Skip to main content

Seputar Nasakh, Muradif, dan Musytarak

Daftar Isi [ Tampil ]
Nasakh, Muradif, dan Musytarak

Pengertian Nasakh

Pengucapan nasakh menurut bahasa memiliki arti (menggagalkan dan menghilangkan), beberapa ahli Ushul Fiqih mengartikan nasakh dengan: "Penghilangan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang hadir selanjutnya "Pengertian hukum syari'at sebaiknya disimpulkan secara luas, sehingga meliputi bukan hanya syari'at Islam tapi juga syari'at saat sebelum Islam. Dengan begitu pemahaman penghilangan hukum syari'at oleh Syar'i mencakup meniadakan hukum syari'at saat sebelum Islam oleh syari'at Islam dan menghapuskan beberapa hukum syari'at Islam oleh beberapa hukum syari'at Islam yang lain. Nasakh dapat berlaku sesudah hukum syari'at yang dipilih oleh dalil yang hadir terlebih dulu diterapkan. Berbeda dengan takhsish al-'am, yang mukhashshishnya, baik berbentuk kalimat atau tidak, selalu berbarengan hadirnya dengan lafadz 'am itu. Sebab tujuan takhshish itu semenjak awalnya memberlakukan sebagai satuan artinya.

Baca juga: Pengertian Amr dan Nahyi beserta Kaidah-kaidah yang Terkait dengan Keduanya

Macam-macam Nasakh :

  1. Naskhul kitab bil kitab.
  2. Naskhul kitab bis-sunnah.
  3. Naskhul sunnah bis-sunnah.
  4. Naskhul sunnah bil-kitab.
  5. Naskhul ijma' bil-ijma'.
  6. Naskhul Ijma' bin-nash.
  7. Naskhun nas bil-ijma'.
  8. Naskhul qiyas.

Pengertian Muradif

Muradif adalah sejumlah lafadz yang memperlihatkan satu arti. Misalkan lafadznya banyak, sedang maknanya dalam pepatah Indonesia satu, kerap disebutkan dengan persamaan kata.

Baca juga: Seputar Manthuq, Mafhum, Mujmal dan Mubayyan

Kaidah murodif: "mendudukkan dua muradhif pada tempat yang sama itu dibolehkan bila tidak ditentukan oleh syara'".

Mempertukarkan dua muradif satu dengan lainnya itu dibolehkan bila dibetulkan oleh syara'. Tetapi kaidah ini tidak berlaku untuk Al-Qur'an, sebab Al-Qur'an tidak boleh diubah. Bagi mazhab malikiah, takbir shalat tidak boleh dilaksanakan terkecuali dengan lafadz "Allah Akbar." Imam Syafi'i memperkenankan dengan lafadz "Allahu Akbar "Sementara itu, imam Abu Hanifah memperkenankan lafadz "Allah Akbar" ditukar dengan lafadz "Allah Al-Azim" atau "Allah Al-Ajal ". Ulama' yang tidak memperkenankan berargumen sebab terdapatnya halangan syar'i yakni memiliki sifat ta'abudi (terima apa yang ada tidak boleh diganti). Sedangkan yang memperkenankan, berargumen sebab terdapatnya kecocokan arti dan tidak mengurangi tujuan beribadah itu.

Pengertian Musytarak

Lafadz musytarak adalah lafadz yang memiliki dua makna ataupun lebih yang berbeda. Misalkan lafadz "quru'" memiliki makna "suci" dan "haid". Lafadz itu membutuhkan keterangan yang cermat apakah yang dimaksud dengannya. Lafadz Musytarak dibuat untuk beberapa arti yang penunjukannya ke arti itu dengan jalan berganti-gantian, tidak sekaligus.

Baca juga: Seputar Ijtihad, Dasar Hukum Ijtihad, Syatar-Syarat Ijtihad, dan Obyek Ijtihad

Penyebab Lafadz Menjadi Musytarak :

  1. Lafadz itu dipakai oleh suatu suku bangsa (qabilah) untuk arti khusus dan oleh suku bangsa lainnya dipakai untuk arti yang lain lagi, lalu hingga ke kita dengan ke-2 arti itu tanpa adanya keterangan dari soal ketidaksamaan yang diartikan oleh pembuatnya.
  2. Lafadz yang dibuat menurut hakekatnya untuk satu arti, lantas digunakan juga ke arti lain namun secara majazi (kiasan). Penggunaan secara majazi ini masyhur juga, sehingga beberapa orang menduga kalau penggunaannya dalam makna yang ke-2 itu ialah hakiki, bukan majazi. Dengan begitu beberapa pakar bahasa memasukkannya ke golongan lafadz musytarak.
  3. Lafadz itu awalnya dibuat untuk satu arti, selanjutnya dipindah ke istilah syari'at untuk makna yang lain. Misalkan lafadz "shalat", menurut makna bahasa awalnya ini berarti berdo'a, selanjutnya menurut makna istilah syar'i adalah shalat sebagai halnya yang kita kenal sekarang.

Hukum Musytarak: Jika persekutuan makna lafadz musytarak dalam suatu nash syar'i itu terjadi di antara arti lughawi dengan arti istilah syar'i, maka sebaiknya diambil arti menurut istlah syar'i.