiga bagian, yakni isim fi’il madli, isim fi’il mudlari’, dan isim fi’il amr.

Baca juga : Macam-macam Fi'il Beserta Cirinya

Contoh isim fi’il madli: yaitu lafadz هَيْهَاتَ dengan memakai maknanya lafadz بَعُدَ (jauh, menjauh).

Contoh isim fi’il mudlari’: seperti lafadz قَطْ bermakna يَكْفِى (cukup, menjadi cukup, mencukupi).

Contoh isim fi’il amr: seperti lafadz yang populer kita ucapkan sehari-harinya, yakni lafadz آمِيْنَ bermakna إِسْتَجِبْ (kabulkanlah).

Meskipun isim fi’il ini sebagai ganti dari fi’il, namun tetap dapat berperan sebagaimana fi’il yang digantikannya. Artinya, dapat merafa’kan isim sebagai fa’ilnya dan menashabkan isim sebagai maf’ulnya.

Baca juga : Makalah Isim Mabni dan Mu'rab

Demikianlah penjelasan seputar isim mabni. Selain macam-macam isim mabni yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih ada lagi isim yang berstatus mabni, yaitu isim adat (bilangan) dan sebagian isim dharaf, yang insyallah akan dirinci pada artikel kami selanjutnya.