Skip to main content

Seputar Manthuq, Mafhum, Mujmal dan Mubayyan

Daftar Isi [ Tampil ]
Seputar Manthuq, Mafhum, Mujmal dan Mubayyan

Manthuq dan Mafhum

Manthuq berarti yang dikatakan. Dalam Ushul, yang diartikan dengan manthuq adalah suatu lafadz atau susunan sebagaimana yang dikatakan seseorang. Sedangkan Mafhum berarti yang dimengerti, yakni suatu hal ketetapan yang dimengerti dari manthuq itu.

Jadi, suatu hukum yang didapat tidak dari lafadz yang dikatakan, baik hukum itu sesuai hukum dari lafadz yang dikatakan atau berlainan, inilah yang disebut mafhum.

Mujmal dan Mubayyan

Mujmal adalah lafadz yang shigatnya sendiri tidak memperlihatkan arti yang diinginkan dan tidak juga dijumpai qarinah lafdzhiyah (tulisan) atau haliyah (kondisi) yang menerangkannya. Sehingga tiap lafadz yang tidak bisa dimengerti tujuannya dengan sendirinya, jika tidak dibarengi dengan qarinah yang bisa menyampaikan tujuan itu dinamakan mujmal. Sedangkan pengertian mubayyan adalah suatu pengucapan yang jelas dan terang tujuannya tanpa membutuhkan keterangan dari lainnya.

Baca juga: Pengertian Amr dan Nahyi beserta Kaidah-kaidah yang Terkait dengan Keduanya

Kekaburan arti lafadz mujmal lantaran lafadz sendiri, tidak dari luar, dikarenakan:

  1. Lafadz itu musytarak yang susah ditetapkan artinya.
  2. Arti lafadz-lafadz yang menurut arti lughawi (bahasa) itu dipindah oleh Syari' ke arti yang patut untuk istilah syari'at. Misalkan lafadz shalat, zakat, shiyam dan lain-lain merupakan lafadz-lafadz yang dipindahkan oleh Syari' dari arti menurut bahasa ke arti yang khash dalam istilah syari'at.
  3. Arti lafadz-lafadz menurut arti yang umum itu dipakai oleh Syari' sendiri untuk suatu arti yang khusus.

Kemujmalan suatu lafadz dengan sebab yang mana saja dari 3 jenis sebab tersebut di atas tidak ada jalan lain untuk memberikan keterangan atau menghilangkan kemujmalannya maupun menafsirkan apa yang diinginkannya, selain kembali ke Syari' yang memujmalkannya sendiri.

Baca juga: Seputar Mutlaq, Muqayyad, Dhahir dan Muawwal

Jika Syari' mendatangkan keterangan (bayan) untuk lafadz mujmal dengan bayan yang prima lagi qath'i, karenanya lafadz mujmal itu termasuk lafadz mujmal mufassar, seperti bayan yang datang secara terinci pada perintah shalat, zakat, dan sebagainya. Jika Syari' mendatangkan suatu bayan untuk lafadz mujmal, sedangkan bayan itu tidak cukup buat menghilangkan kemujmalannya, maka lafadz mujmal itu termasuk lafadz musykil dan terbukalah jalan untuk mengulas dan berijtihad buat menghilangkan kemusykilannya. Oleh sebab itu, bayannya tidak bergantung ke Syari', melainkan telah memadailah suatu ijtihad dari mujtahid.

Baca juga: Seputar Nasakh, Muradif, dan Musytarak

Macam-macam Bayan: Dengan pengucapan, dengan tindakan, dengan tulisan, dengan isyarat, dengan meninggalkan tindakan, dengan diam, dengan jenis-jenis takhsish.