Skip to main content

Seputar Mutlaq, Muqayyad, Dhahir dan Muawwal

Daftar Isi [ Tampil ]
Mutlaq, Muqayyad, Dhahir dan Muawwal

Mutlaq dan Muqayyad

Secara bahasa kata mutlaq memiliki arti bebas tanpa ikatan, dan kata muqayyad memiliki arti terikat. Kata mutlaq menurut istilah adalah lafadz yang memperlihatkan suatu satuan tanpa terbatasi secara harfiah dengan suatu ketentuan. Seperti misriy (seorang Mesir), dan rajulun (seorang lelaki), dan kebalikannya lafadz muqayyad yaitu lafadz yang memperlihatkan suatu satuan yang secara lafdziyah terbatasi dengan suatu ketetapan, misalkan, mishriyun muslimun (seorang berkenegaraan Mesir yang beragama Islam), dan rajulun rasyidun (seorang lelaki yang cerdas).

Baca juga: Seputar Nasakh, Muradif, dan Musytarak

Dhahir dan Muawwal

1. Dzahir

Dzhahir adalah lafadz yang menunjukkan suatu arti yang diinginkan oleh shigat lafadz tersebut, namun bukan arti itu yang diartikan oleh siyaq al-kalam dan lafadz tersebut masih bisa dita'wilkan, didefinisikan dan dapat dinasakhkan pada periode Rasulullah Saw.

Baca juga: Seputar Manthuq, Mafhum, Mujmal dan Mubayyan

Hukum Lafadz Dhahir

Lafadz dhahir itu penting diamalkan sesuai arti yang diinginkannya, asal tidak ada kaidah yang menerjemahkan, menta'wilkan atau menasakhkannya. Oleh sebab itu bila lafadz dhahir itu:

  • Pada kondisi mutlaq, maka tetap dalam kemutlakannya, asal tidak ada kaidah yang mentaqyidkannya (membatasi kemutlakannya). Jika ada kaidah yang mentaqyidkannya, maka diamalkan kaidah yang mentaqyidkannya.
  • Pada kondisi umum ('am) maka dia masih dalam keumumannya, asal tidak ada kaidah yang men-takhshish-kannya. Bila ada kaidah yang mentakhshishkannya, sebaiknya diamalkan sesuai mukhashishnya.
  • Memiliki makna inti, sebaiknya disimpulkan menurut makna yang haqiqi itu, asal tidak ada qarinah yang memaksakan untuk diarahkan ke makna yang majazi.
  • Pada periode pembinaan hukum syari'at, yakni pada masa Rasulullah Saw., lafadz dhahir itu bisa dinasakh dalalahnya. Maknanya, hukum yang diambil dari lafadz dhahir bisa ditukar dengan hukum yang berbeda, bila hukum itu berkaitan dengan hukum furu' (cabang) yang bisa berganti menurut kemaslahatannya.

2. Muawwal

Ta'wil adalah mengalihkan suatu pengucapan dari arti yang jelas (dhahir) ke arti lain atau makna. Pengucapan yang ditakwilkan disebut dengan mu'awwal.

Syarat-syarat Ta'wil

  • Sesuai pemakaian bahasa (Arab), beberapa istilah yang terpakai dalam syariat, dan dengan rutinitas yang dipakainya.
  • Harus memiliki keterangan atau jalan yang memperlihatkan kalau dia bisa disimpulkan demikian.