Skip to main content

Kewajiban Orang Tua Memerintahkan Anak Sholat dan Memukulnya Jika Meninggalkan Sholat

Daftar Isi [ Tampil ]
Kewajiban Orang Tua Memerintahkan Anak Sholat dan Memukulnya Jika Meninggalkan Sholat

وإنما ذكر المصنف أول مسألة في الفقه علامات البلوغ لأن مناط التكليف على البالغ دون الصبي والصبية لكن يجب على سبيل فرض الكفاية على أصلهما الذكور والإناث أن يأمرهما بالصلاة وما تتوقف عليه كوضوء ونحوه بعد استكمالهما سبع سنين إذا ميزا وحد التمييز هو أن يصيرا بحيث يأكلان وحدهما ويشربان وحدهما ويستنجيان وحدهما فلا يجب الأمر إذا ميزا قبل السبع بل يسن وأن يأمرهما أيضاً بشرائع الدين الظاهرة نحو الصوم إذا أطاقا

Argumen Syeh Salim bin Sumair al-Khadromi menerangkan pertanda baligh pada awal ulasan Fiqih lantaran tuntutan hukum atau taklif ditanggung atas orang baligh, bukan shobi (anak kecil lelaki) atau shobiah (anak kecil perempuan). Akan tetapi, diwajibkan secara fardhu kifayah atas orang tua anak laki-laki ataupun perempuan, baik bapak atau ibu, untuk memerintah anak melaksanakan sholat dan melaksanakan apa yang menjadi syarat sahnya sholat, seperti; wudhu dan sebagainya, sesudah anak berumur genap 7 tahun dengan syarat saat anak sudah tamyiz. Batasan tamyiz ialah saat anak laki-laki dan anak perempuan bisa makan , minum , dan cebok atau istinjak sendiri.

Dengan begitu tidak diwajibkan secara fardhu kifayah atas orang tua anak untuk memerintahkan apa yang sudah disebutkan sewaktu anak sudah tamyiz saat sebelum berumur 7 tahun, namun disunahkan memberi perintah kepada mereka berdua.

Begitu pula diwajibkan secara fardhu kifayah atas orang tua untuk memerintahkan anak untuk melaksanakan syariat-syariat dzohir agama, seperti puasa Ramadhan, saat anak sudah kuat atau sanggup.

ولا بد مع صيغة الأمر من التهديد كأن يقول لهما صليا وإلا ضربتكما

Dalam memerintahkan anak (laki-laki/perempuan), orang tua harus memakai pernyataan perintah yang dibarengi dengan menakut-nakuti. Misalnya, wali berbicara pada anak, "Sholatlah! Bila tidak sholat maka aku akan memukulmu."

وأن يعلمهما أن النبي صلى االله عليه وسلّم ولد بمكة وأرسل فيها ومات في المدينة ودفن فيها

Begitu pula diwajibkan atas wali untuk membimbing anak mengenai bahwa Rasulullah Saw dilahirkan dan diutus di Mekah, wafat dan dimakamkan di Madinah.

ويجب أيضاً أن يضر ما على ترك ذلك ضرباً غير مبرح في أثناء العاشرة بعد كمال التسع لاحتمال البلوغ فيه

Orang tua atau wali wajib memukul anak saat mereka meninggalkan perintah (sholat, wudhu, dan sebagainya) dengan pukulan yang tidak melukai di saat anak sudah berumur di tengah 10 tahun sesudah genap umur 9 tahun sebab memungkinkan berlangsungnya baligh waktu itu.

وللمعلم أيضاً الأمر لا الضرب إلا بإذن الولي، ومثله الزوج في زوجته فله الأمر لا الضرب إلا بإذن الولي والسواك كالصلاة في الأمر والضرب

Untuk mu'allim atau guru didik dibolehkan memerintahkan sholat dan syariat-syariat dzhohir dari agama terhadap anak, namun dia tidak boleh memukul anak (laki-laki/perempuan) saat mereka meninggalkan perintah terkecuali jika mendapat izin dari orang tua atau wali anak.

Demikian halnya dengan suami, dibolehkan memerintahkan sholat dan sebagainya pada istri, namun suami tidak boleh memukul istri saat istri meninggalkan perintahnya itu, terkecuali jika suami sudah mendapatkan izin dari orang tua atau wali.

Dan siwakan itu seperti sholat dalam sisi hukum wajib secara fardhu kifayah atas wali untuk memerintah anak untuk melaksanakannya dan memukul mereka saat mereka meninggalkannya.

وحكمة ذلك التمرين على العبادة ليعتادها فلا يتركها إن شاء االله تعالى

Makna dari memberi perintah dan memukul anak pada keterangan di atas adalah supaya mereka terlatih melaksanakan ibadah sehingga mereka akan terbiasa dan tidak meninggalkannya, Insya Allah Ta'aala.

واعلم أنه يجب على الآباء والأمهات على سبيل فرض الكفاية تعليم أولادهم الطهارة والصلاة وسائر الشرائع ومؤنة تعليمهم في أموالهم إن كان لهم مال فإن لم يكن ففي مال آبائهم فإن لم يكن ففي مال أمها م، فإن لم يكن ففي بيت المال فإن لم يكن فعلى أغنياء المسلمين

Ketahuilah ! Sesungguhnya diwajibkan secara fardhu kifayah atas para bapak dan ibu (meliputi kakek, nenek dan seatasnya) untuk membimbing anak-anak mereka mengenai thoharoh, sholat, dan ibadah-ibadah lainnya. Permasalahan biaya membimbing diambilkan dari harta anak-anak itu apabila mereka mempunyainya. Akan tetapi, jika anak-anak tidak mempunyai harta, maka biaya membimbing diambilkan dari harta para bapak. Jika para bapak tidak mempunyai harta maka biaya membimbing anak-anak diambil dari harta para ibu. Jika para ibu pun tidak mempunyai harta maka biaya membimbing anak diambilkan dari baitul maal. Jika baitul maal tidak ada biaya, maka biaya mengajari anak diambilkan dari harta para muslimin yang kaya.

Sumber: Syaikh Muhammab bin Umar an-Nawawi al-Banteni. "Kasyifah as-Saja Fi Syarhi Safinah an-Naja". (Ibnu Zuhri, Terjemahan). Salatiga: Ponpes al-Yaasin.