Skip to main content

Seputar Ijtihad, Dasar Hukum Ijtihad, Syatar-Syarat Ijtihad, dan Obyek Ijtihad

Daftar Isi [ Tampil ]
Seputar Ijtihad

Latar Belakang Ijtihad

Kian berkembangnya sosial warga akan memunculkan persoalan baru yang makin kompleks. Persoalan-persoalan itu memerlukan pembahasan guna penentuan hukum yang sesuai yang di syariatkan agama.

Penentuan hukum itu tidak semudah membalikkan telapak tangan namun memerlukan pemikiran-pemikiran yang wajib berdasarkan pada hukum yang ada pada Al-Qur`an dan Hadits.

Oleh sebab itu dibutuhkan penuntasan secara benar-benar atas persoalan-persoalan yang tidak diperlihatkan secara tegas oleh Al-Qur`an dan Hadits. Karenanya ijtihad menjadi benar-benar penting.

Tidak cuma mengetahui hukum Al-Qur`an dan Hadits saja, seseorang yang bakal berijtihad mesti memiliki keilmuan yang mumpuni dalam ijtihadnya.

Baca juga: Seputar Manthuq, Mafhum, Mujmal dan Mubayyan

Ijtihad adalah suatu jalan untuk memperoleh ketetapan-ketetapan hukum, dalil-dalil ketetapan tersebut dan sebagai suatu langkah untuk memberi ketetapan hukum yang muncul sebab tuntutan kebutuhan dalam muamalah ijtihad di sini memiliki obyek dan metode-metode tertentu.

Rumusan Masalah Ijtihad

  1. Apa pengertian ijtihad ?
  2. Apa saja dasar hukum ijtihad ?
  3. Bagaimana syarat-syarat melaksanakan Ijtihad ?
  4. Apa Obyek Ijtihad ?

Apa Pengertian Ijtihad ?

Kata ijtihad berakar dari kata "Al-Juhd" yang memiliki arti al-thaqah (daya, kekuatan, kemampuan) atau dari kata "Al-Jadh" yang memiliki arti al-masyaqqah (kesusahan, kegemaran). Dari itu, ijtihad menurut kebahasaannya "badzl al-wus`wa al-majhud" (pengerahan daya dan kekuatan), atau pengerahan daya dan kekuatan pada suatu rutinitas dari rutinitas-rutinitas yang sulit dan berat.

Baca juga: Pengertian Amr dan Nahyi beserta Kaidah-kaidah yang Terkait dengan Keduanya

Dalam kata lain, ijtihad adalah pengerahan semua kesanggupan seorang faqih (ahli fiqih) untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hukum suatu hal lewat dalil syara`.

Sedangkan ijtihad menurut istilah ulama` ushul adalah mengerahkan semua daya untuk menciptakan hukum syara` dari dalilnya yang detil di antara dalil syara`.

Apa Saja Dasar Hukum Ijtihad itu ?

Adapun dasar ijtihad yaitu Al-Qur`an dan Hadits. Di antara ayat Al-Qur`an yang menjadi dasar ijtihad ialah :

ومِنْ حَيْثُ خَرَ جْتَ فَول ِ وَ جْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِ دِ الْحَرَ ام

Artinya : "Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu menuju Masjidil Haram."

Dari ayat itu, bisa di ketahui jika orang yang ada di masjidil haram, apabila akan melaksanakan sholat, bisa mencari dan memastikan arah itu lewat itjihad dengan mengerahkan akal pemikirannya berdasar pada tanda-tanda yang ada.

Adapun keterangan dari Sunnah, sebagai dasar berijtihad salah satunya ialah hadits `Amr bin al-`Ash yang di riwayatkan Imam Muslim yang menuturkan, Nabi Muhammad bersabda:

"Jika seorang hakim memutuskan hukum dengan berijtihad, lalu benar maka dia memperoleh dua pahala. Namun, apabila dia memutuskan hukum dalam ijtihad itu salah, maka dia memperoleh satu pahala ".

Baca juga: Seputar Mutlaq, Muqayyad, Dhahir dan Muawwal

Dan hadits Mu`adz ibnu Jabal saat Rasulullah SAW mengutusnya ke Yaman untuk menjadi hakim :

Rasulullah bertanya : "Dengan apa kamu memberi hukuman?" Dia menjawab "dengan apa yang telah ada dalam kitab Allah ". Bertanya Rasulullah, "apabila kamu tidak memperolehnya dalam kitab Allah?" Ia menjawab "saya memutuskan dengan yang di putuskan Rasulullah".

Dari dialog itu, bisa di simpulkan kalau selama masih ada nash-nash yang mengatur suatu hal itu dalam Al-Qur`an, maka bisa memakai Al-Qur`an, jika tidak ada pada Al-Qur`an maka memakai Hadits Nabi, apabila dari hadits Rasulullah SAW tidak ada aturannya atau jika tidak ada nash (dalil) tercatat, barulah dibutuhkan ijtihad.

Bagaimana Syatat-Syarat Melakukan Ijtihad ?

Ulama` ushul fiqih berlainan pendapat dalam memutuskan syarat-syarat mujtahid (orang yang melakukan ijtihad). Pada umumnya, pendapat mereka mengenai syarat mujtahid bisa di simpulkan sebagaimana berikut :

  1. Mempunyai ilmu dan pengetahuan yang luas mengenai ayat-ayat Al-Qur`an yang terkait dengan permasalahan hukum. Dalam arti, mengulas ayat-ayat itu untuk menggali suatu hukum.
  2. Mempunyai pengetahuan yang luas mengenai hadits-hadits Nabi SAW yang terkait dengan permasalahan hukum.
  3. Menguasai semua permasalahan yang hukumnya sudah di perlihatkan oleh ijma` supaya dalam menetapkan suatu hukum tidak berlawanan dengan ijma`.
  4. Mempunyai pengetahuan yang luas mengenai qiyas dan bisa menggunakannya pada proses istinbath hukum.
  5. Menguasai bahasa arab secara mendalam. Karena, Al-Qur`an dan Hadits selaku sumber hukum Islam tersusun dalam tata bahasa arab yang tinggi.
  6. Mengetahui pengetahuan mendalam mengenai nasikh dalam Al-Qur`an dan Hadits supaya menggali hukum tidak memakai ayat Al-Qur`an dan Hadits yang sudah dinasakh (dihapus).
  7. Mengetahui ilmu azbabun nuzul dan asbabul al-wurud, supaya dapat menggali hukum secara cepat.

Apa Obyek Ijtihad itu ?

Jika nash yang kita hadapi, tegas sarih lagi qat'iyy al-wurdnya (kehadirannya dari syara') dan qat'iyy al-dalalahnya (pasti penunjukannya pada arti tertentu), maka tak ada ijtihad kepadanya. Maka kita mesti tatbiqkannya seperti yang diinginkan oleh nash itu, karena ia qat'iyy al-wurudnya, ia tidak diulas kembali dan lantaran ia qat'iyy al-dalalahnya, tidak ada tempatnya lagi kita mengulas ma'nanya. Menurut Minhajuddin, selama nash itu qat'iyy al-wurud, maka kejelasan dan hadirnya dalil-dalil itu dari sisi Tuhan atau Rasul-Nya tidak lagi menjadi ajang ulasan yang membuang energi itu. Lebih lanjut disebutkan jika sepanjang nash itu qat'iyy al-dalalah tidak ada tempat untuk mengulas dan berijtihad mengenai dalalah ketentuan hukumnya dan artinya.

Baca juga: Seputar Nasakh, Muradif, dan Musytarak

Di antara yang demikian, adalah ayat-ayat ahkam yang mufassalah dan muhkamah, seperti Firman Allah yang artinya: "Pezina wanita dan pezina lelaki jilidlah masing-masing dari ke-2 nya 100 kali jilidan". Bila nash yang kita hadapi dzanni al-wurudnya atau dzanni dalalahnya, dia yang dibutuhkan ijtihad.

Para mujtahid harus mengulas dalil itu dari sisi sanad dan jalan sampainya ke kita dan dari jalur dalalah-nya pada arti, supaya sampai juga kita terhadap mengetahui hukumnya dengan jalan qiyas, istihsan, istishab, istislah. Bidang ijtihad (majal al-ijtihad) sangat luas dalam permasalahan-permasalahan yang tidak ada nash. Dalam permasalahan-permasalahan yang sudah ada nashnya tidak ada ijtihad lagi.

Sumber:

Nasrun, Rusli. 1999. Konsep Ijtihad al-syaukani. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.

Umam, Khairul. 1989. ushul fiqh II. Bandung: CV Pustaka Setia Hasbi, Muhammad.