Skip to main content

Filosofi Nahwu Shorof dalam Kehidupan Manusia

Daftar Isi [ Tampil ]
Filosofi Nahwu Shorof

Filosofi Nahwu Shorof dalam Kehidupan Manusia - Nahwu shorof adalah cabang keilmuan yang mengulas kaidah-kaidah bahasa Arab atau ketentuan-ketentuan dalam bahasa Arab. Dengan kedua cabang ilmu ini, kita bisa mengetahui keadaan maupun kedudukan kata perkata (mufrad) dan saat setelah tersusun (murakkab) menjadi kalimat sempurna. Dengan nahwu shorof, suatu kata serta kalimat dapat memiliki makna secara sempurna. Artinya, kata atau kalimat tersebut bisa dimengerti secara utuh.

Tanpa ilmu nahwu shorof suatu kata atau kalimat akan sulit untuk dimengerti makna, tujuan dan maksudnya. Dalam kata lain, nahwu shorof mengubah dari suatu hal yang belum berarti menjadi lebih berarti, dari suatu yang kurang bermakna menjadi lebih bermakna, dari suatu hal yang kurang terang arah dan maksudnya menjadi lebih terang maksudnya, dari suatu hal yang masih remang-remang menjadi tampak terang, dan seterusnya.

Terdapat berbagai materi dasar yang perlu dimengerti secara utuh saat mempelajari nahwu shorof dan itu merupakan kunci sukses dalam belajar ilmu nahwu shorof. Tanpa memahami secara utuh materi-materi dasar tersebut, maka akan menjadi penghalang menggapai keberhasilan mempelajari ilmu nahwu dan shorof. Beberapa materi dasar dalam ilmu nahwu shorof di antaranya yaitu, fi'il, fa'il, isim, mubtada khobar dan huruf. Saat diperinci lebih spesifik lagi, istilah-istilah dalam nahwu tersebut akan melahirkan istilah baru seperti, fi'il madhi, fi'il mudhori, fi'il amar, isim mufrad, isim jamak dan sebagainya. Ketika berbicara mengenai huruf akan berbicara pula mengenai cabangnya seperti huruf jeer, huruf nashab dan lain-lain. Artinya, di dalam ilmu nahwu dan shorof banyak istilah-istilah yang perlu dimengerti, yang dapat juga diterapkan pada kehidupan manusia sehari-hari.

Baca juga : Bait Sya'ir Alfiyah tentang Kehidupan

Pertama, fi'il atau kata kerja, yakni yang memperlihatkan keadaan sudah, sedang/akan melakukan suatu aktivitas tertentu. Maknanya, sebagai manusia kita mesti mempunyai pekerjaan (yang pasti) sehingga gampang untuk menggapai keberhasilan. Karena suatu keberhasilan akan susah dicapai bila tidak disertai dengan kepastian pekerjaan tertentu. Orang yang yang tidak jelas model pekerjaannya akan susah diprediksikan menjadi orang sukses. Oleh karenanya, istilah fi'il yang diketahui sebagai kata kerja dalam ilmu nahwu shorof ini mesti menjadi inspirasi dalam melaksanakan pekerjaan atau aktivitas yang pasti.

Baca juga : Ilmu Nahwu dalam Bahasa Arab : Pengertian dan Kajiannya di Dunia Arab

Kedua, fa'il atau yang melakukan suatu pekerjaan (subyek). Dalam konteks kehidupan manusia, fa'il merupakan seseorang yang giat melakukan pekerjaan, pekerjaan yang baik tentunya. Tiap orang yang mampu dan rajin atau terampil dalam menjalankan suatu pekerjaan patut disebut sebagai fa'il. Dalam ilmu nahwu shorof, di mana ada fi'il di situ juga ada fa'il, maknanya tiap pekerjaan atau aktivitas yang diagendakan atau diterima mesti dilakukan dengan baik dan benar. Tiap manusia hidup di dunia, selain sebagai fi'il juga harus mampu berperan sebagai fa'il, yakni tiap manusia tentu menginginkan sebuah keberhasilan. Apa yang diharapkan harus diagendakan dengan baik dan dikerjakan dengan langkah yang baik dan benar. Fa'il dalam konteks kehidupan manusia mewajibkan tiap manusia mesti mampu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang telah dimiliki dan diamanahkan kepadanya. Meskipun orang memiliki pekerjaan yang baik, jika tidak dijalankan dengan baik dan benar, maka akan sia-sia bukan ?

Ketiga, isim atau kata benda, yakni sebuah bentuk atau wujud yang bisa disaksikan dan dirasa baik oleh diri sendiri maupun pihak lain. Isim yang selalu ditelaah atau diulas dalam ilmu nahwu shorof memiliki kandungan arti bahwa tiap orang yang melakukan pekerjaan atau tugas ( fi'il dan fa'il) haruslah mendatangkan sebuah produk yang baik dan benar serta berkualitas. Benda yang diartikan dalam ilmu nahwu dan shorof bila di implikasikan di dalam kehidupan manusia, tidak harus berbentuk material. Benda atau produk dapat muncul dari olah pikir, olah hati atau rasa dan olah raga fisik. Dengan simbol isim yang ada pada ilmu nahwu ini memiliki kandungan arti jika tiap orang yang mempunyai tugas atau pekerjaan, harus dikerjakan atau digerakkan dengan sebagus-bagusnya hingga melahirkan produk atau hasil yang riil dan memberikan faedah untuk dirinya sendiri dan orang lain. Produk yang dilahirkan oleh manusia dapat berbentuk produk olah pikir, yakni sanggup melahirkan gagasan atau ide cemerlang yang dapat diambil faedahnya baik untuk individu maupun kelompok masyarakat. Di samping itu tiap manusia juga harus sanggup melahirkan produk dari olah hati atau rasa, dalam artian tiap manusia harus mempunyai sikap dan personalitas yang baik berdasar pada norma sosial dan agama. Tiap manusia juga harus sanggup melahirkan produk olah kerajinan fisik atau tangan berupa kerajinan yang dapat memberikan faedah untuk orang lain.

Baca juga : Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan Kegiatan Hafalan Santri

Dengan kata lain, isim dalam ilmu nahwu shorof memiliki kandungan arti tiap yang dikeluarkan oleh seseorang mesti baik dan dapat memberi faedah untuk dirinya sendiri dan orang lain. Apa yang dikatakan mesti kata yang baik, apa yang dipikirkan mesti pemikiran yang baik, dan apa yang diciptakan juga harus berupa ciptaan yang baik pula.

Keempat, mubtada' yang berarti permulaan. Dalam kehidupan manusia, mubtada' (permulaan) dapat direalisasikan dengan suatu persiapan, rencana atau niat yang matang. Maknanya, segala hal yang diharapkan haruslah di mulai dengan niat ikhlas dan dengan persiapan atau rencana yang matang. Mubtada' bermakna baik sekali untuk kehidupan manusia. Suatu pekerjaan dan produk atau hasil yang sudah direncanakan mesti diawali ( mubtada') dengan niat, persiapan atau rencana yang ideal. Mubtada' mempunyai faktor dominan bagi manusia untuk menggapai sebuah keberhasilan. Apa yang diinginkan harus dimulai dari niat baik dan persiapan yang matang.

Baca juga : Syair Arab Tentang Rindu dan Artinya

Islam mengajarkan pentingnya niat, karena segala hal yang dilakukan oleh manusia benar-benar bergantung dari niat yang dimilikinya. Suatu pekerjaan atau aktivitas yang nampaknya banyak mendatangkan pahala besar seperti sholat, puasa, zakat, haji dan shadaqah malah dapat mendatangkan amal buruk sebab niat yang tidak baik pula. Begitu sebaliknya, suatu pekerjaan atau aktivitas yang sepertinya merupakan amal duniawi, justru dapat mendatangkan amal akhirat sebab diniati dengan niat yang baik karena Allah Swt.

Mubtada' bukan hanya untuk mempelajari gaya bahasa Arab saja, namun juga memiliki kandungan arti dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, bila ingin menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat mesti mampu mengerjakan nilai-nilai yang terkandung pada mubtada', apa yang akan kita laksanakan mesti dimulai dengan niat dan persiapan yang matang.

Baca juga : Kitab Nahwu dan Sharaf yang Banyak dipelajari di Pesantren

Kelima, khabar (informasi), dalam ilmu nahwu shorof khabar secara bahasa berarti informasi atau berita. Informasi atau berita tidak selamanya benar, dan tidak juga selalu keliru. Pada zaman yang serba canggih ini, menyampaikan suatu informasi atau berita bukanlah hal yang sulit lagi. Kita hanya perlu bermain jari lalu share sana-sini memanfaatkan berbagai media sosial yang telah diciptakan.

Khabar dalam ilmu nahwu shorof ini secara filosofis juga dapat direalisasikan pada kehidupan manusia. Ketika kita memperoleh suatu khabar (informasi atau berita), jangan ditelan mentah-mentah begitu saja. Kita perlu untuk menyaring terlebih dahulu dan menyandarkan khabar tersebut kepada sesuatu yang ma'rifat, yaitu mubtada'. Artinya, kita perlu terlebih dahulu menelusuri sumber dari berita atau informasi yang telah kita terima.

Suatu informasi akan didapat atau dimiliki seseorang bila orang tersebut mempunyai semangat yang tinggi untuk membaca baik secara tekstual maupun kontekstual. Orang yang rajin membaca akan mempunyai data yang banyak sehingga memiliki pemahaman atau cara pandang yang luas. Dengan demikian, seseorang akan memiliki kapabilitas dan keterampilan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam kehidupan sosialnya. Alhasil, bisa dimengerti kalau khabar dalam ilmu nahwu shorof ternyata betul-betul memiliki kandungan filosofi mendalam yang patut kita implementasikan dalam kehidupan.

Baca juga : Istilah dalam Ilmu Nahwu Shorof yang Penting Diketahui

Perintah membaca ( iqra') dalam surat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw mengisyaratkan bahwa tiap manusia khusunya umat Islam mesti mempunyai informasi dan wawasan yang luas. Dengan rajin membaca, manusia akan mendapatkan informasi (khabar) yang komplet sehingga dapat mempermudah manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya.

Ilmu nahwu shorof mengenai khabar mengajarkan kepada kita pentingnya untuk mencari atau menerima dan memberikan informasi yang luas supaya manusia tidak gampang ditipu atau dikelabui pihak lain. Orang yang mempunyai banyak informasi membuat manusia memiliki pandangan yang luas, sehingga dapat membantu mereka dalam menggapai keberhasilan sepanjang kehidupan dunia dan akhirat.

Begitu indahnya filosofi nahwu shorof yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia bila tidak sekedar dimengerti sebagai ilmu yang mempelajari tata bahasa Arab. Ilmu nahwu shorof selain menjadi dasar untuk mempelajari tata bahasa Arab atau kaidah menyusun suatu kalimat juga perlu dimengerti makna yang terkandung pada masing-masing istilah supaya umat Islam menjadi umat yang paling mulia dibandingkan umat lainnya. Selain dijadikan dasar dalam mempelajari ilmu tata bahasa Arab, mari kita jadikan ilmu nahwu shorof juga sebagai paradigma membentuk sikap dan personalitas umat Islam sehingga umat Islam betul-betul menjadi contoh untuk umat lainnya.

Sumber : M. Saekan Muchith Dosen Stain kudus, Sekretaris Majelis Alumni IPNU Jateng, Ketua IKA PMII Kudus dan Ketua Komisi dakwah dan Politik MUI Kudus serta Ketua IKA PMII Unissula Semarang.