Skip to main content

Qowa'idul Ushuliyah: Pengertian, Obyek Kajian, Metode, dan Tujuan mempelajarinya

Daftar Isi [ Tampil ]
Qowa'idul Ushuliyah

Latar Belakang Qowa'idul Ushuliyah

Bersamaan dengan kemajuan zaman, realita memperlihatkan jika tidak semua persoalan hukum tercover oleh nash, baik al-Qur'an ataupun Hadits. Ditambah lagi dengan timbulnya bermacam persoalan hukum baru sebagai akibat logis atas perubahan keadaan sosial warga yang terus berlangsung. Akan tetapi, bukan berarti kalau hukum yang dirumuskan selanjutnya lepas dari nash, sebab walaupun nash tidak mengatakan secara detil hukum atas sebuah persoalan, ia sudah memberikan petunjuk dan pertanda yang bisa dikeduk dan dirumuskan menjadi sebuah produk hukum yang dikenali dengan fiqh. Oleh sebab itu, yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah piranti apa yang dipakai oleh para mujtahid untuk mengeruk dan merangkum hukum itu.

Untuk melaksanakan istinbath al hukmi al islam (penggalian hukum Islam), ada empat ilmu penting yang saling berhubungan. Dua yang pertama ialah ilmu pokok, yaitu ilmu fiqh dan ushul al fiqh. Ushul al fiqh menduduki pada posisi sentra dalam studi keislaman hingga membuatnya disebut the queen of Islamic sciences dengan produknya yaitu fiqih. Adapun dua lainnya yang merupakan ilmu bantu adalah al qowaid al ushuliyyah dan al qowaid al fiqhiyyah.

Di dalam tulisan ini, yang bakal penulis singgung nantinya hanyalah tertuju pada al qowaid al ushuliyyah dimana hanya menggambarkan pengertian, obyek kajian, metode-metode dalam mendapatkan kaidah itu, urgensi pokok dalam mempelajarinya bagi kehidupan manusia, dan perbedaan antara al qowaid al ushuliyyah dengan al qowaid al fiqhiyyah.

Rumusan Masalah Qowa'idul Ushuliyah

  1. Apa pengertian al qowaid al ushuliyyah ?
  2. Bagaimana obyek kajian al qowaid al ushuliyyah ?
  3. Apa saja metode-metode mendapatkan al qowaid al ushuliyyah ?
  4. Apa perbedaan al qowaid al ushuliyyah dengan al qowaid al fiqhiyyah ?
  5. Apa urgensi al qowaid al ushuliyyah ?

1. Apa Pengertian Al Qawa'id Al Ushuliyyah ?

Al qawa'id al ushuliyyah berasal dari bahasa Arab yang merupakan kombinasi dari kata al-qawa'id dan al ushuliyyah. Al qawa'id adalah bentuk jamak dari kata qa'idah, dalam istilah bahasa Indonesia dikenali dengan kata "kaidah" yang secara etimologi memiliki arti dasar, azas, atau fondasi. Sedangkan Al-ushuliyyah berasal dari kata al-ashl, jamaknya al-ushul yang ditambah dengan ya' nisbah (ya' yang berperan untuk membangsakan atau menerangkan).

Secara terminologis banyak pengertian Qowa'id atau aturan dari beberapa pakar ushul salah satunya:

القواعد: حكم كلي ينطبق علي جميع جزئياته

Hasbi ash Shidqi mencuplik arti dari aturan yang disampaikan oleh Prof. Mustafa sebagai Zarqa dalam bukunya al Fiqh Fi Tsaubhil Jadid:

القاعدة: حكم اغلبي ينطبق علي معظم جزئياته

Dengan begitu makna dari "Kaidah Ushuliyyah" ialah hukum kulli yang bisa dijadikan dasar hukum untuk juz'i yang diambil dari landasan kulli yakni Al Qur'an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu aturan Ushuliyyah dapat disebutkan istinbathiyyah atau aturan lughawiyyah. Pemakaian aturan ushuliyyah cuma dipakai sebagai langkah untuk mendapatkan bukti hukum dan hasil hukum. Misalkan penentuan hukum amr, nahi dan lain-lain serta penerimaan atau penggalian dalil dhanniyyah seperti qiyas, istishab, istihsan dan sebagainya.

2. Bagaimana Obyek Kajian Al Qowaid Al Ushuliyyah ?

Fiqh dan Ushul Fiqh adalah dua ilmu yang memiliki jalinan sangat erat. Keterikatan itu terlebih jika dilihat dari posisinya satu sama lain. Ushul fiqh adalah asl (pokok), sedangkan fiqh berposisi sebagai far' (cabang). Oleh karena itu, ulama ushul pastilah orang yang faqih, dan demikian juga kebalikannya. Bila tidak begitu, tidak mungkin rasanya seorang mujtahid sanggup mengeruk hukum dari suatu dalil kalau dia tidak menguasai fiqh.

Di lain sisi, fiqh dan ushul fiqh adalah dua ilmu yang berbeda dan mandiri. Masing-masing berdiri sendiri dan mempunyai obyek kajian, dasar pijakan, dan tujuan mempelajarinya. Karena itu, sebagai suatu hal yang rasional kalau qawa'id kedua ilmu itu berbeda. Obyek ushul fiqh adalah dalil-dalil fiqh yang memiliki sifat global, hukum-hukum (fiqh), dan yang terkait langsung dengannya. Dengan begitu, kaidah ushuliyyah dipakai sebagai jalan untuk mendapatkan dalil hukum dan hasil hukumnya. Sedang obyek ilmu fiqh adalah tindakan-tindakan orang mukallaf dan tiap tindakan yang terkait dengan hukum syara' praktis. Berdasar pada hal tersebut, al qawa'id al ushuliyyah (kaidah-kaidah ushul fiqh) berbeda dengan al qawa'id al fiqhiyyah (kaidah-kaidah fiqh).

3. Apa Saja Metode-metode Al Qawa'id Al Ushuliyyah ?

Adapun metode-metode Al-Qawa'id Al-Ushuliyyah adalah sebagai berikut.

A. Mutakallimin

Metode mutakallimin adalah metode yang dilaksanakan oleh para ulama ushul fiqh dari sekte mutakallimin yang karakter al-Syafi'i, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal dan para penganut madzhab nya. Ciri-ciri utamanya lebih fokus pada pengkajian hukum atas ayat-ayat Alquran dan Sunnah, sebagai implementasi dari ide dasar jika yang syar'i hanyalah Allah dan Rasul-Nya. Metode itu dilaksanakan dengan skema berpikir deduktif. Mereka mengeruk arti logis dari nash atau asumsi berdasarkan logika logis dan nash. Selanjutnya dari arti proposisi diambil kaidah yang rasional dan umum berdasar pada penalaran logis. Oleh sebab itu dalam melahirkan kaidah dalil ushuliyyah dalam nalar (manthiq) dipandang sebagai bagian dasar dari ilmu ushul fiqh seperti; pengetahuan, logika (nadhar) dan dilalah lafal mengenai arti, pengertian istilah dan demonstrasi (burhan).

Misalkan dalam Al-quran ada nash yang lafalnya bershigat amar (perintah) seperti perintah untuk melakukan shalat. Selanjutnya sebuah pertanyaan muncul; "Apa hukum melaksanakan shalat?". Haruskah itu dikerjakan (wajib), atau dianjurkan (sunnah)? Untuk menjawab itu, maka ulama harus sanggup memastikan hukum yang terkandung di dalam perintah shalat yang kalimatnya bershigat amar. Metode deduktif secara simpel bisa diterangkan sebagai berikut ini:

  • Pernyataan I: Shalat diperintahkan oleh Allah SWT kepada manusia
  • Pernyataan II: Allah memandang sholat sebagai suatu hal yang begitu penting sebab merupakan rukun agama, salah satu dari lima bangunan Islam, sebagai amal pertama yang dihitung, dan lain-lain.
  • Pernyataan III: Hamba akan dihina bila tidak mengikuti perintah-Nya, dan itu dipandang seperti ketidaktaatan. Sama seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 63.

فليحذر الذين يخالفون عن امره ان تصيبهم فتنه

  • Pernyataan IV: Suatu tindakan akan disiksa jika dia hilang, dan mendapatkan pahala jika dilaksanakan adalah wajib dalam fikih atau hukum taklif.
  • Pernyataan V: Dengan begitu bisa disimpulkan jika shalat yang syah itu wajib.
  • Pernyataan VI: Terdapatnya doa karena ada ayat-ayat yang shigat amr. Selama sebuah lafal dapat dimengerti sesungguhnya, jadi tidak perlu diarahkan ke arti majazi.

Apabila hukum sholat itu wajib dan terdapatnya shalat sebab adanya nash dengan lafal bershigat amr, maka bisa diambil kesimpulan jika asal-muasal perintah (amr) ialah memperlihatkan kewajiban. Dari penguraian pernyataan di atas bisa dibuat suatu aturan:

الأصل في الأمرللوجوب

Sesudah aturan di atas maka para ulama memutuskannya sebagai ijma'. Ketentuan ini kemungkinan berlaku pada umumnya untuk kebanyakan furu', namun sama seperti yang kita kenali kalau salah satu kekurangan dalam metode deduktif ini tidak memperhitungkan furu', kadang tidak berlaku di sejumlah furu'. Karena itu dalam metode mutakallimin bermacam kaidah bahasa hukum yang lahir selanjutnya jadi dasar usaha melahirkan bermacam kaidah lain yang merupakan turunan dari kaidah itu hingga bisa dipakai dalam bermacam furu'. Turunan dapat benar-benar bergantung pada bagaimana seorang mujtahid bisa mendalami nash dan kekuatan kecerdasannya.

B. Metode Ahnaf

Metode Ahnaf dipakai oleh aliran Hanafi yang dipelopori oleh Imam Abu Hanifah. Dalam metode ini, aliran Hanafiyah memakai lajur istiqra' (induksi) pada pendapat beberapa imam sebelumnya dan mengumpulkan makna-makna dan batasan yang mereka pakai, selanjutnya menyimpulkannya. Mereka tidak memutuskan ketentuan amaliyah sebagai cabang baru dari ketentuan itu, yakni hukum yang sudah diputuskan oleh imam, tapi cuma memperkokoh. Salah satu contoh aturan ushuliyyah yang diyakini oleh Hanafiyah adalah aturan mengenai amr dan perintah untuk meninggalkan yang sebaliknya didapat istiqra' (induktif) sebagai berikut ini:

  • Pernyataan A I: Manusia diperintah untuk beriman,
  • Pernyataan A II: Manusia dilarang untuk tidak percaya,
  • Pernyataan A III: Iman kontradiksi dari tidak percaya,
  • Pernyataan B I: Kejujuran diperintahkan,
  • Pernyataan B II: Dilarang berbohong,
  • Pernyataan B III: Kejujuran kontradiksi dari dusta.

Ringkasan dari pernyataan di atas, kalau tiap perintah untuk melaksanakan suatu hal memiliki arti melarang yang kebalikannya. Selanjutnya lahirlah ketentuan:

انّ الأمر بالشيء نهي عن ضدّه

C. Metode Campuran / Metode Konvergensi

Metode pencampuran yang umum disebutkan dengan metode konvergensi atau tariqat al jam'an adalah metode penyatuan di antara metode mutakallimin dan metode hanafiyah, yakni dengan memerhatikan kaidah ushuliyyah dan menyampaikan dalil-dalil mengenai kaidah itu. Perhatikan penerapannya pada permasalahan fiqh far'iyyah dan kaitannya dengan aturan.

Metode konvergensi adalah metode yang dipakai oleh banyak ulama kontemporer khususnya dalam memperdebatkan hukum di mana mereka memakai kaidah ushul yang ada dan mengambil ringkasan umum (induksi) dari bermacam furu'-furu'. Salah satu contohnya ialah ketentuan yang dicetuskan oleh Imam al-Khathabiy, yakni:

الأمر الثبت لمعلوم لا يترك بالأمر المظلوم

"Perintah yang ditetapkan oleh sesuatu yang diketahui tidak bisa ditinggal dengan perintah dzanni".

Kaidah ini memiliki sifat deduktif, didapat dengan menimbang kaidah kalau dalam lafal yang final atau terang tak perlu mencari arti lain selama masih bisa disimpulkan sesuai dengan teks. Adapun induksi didapat dari:

  • Pernyataan I: Kepercayaan tidak bisa dikalahkan oleh kebimbangan,
  • Pernyataan II: Lafal dhahir lebih kuat daripada lafal dzanni.

Dari ke-2 ketentuan di atas kelihatan jika suatu hal yang pasti lebih kuat dibanding yang samar. Jadi kesimpulan dari ke-2 ketentuan di atas yakni bahwa perintah berdasarkan suatu hal yang diketahui tidak bisa ditinggal dengan perintah yang dzanni.

4. Apa Perbedaan Al Qawa'id Ushuliyyah Dengan Al Qawa'id Al Fiqhiyyah ?

Perbedaan antara kaidah ushuliyah dan kaidah-kaidah fiqhiyah adalah :

  1. Kaidah-kaidah ushuliyah adalah timbangan dan parameter untuk melaksanakan istinbath al-ahkam secara betul. Dengan ushul fiqh digali hukum-hukum dari dalil-dalilnya, seperti hukum dari kata perintah (al amr) ialah wajib, kalimat larangan memperlihatkan haram.
  2. Kaidah ushul fiqh mencakup semua sisi, sedang kaidah fiqih cuma memiliki sifat aglabiyah (pada umumnya), hingga begitu banyak pengecualiannya.
  3. Kaidah ushul fiqh adalah langkah untuk menggali hukum syara' yang praktis, sedangkan kaidah fiqih ialah kelompok hukum-hukum yang sama yang kembali pada satu hukum yang serupa.
  4. Kaidah-kaidah ushulitah muncul saat sebelum furu'. Sedangkan kaidah fiqih ada sesudah furu'.

Kaidah-kaidah ushuliyah menerangkan persoalan-persoalan yang terdapat di dalam bermacam jenis dalil yang detil yang memungkinkan dikeluarkannya hukum dari dalil-dalil itu. Sedangkan kaidah fiqih menerangkan permasalahan fiqih yang terhimpun di dalam kaidah tadi.

5. Apa Urgensi Al Qawa'id Al Ushuliyyah ?

Tujuan mempelajari qawa'id al ushuliyyah pada intinya sama dengan tujuan mempelajari ushul fiqh. Tujuan itu adalah membuka jalan agar bisa mengetahui hukum-hukum syariat dan mengetahui cara-cara istinbath serta istidlal hukum. Dengan begitu, kaidah ushuliyyah mengulas mengenai kaidah-kaidah saat melakukan istinbath, menggariskan jalan yang perlu dilakukan dalam menggali hukum dan menjelaskan tahapan-tahapan dalil serta kondisi yang mengikuti sebuah dalil. Kaidah ushuliyyah sebagai gambaran umum yang umumnya meliputi metode istinbath dari sudut pemaknaannya, baik dari kajian bahasa, skema atau tata bahasanya. Oleh sebab itu, semua metode istinbath harus berdasar pada prinsip-prinsip yang sudah tercantum pada kaidah yang sudah diputuskan dan disetujui bersama.

Sumber:

  • Sinaga, Ali Imron dan Nurhayati. 2018. Fiqh & Ushul Fiqh. Jakarta: Prenada Media
  • Zubair, Maimoen. 2005. Formulasi Nalar Fiqh. Surabaya: Khalista.
  • Azizi, Alfian Qodri. 2016. Penggunaan Metode Kaidah Ushuliyah Dalam Memahami Nash Secara Tekstualis dan Kontekstual. Journal of Islamis Studies and Humanities. 5(1), 16 – 21.
  • Hamzawi, M Adib. 2016. Qawa’id Ushuliyyyah & Qawa’id Fiqhiyyah (Melacak Konstruksi Metodologi Istinbath al-Ahkam). Inovativ. 2(2), 97 – 99.