Skip to main content

Pengertian Amr dan Nahyi beserta Kaidah-kaidah yang Terkait dengan Keduanya

Daftar Isi [ Tampil ]
Seputar Amr dan Nahyi

Pengertian Amr

Menurut sebagian besar ulama ushul fiqh, amr adalah suatu tuntutan (perintah) buat melaksanakan suatu hal dari pihak yang posisinya lebih tinggi pada pihak yang tingkatannya lebih rendah.

Adapun kaidah-kaidah yang terkait dengan amr sebagai berikut ini:

a. Al-Ashl fi al-amr lil wujub (asal dari perintah yaitu wajib)

Amr walaupun tidak dibarengi oleh keterangan atau qarinah apapun, menginginkan wajibnya pihak yang dikenai amr untuk melakukan perbuatan. Tidak bisa dimengerti dari amr itu ada tujuan lain terkecuali jika ada keterangan lain yang menerangkannya. Jadi amar itu memperlihatkan hukum wajib buat dikerjakan terkecuali ada tanda-tanda atau dalil lain yang mengalihkannya dari hukum itu, seperti perintah untuk sholat.

b. Dilalah al-amr ‘ala al-tikrar aw al-wahdah (suatu perintah haruskah dilaksanakan berkali-kali atau cukup dilaksanakan sekali saja ?)

Menurut jumhur ulama ushul fiqh, pada intinya suatu perintah tidak memperlihatkan harus berkali-kali dilaksanakan terkecuali ada dalil untuk itu. Sebab suatu perintah cuma memperlihatkan perlu terwujudnya tindakan yang diperintahkan itu dan hal tersebut sudah bisa terwujud walaupun cuma dilaksanakan satu kali. Contohnya, ayat 196 surah al-Baqarah: "Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah...".

Baca juga: Seputar Manthuq, Mafhum, Mujmal dan Mubayyan

Perintah melaksanakan haji dalam ayat itu telah tercukupi dengan melaksanakan satu kali haji sepanjang hidup. Terdapatnya kemestian perulangan, bukan diperlihatkan oleh perintah tersebut, namun oleh dalil lain. Misalkan, ayat 78 surah al-Israa': "Dirikanlah sholat dari setelah matahari tergelincir hingga gelap malam dan (dirikanlah juga sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)" Ayat itu berbicara mengenai sholat Dhuhur yang harus dilaksanakan berkali-kali, karena dihubungkan kepada kejadian yang terjadi berkali-kali, yakni tiap tergelincirnya matahari.

c. Dilalah al-Amr ‘Ala al-Fauri al-Tarakhi (suatu perintah haruskah dilaksanakan selekasnya atau dapat ditunda-tunda ?)

Menurut jumhur ulama ushul fiqh, suatu perintah tidak menghendaki untuk selekasnya dilaksanakan asalkan tidak ada dalil lain yang memperlihatkan untuk itu, sebab yang diartikan oleh suatu perintah hanya terwujudnya tindakan yang diperintahkan. Menurut pendapat ini, terdapatnya tuntunan supaya suatu kebaikan selekasnya dilaksanakan, bukan diambil dari perintah itu sendiri, namun dari dalil lain, misalkan secara umum terdapat di dalam ayat 148 surah al-Baqarah: "... Karena itu berlomba-lomba lah dalam berbuat kebaikan...".

Baca juga: Seputar Mutlaq, Muqayyad, Dhahir dan Muawwal

Menurut beberapa ulama, diantaranya Abu al-Hasan al-Karkhi (w. 340 H), seperti dinukil Muhammad Adid Shalih, bahwa suatu perintah memperlihatkan hukum wajib selekasnya dilaksanakan. Menurut pendapat ini, barangsiapa yang tidak selekasnya melaksanakan suatu perintah pada awal waktunya, maka dia berdosa.

2. Pengertian Nahyi

Secara singkat, al-nahyi adalah larangan melaksanakan suatu tindakan, yang muncul dari pihak yang lebih tinggi pada pihak yang lebih rendah. Nahyi adalah perintah untuk meninggalkan suatu tindakan atau perintah untuk tidak melakukan perbuatan apa-apa.

Baca juga: Seputar Nasakh, Muradif, dan Musytarak

Beberapa ulama ushul fiqh, seperti disampaikan oleh Muhammad Adib Shalih, merangkum beberapa kaidah yang terkait dengan nahyi atau larangan, diantaranya:

a. Al-Ashl fi al-Nahy al-Tahrim (pada intinya suatu larangan memperlihatkan hukum haram)

Setiap nahyi atau larangan memperlihatkan hukum haram melaksanakan tindakan yang dilarang itu terkecuali ada tanda-tanda yang memperlihatkan hukum lain. Contoh larangan yang dibarengi tanda-tanda yang memperlihatkan hukum selain haram ialah ayat 9 surah al-Jumu'ah: "Hai orang-orang yang beriman, apabila diperintah untuk menunaikan sholat di hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang begitu lebih bagus buatmu bila kamu mengetahui".Larangan jual-beli dalam ayat itu menurut sebagian besar ulama ushul fiqh memperlihatkan hukum makruh karena ada tanda-tanda, yakni bahwa larangan itu bukan diperuntukkan pada esensi jual-beli tersebut namun ke beberapa hal yang di luar zatnya, yaitu terdapatnya kecemasan akan melalaikan seseorang dari bersegera pergi sholat Jum'at. Oleh sebab itu, orang yang tidak wajib sholat Jum'at seperti wanita diperbolehkan melaksanakan jual-beli.

b. Al-Ashl fi al-nahy yathliq al-fasad muthlaqan (suatu larangan memperlihatkan fasad (rusak) tindakan yang dilarang itu bila dilakukan)

Menurut Muhammad Adib Saleh, kaidah itu disetujui oleh beberapa ulama ushul fiqh jikamana larangan itu tertuju ke zat atau esensi suatu tindakan, bukan pada hal-hal yang berada di luar esensi tindakan tersebut. Contoh larangan pada suatu zat adalah larangan berzina, larangan jual bangkai, dan dalam persoalan beribadah seperti larangan sholat pada kondisi berhadas, baik kecil atau besar. Larangan-larangan dalam beberapa hal itu memperlihatkan batalnya tindakan-tindakan tersebut jikamana masih dilaksanakan. Ulama berlainan pendapat apabila mana larangan itu tidak tertuju ke esensi suatu tindakan, akan tetapi ke hal-hal yang ada di luarnya. Misalkan, larangan jual-beli waktu adzan Jum'at dan larangan meniduri istri yang sedang dalam keadaan haid.

Baca juga: Seputar Ijtihad, Dasar Hukum Ijtihad, Syatar-Syarat Ijtihad, dan Obyek Ijtihad

Menurut jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Malikiyah, larangan semacam ini tidak menyebabkan batalnya tindakan itu bila tetap dilaksanakan. Menurut beberapa kalangan Mazhab Hambali dan Mazhab Dzahiri, larangan dalam bentuk ini memperlihatkan hukum batal, sama dengan larangan pada esensi suatu tindakan seperti tersebut di atas. Argumennya, melaksanakan sesuatu yang dilarang baik pada esensinya atau pada suatu hal yang bukan esensinya ialah sama menyalahi ketetapan syariat, dan oleh sebab itu hukumnya batal. Berdasar pada pendapat ini, melaksanakan sholat dengan baju hasil curian ialah batal.

c. Al-Nahy ‘an al-Syai amr bididdihi (suatu larangan pada sebuah tindakan memiliki arti perintah pada kebalikannya)

Contoh kaidah tersebut sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman (31) ayat 18: "... dan jangan sampai kamu berjalan di muka bumi dengan congkak ".