Skip to main content

Bait Sya'ir Alfiyah tentang Kehidupan

Daftar Isi [ Tampil ]
Sya'ir Alfiyah tentang Kehidupan

Secara umum bait sya'ir Alfiyah Ibnu Malik berisikan kaidah-kaidah ilmu nahwu dan sharaf. Akan tetapi, bila kita mau mengkajinya lebih mendalam lagi, bait sya'ir tersebut memiliki nilai-nilai akhlak yang baik, seperti nilai akhlak kepada Allah Swt yang terkandung dalam sya'ir yang berbunyi :

قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ مَالِكِ | أَحْمَدُ رَبِّ اللّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Artinya: “Syekh Muhammad Ibnu Malik berkata; aku memuji Tuhanku Allah Swt yang merupakan sebaik-baiknya dzat yang merajai.”

Bait sya'ir Alfiyah di atas mengandung makna sebuah tata cara dalam kehidupan sehari-hari, yaitu ketika memulai sesuatu yang baik selain dengan mengucap basmalah juga diikuti dengan mengucap hamdalah, sebagai bentuk penghormatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Selain memiliki keindahan sastra dan makna, bait sya’ir Alfiyah ternyata juga memiliki filosofi yang mendalam tentang kehidupan. Seperti bait sya’ir Alfiyah berkenaan dengan i’rab, bunyi sya’ir tersebut sebagai berikut ini :

فَارْفَعْ بِضَمٍّ وَانْصِبَنْ فَتْحًا وَجُرّ | كَسْرًا كَذِكْرُ اللّهِ عَبْدَهُ يَسُرّ
وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ | يَنُوْبُ نَحْوُ جَا أَخُو بَنِي نَمِرْ

Artinya: “Maka rafa'kanlah dengan dhammah, nashabkanlah dengan fathah, dan jerkanlah dengan kasrah seperti ucapan ذِكْرُ اللّهِ عَبْدَهُ يَسُرُّ. Dan Jazemkanlah dengan sukun, Adapun selain yang telah disebutkan itu termasuk alamat/tanda pengganti, seperti ucapan جَاءَ أَخُو بَنِي نَمِرْ.”

Baca juga : Filosofi Nahwu Shorof dalam Kehidupan Manusia

Secara harfiyah bait sya’ir Alfiyah di atas dapat diartikan sebagai berikut :

فَارْفَعْ بِضَمٍّ : Maka angkatlah dengan keramahan/persatuan, وَانْصِبَنْ فَتْحًا : tegakkan dengan keterbukaan, وَجُرَّ كَسْرًا : bersikap rendah diri dan membuang penyakit hati (kemalasan/perpecahan), وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ : laksanakanlah dengan ketenangan.

Dari makna sya’ir Alfiyah di atas, ada beberapa nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya, yaitu :

1. Bait فَارْفَعْ بِضَمٍّ : maka angkatlah dengan keramahan/persatuan. Dalam bait sya’ir Alfiyah ini, mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap ramah dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Artinya, sebagai makhluk sosial kita pasti memiliki rasa saling membutuhkan dalam menjalani kehidupan ini. Terlebih lagi Indonesia, sebagai negara yang mempunyai keanekaragaman suku, agama, ras, dan adat istiadat yang beraneka ragam. Dengan adanya keberagaman atau masyarakat yang majemuk di Indonesia, karenanya perlu ditanamkan prinsip keramahan/persatuan, sehingga dapat meminimalkan perselisihan yang terjadi.

2. Bait وَانْصِبَنْ فَتْحًا : tegakkan dengan keterbukaan (kejujuran). Artinya, Keterbukaan (kejujuran) hanya bisa dilaksanakan oleh orang yang jiwanya sedang tenang. Lantaran itu dalam hukum fikih, seseorang yang emosi atau jiwanya sedang tidak optimal tidak boleh memutuskan sebuah hukum, karena dikhawatirkan keputusan itu tidak objektif sebab dampak emosi yang tidak stabil. Prinsip وَانْصِبَنْ فَتْحًا juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti jujur dalam perkataan, maknya sesuainya informasi yang kita terima dengan apa yang kita sampaikan kepada sesama. Sehingga tidak muncul fitnah dan penyebaran berita hoaks yang dapat memunculkan konflik dan perpecahan. Bait sya’ir Alfiyah tersebut sangat urgen untuk diimplementasikan baik dalam kehidupan sehari-hari, berbangsa dan bernegara.

Baca juga : Syair Arab Tentang Rindu dan Artinya

3. Bait وَجُرَّ كَسْرًا : Bersikap rendah diri dan membuang penyakit hati. Di kehidupan sosial, manusia sering kali berhubungan dengan manusia yang lain dengan bermacam kepribadian, perbedaan kebudayaan bahkan juga perbedaan agama. Tetapi tidak bersikap tinggi hati adalah perkara yang sangat dianjurkan oleh agama apa pun, begitu pun dengan Islam.

4. Bait وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ : Laksanakanlah dengan ketenangan. Sya’ir Alfiyah ini memiliki makna bahwa suatu hal yang ditangani dengan tenang, maka hasilnya akan bagus. Begitu juga dalam konteks beribadah, seperti tuma'ninah (diam sejenak) saat sedang șhalat. Tuma'ninah menjadi rukun șhalat adalah bertujuan supaya pelaksanaan șhalat itu dapat tenang dan baik sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan, tidak hanya rukun qauli dan fi‘lī tetapi juga qalbi.

Begitu kayanya makna yang terkandung dalam bait sya’ir Alfiyah tentang kehidupan manusia. Bukan hanya sebagai sintaksis dalam menyusun kalimat berbahasa Arab, dalam sya'ir Alfiyah juga mencakup bermacam hikmah dan teladan baik dalam kehidupan, dan bisa jadi jalan keluar dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan manusia asalkan seseorang memahami betul apa arti dari sya'ir itu dan sanggup mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari.