Skip to main content

Kitab Nahwu dan Sharaf yang Banyak dipelajari di Pesantren

Daftar Isi [ Tampil ]
Kitab Nahwu Sharaf

Kitab kuning merupakan pegangan pokok bahkan wajib dalam pendidikan di pesantren. Kitab-kitab yang berisikan keilmuan keagamaan seperti fikih, tasawuf, nahwu, sharaf dan lain-lain menjadi rujukan utama pada pondok-pondok pesantren.

Kitab kuning ini juga familiar dengan sebutan kitab gundul, disebut demikian karena memang kitab-kitab tersebut tidak memiliki harakat. Oleh karena itu, untuk bisa membaca dan memahaminya, membutuhkan ketekunan dan waktu belajar yang relatif lama.

Di kalangan para santri yang notabene tinggal di pesantren, mempelajari kitab kuning atau kitab gundul bisa dibilang susah-susah gampang. Bukan hanya memahaminya saja, para santri juga dituntut untuk hafal. Tak jarang, jika tidak memiliki ketekunan dan konsisten yang tinggi dalam menghafal dan memahami, para santri akan sangat kewalahan.

Baca juga : Istilah dalam Ilmu Nahwu Shorof yang Penting Diketahui

Di antara banyaknya kitab yang diajarkan dipesantren, yaitu kitab nahwu dan sharaf. Kedua ilmu ini termasuk komponen penting dalam pembelajaran di pesantren. Lalu, apa saja sih kitab-kitab nahwu dan sharaf yang banyak dipelajari di pesantren itu ? Berikut daftar kitabnya.

1. Kitab Matan Jurumiyah

Kitab Matan Jurumiyah adalah kitab dasar yang berisikan ilmu tata bahasa Arab atau ilmu nahwu. Meskipun kitab ini terbilang tipis, namun kitab ini memiliki manfaat yang banyak sekali. Kitab Matan Jurumiyah merupakan kitab karya Imam Shanhaji (672 H - 723 H). Nama lengkap beliau adalah Imam Abi Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shanhaji, asli kelahiran Maroko. Menurut pendapat Imam Ibn al-Haj, Imam as-Shanhaji lahir pada tahun wafatnya Imam Ibn Malik. Wallahu a'lam.

Secara metodologis, kitab Matan Jurumiyah tersebut disusun secara deduktif, di mana kitab ini menyuguhkan beberapa kaidah lebih dulu selanjutnya menyuguhkan beberapa contoh untuk menambah atau memperkuat keterangan dari kaidah itu. Hingga saat ini, kitab Matan Jurumiyah masih dipelajari banyak santri di sejumlah bahkan kebanyakan ponpes di Indonesia, hal ini dikarenakan di samping kitab ini ringkas dan padat, juga berisikan kaidah-kaidah ilmu nahwu yang gampang untuk dihafal.

Baca juga : Ilmu Nahwu dalam Bahasa Arab : Pengertian dan Kajiannya di Dunia Arab

Selain Kitab Matan Jurumiyah, kitab-kitab yang menjadi syarahnya juga banyak dikaji dalam dunia pesantren. Seperti kitab Hasyiah  Al-Asymawi ala Matan Jurumiyah fi Ilmi al-Lughah al-Arabiyah karya Imam Abdillah Ibn Fadhil, kitab Syarah al-Atamah as-Syaikh Hasan al-Kafrawi ala Matan Jurumiyah, karangan dari Imam Hasan al-Kafrawi. Dan masih banyak lagi.

2. Kitab Amshilah at-Tashrifiyyah

Pengarang kitab Amshilah at-Tashrifiyyah adalah Syeikh Muhammad Ma'shum bin Ali bin Abd al-Jabbar. Beliau asli kelahiran Maskumambang Gresik dan merupakan salah satu santrinya Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari.

Kitab Amshilah at-Tashrifiyyah adalah kitab shorof dasar dan sangat populer di kalangan para santri. Kitab ini biasa disebut dengan kitab tashrifan. Kitab Amshilah at-Tashrifiyyah adalah kitab yang mengkaji seputar ilmu sharaf. Kitab ini disusun secara sistematis sehingga para santri yang mempelajarinya mudah paham dan hafal.

Selain menjadi pegangan wajib bagi para santri di pesantren, kitab ini juga menjadi panduan belajar dalam dunia akademi internasional. Meski disusun secara sistematis yang memudahkan saat mempelajarinya, kitab ini hanya memuat sedikit keterangan. Hal tersebut bisa dimaklumi, mengingat judul dari kitab ini juga Amshilah at-Tashrifiyyah, yang berarti contoh-contoh tashrif. Meski demikian, kitab Amshilah at-Tashrifiyyah menjadi kitab yang meliputi bagian-bagian penting untuk kita pelajari.

3. Kitab Amtsilati

Kitab Amtsilati adalah sebuah kitab yang terdiri atas 5 jilid, yang berisikan metode membaca kitab kuning untuk pemula yang belajar ilmu nahwu. Kitab ini merupakan kitab gagasan dari KH. Taufiq al-Hakim asli kelahiran Kota Jepara, Jawa Tengah.

Bagi pemula yang ingin cepat bisa membaca kitab kuning, kitab Amtsilati sangatlah cocok untuk dipelajari. Karena kitab ini memuat ringkasan kaidah-kaidah yang dipakai untuk membaca kitab kuning yang disertai dengan banyak contoh, sesuai nama kitabnya "Amtsilati" yang berarti contohku.

4. Kitab al-Maqshud fi al-Ilmi as-Sharfi

Kitab al-Maqshud fi al-Ilmi as-Sharfi adalah kitab yang menyajikan seputar ilmu sharaf dalam bentuk nadzam yang terdiri atas 123 bait. Kitab ini merupakan karya dari syaikh Ahmad bin Abdurrahim at-Thahthawi, seorang ulama asal Mesir yang dikenal sebagai sastrawan, juru tulis, sekaligus jurnalis.

Kitab al-Maqshud fi al-Ilmi as-Sharfi termasuk kitab berbentuk nadzam yang cukup ringkas dan mudah dipahami, sebagai lanjutan pelajaran dari kitab Amshilah at-Tashrifiyyah dalam bidang ilmu shorof di dunia pesantren. Kitab ini sangatlah populer di kalangan para Santri dan menjadi materi pokok dalam kurikulum pesantren. Tak heran jika kitab tersebut memiliki banyak penjelasan dan syarah dari berbagai ulama.

Di antara kitab yang mengomentari atau menyarahi kitab al-Maqsud adalah kitab Hill al-Ma’qud fî Syarhi al-Maqsud karya dari Syekh Muhammad ibn Ahmad Allisy al-Magribi asli Maroko yang masih sezaman dengan Imam Thathawi.

5. Kitab al-Imriti

Kitab Imriti adalah kitab nahwu berbentuk nadzam, yang beberapa materinya diambil dari kitab Jurumiyah. Judul asli kitab tersebut ialah kitab ad-Durroh al-Bahiyyah Nadzmu al-Jurumiyyah. Namun, di kalangan para santri kitab ini lebih populer dengan nama kitab imriti. Sebutan kitab imriti itu sendiri merupakan penisbatan daerah di Mesir asal pengarangnya, yaitu Yahya bin Nur ad-Din Abi al-Khoir bin Musa al- Imrithi as-Syafi'i al-Anshori al-Azhari.

Beliau seorang ulama yang sangat disegani pada masanya, dengan julukan syarafuddin dan an-Nadzim. Dari semua karya beliau yang berbentuk nadzam, kiranya kitab imriti inilah yang paling populer dan hingga sekarang masih banyak dikaji pada sebagian besar pesantren di Indonesia.

Baca juga : Tingkatan Kitab Nahwu dari Pemula Hingga Tingkatan Paling Tinggi

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa sebenarnya kitab imriti ini bukan hanya menadzamkan kitab Jurumiyah. Melainkan ia menjadi syarah dari kitab Jurumiyah itu sendiri. Sebab, dalam kitab imriti terdapat keterangan-keterangan tambahan yang lebih luas dari kitab Jurumiyah yang ringkas.

6. Kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik

Kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab fenomenal yang terdiri atas 1002 bait nadzam. Bagi seseorang terlebih lagi para santri yang mendalami ilmu tata bahasa Arab, nama kitab ini mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga mereka.

Kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab yang tidak hanya mengkaji ilmu nahwu saja, kitab ini juga memiliki beberapa kaidah yang berkaitan erat dengan ilmu sharaf. Pengarang kitab matan Alfiyah adalah Syeikh al-Imam Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Malik at-Tha'i al-Andalusi al-Jayyani as-Syafi'i.

Baca juga : Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan Kegiatan Hafalan Santri

Alfiyah telah sukses menarik perhatian banyak ulama dari bermacam latar belakang keilmuan. Hingga nyaris 40 bahkan lebih ulama yang telah mensyarahinya. Hampir semua pesantren yang ada di Indonesia mengajarkan kitab yang di Negara Barat disebut  "The Thousand Verses" ini.

Kitab Alfiyah karya Ibnu Malik ini juga sangat padat akan makna. Sehingga banyak sekali para ulama khususnya ulama ahli nahwu yang mengomentari atau menyarahinya. Seperti syarah Ibnu 'Aqil yang selanjutnya disyarahi oleh kitab lain yang lebih tebal, yakni syarah Ibn 'Aqil li Qadhi al-Qudhat Abu al-Hasan.

Itulah kitab-kitab nahwu sharaf yang banyak dipelajari di pesantren yang ada di Indonesia versi kami. Menurut kalian, selain nama kitab-kitab yang telah kami sebutkan di atas, kitab apa yang banyak dipelajari di pesantren ?