Skip to main content

Pengertian Makkiyah dan Madaniyah beserta Cirinya

Daftar Isi [ Tampil ]
Pengertian Makkiyah dan Madaniyah beserta Cirinya

Dalam perkembangan dinamika turunnya wahyu ada bermacam istilah-istilah yang muncul dalam kajian study al-Qur'an di antaranya adalah istilah Makkiyah dan Madaniyah.

Kedua kata tersebut diambil dari dua nama kota besar di Jazirah Arab yakni kota Makkah dan kota Madinah. Pada kesempatan ini, kami akan menjelaskan mengenai pengertian Makkiyah dan Madaniyah beserta cirinya. Apa itu Makkiyah dan Madaniyah ? Apa saja ciri-ciri dari keduanya ? berikut jawabannya.

Pengertian Makkiyah dan Madaniyah

Kata Makki dan Madani atau yang umum disebut dengan Makkiyah dan Madaniyah adalah salah satu dari keterangan ayat atau surat yang ada di dalam Al-Qur'an. Makki dan Madani atau Makkiyah dan Madaniyah adalah salah satunya disiplin Ilmu Al-Quran yang membicarakan dua masa penting mengenai turunnya ayat atau surat dalam Al-Qur'an dan dalam menetapkan ayat-ayat atau surat mana yang terhitung Makkiyah dan mana yang termasuk Madaniyah terhadap sejumlah teori yang sudah di kemukakan oleh para ulama.

Para ulama menyampaikan beberapa sudut pandang dalam mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyah. Beberapa sudut pandang tersebut adalah masa turun (an-nuzul), tempat turun (makan an-nuzul), dan objek pembicaraan (maudlu').

Dalam sudut pandang masa turun (an-nuzul), beberapa ulama' mendefinisikan kalau Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan saat sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, walaupun tidak turun di Makkah. Sedangkan Madaniyah yaitu ayat-ayat yang diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, meskipun turun di Makkah atau Arafah.

Dalam sudut pandang tempat turun, Makkiyah didefinisikan seabagai ayat -ayat yang di turunkan di Makkah dan Madaniyah. Sedangkan Madaniyah yaitu ayat-ayat yang di turunkan di Madinah dan sekitarnya.

Akan tetapi dari sudut pandang itu ada kekurangan dalam pendefinisiannya, karena ada ayat-ayat tertentu yang tidak di turunkan di Makkah dan Madinah atau sekitarnya. Seperti Q.S. Az-Zukhruf (43): 45 yang di turunkan di Baitul Muqaddas, Q.S. At-Taubah (9): 42 yang di turunkan di Tabuk. Maka dari itu apabila menyaksikan pengertian dari sudut pandang tempat turun maka ayat-ayat itu tidak bisa di kelompokkan ke dalam surah Makkiyah ataupun Madaniyah.

Di lain sisi , dalam sudut pandang obyek pembicaraan diartikan bahwa Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab untuk orang-orang Madinah. Pengertian itu dirumuskan oleh beberapa ulama' berdasar pada anggapan kalau banyak ayat-ayat Al-Quran yang di awali dengan "يَا اَيُّهَا النَّاسُ" yang menjadi kriteria Makkiyah dan ungkapan "يَا أَيُّهَا اللَّذِيْنَ" sebagai kriteria Madaniyyah.

Kata Makkiyah dan Madaniyah tidaklah istilah syar'i yang konsepnya ditetapkan oleh Nabi, ia sekedar hanya istilah teknis yang disetujui oleh para ulama tafsir untuk mengarah pada suatu piranti analisa yang dipakai untuk memperoleh data mengenai situasi pewahyuan al-Qur'an pada audiennya yang pertama waktu itu.

Secara geografis Al-Qur'an diturunkan di dua tempat, yakni di Makkah dan di Madinah. Ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya disebut dengan ayat-ayat Makkiyah, sedangkan Ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya dinamakan ayat-ayat Madaniyah.

Pakar study al-Qur'an mendefinisikan Makkiyah dan Madaniyah dalam pengelompokan tempat, fase, dan redaksi. Seperti kitab al-Burhan fi Ulum al-Qur'an karya Imam Zarkasyi. Beliau memberi pengertian Makkiyah dan Madaniyah dalam tiga bentuk:

  1. Dari sisi tempat, Makkiyah yaitu ayat-ayat yang di turunkan di Makah, sedangkan Madaniyah merupakan ayat-ayat yang di turunkan di Madinah.
  2. Dari sisi fase, Makkiyah merupakan ayat atau surat yang di turunkan saat sebelum Nabi hijrah, sedangkan Madaniyah yaitu ayat atau surat yang di turunkan setelah Nabi hijrah.
  3. Dari sisi redaksi, Makkiyyah yaitu ayat atau surat yang diperuntukkan pada masyarakat Makkah, sedangkan Madaniyah merupakan ayat atau surat yang diperuntukkan pada masyarakat Madinah.

Ciri-ciri Surat Makkiyah adalah:

  1. Ayat dan suratnya pendek, singkat, berkekuatan ekspresi dan mempunyai bunyi-bunyi yang relatif semacam,
  2. Banyak memakai tata bahasa penegasan dan pengokohan, baik lewat qasam, amtsâl, tasybîh, dan sebagainya,
  3. Banyak memakai fashilah,
  4. Ungkapannya kuat dan beritme,
  5. Menyeru pada keimanan kepada Allah SWT, hari akhir, dan penggambaran surga dan neraka,
  6. Menyeru untuk berpijak dengan adab mulia dan aturan-aturan umum yang tidak berubah sepanjang waktu dan tempat,
  7. Mengingatkan orang-orang kafir dan musyrik lewat kisah Nabi dan orang-orang terdahulu lainnya.

Ciri-ciri Surat Madaniyah adalah:

  1. Tata bahasanya panjang dan condong membahas secara panjang lebar (ithnâb),
  2. Lafalnya gampang dan populer amat sedikit memiliki kandungan lafal-lafal yang asing,
  3. Memakai tata bahasa yang tenang dan argumentatif saat berunding dengan ahlul kitab, dan memakai tata bahasa kritikan tajam saat berdiskusi dengan mereka,
  4. Berbicara secara panjang lebar mengenai penetapan aturan hukum praktis, baik di tataran keluarga, warga, Negara, atau jalinan antar bangsa, baik di saat nyaman maupun perang,
  5. Mengajak ahlul kitab untuk membahas mengenai akidah keagamaan yang keliru,
  6. Menerangkan mengenai kesesatan orang munafik dan kebencian serta rasa perseteruan yang mereka tutup-tutupi sejauh ini.

Itulah pengertian Makkiyah dan Madaniyah beserta cirinya yang perlu untuk kita ketaui bersama. Semoga bermanfaat dan kurang lebihnya mohon maaf, sekian dan terima kasih atas kunjungan Anda.

Sumber:

  • Badruddin Muhammad bin Abdullah bin Bahadur al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an  juz 1, hlm 191.
  • Majma’ al-Malik Fahd, Al-Makky wa al-Madany, hlm 10.