Skip to main content

Contoh Jamak Muannats Salim: I’rab, Pengertian, dan Penjelasannya

Daftar Isi [ Tampil ]
Contoh Jamak Muannats Salim

Jamak muannats salim adalah isim yang susunannya tidak rusak ketika perubahannya dari bentuk mufrad ke jamak. Contohnya seperti lafadz مُسْلِمَةٌ  (muslimah), ketika dibuat jamak muannats salim menjadi مُسْلِمَاتٌ (para muslimah) atau مُسْلِمَاتٍ dengan dibaca kasrah tanwin, tanpa merusak susunan awal. Jamak muannats salim merupakan isim yang tidak dapat digunakan untuk mudzakkar, ia hanya diperuntukkan untuk isim-isim jenis muannasts, dan begitu sebaliknya. Jika ada isim jamak muannats salim digunakan untuk mudzakkar, maka hukumnya adalah syadz atau langka. Penjelasan jamak muannats salim kami rasa sudah banyak, namun paling tidak artikel ini dapat menambah wawasan serta menjadi referensi tambahan.

Pengertian Jamak Muannats Salim

Ditinjau dari segi susunannya, jamak muannats salim terbentuk atas tiga kata, yaitu jamak, muannats dan salim. Secara bahasa, jamak berarti kumpulan atau himpunan, muannats berarti yang berjenis perempuan (feminin), sedangkan salim artinya adalah selamat. Dengan demikian, yang dimaksud jamak muannats salim adalah isim yang menunjukkan benda/orang lebih dari dua, yang diperuntukkan untuk jenis perempuan dan selamat ketika perubahan bentuknya dari mufrad ke jamak.

Menurut imam Musthafa al-Ghalayaini dalam kitab Jami’ud Durus, definisi jamak muannats salim adalah isim yang dijamakkan dengan adanya tambahan alif+ta’ pada akhir kalimahnya.

Contoh jamak muannats salim dan mufradnya :

  • طَالِبَةٌ (siswi) – طَالِبَاتٌ (para siswi).
  • مُؤْمِنَةٌ (mukminah) – مُؤْمِنَاتٌ (para mukminah).
  • شَاكِرَةٌ (yang bersyukur) – شَاكِرَاتٌ (orang-orang yang bersyukur).

Pada contoh di atas, perubahan bentuk mufrad ke jamak muannats salim cukup jelas. Coba perhatikan kata mufrad طَالِبَةٌ, ketika dibuat jamak muannats salim menjadi طَالِبَاتٌ, dengan menambahkan alif+ta’ di akhir kalimahnya. Demikian halnya dengan kata مُؤْمِنَةٌ dan شَاكِرَةٌ, ketika dijamak muannats salim-kan, maka menjadi مُؤْمِنَاتٌ dan شَاكِرَاتٌ.

Baca juga : Contoh Jamak Mudzakkar Salim: I'rab, Syarat, dan Pembagiannya

Apakah semua isim yang diakhiri alif+ta’ adalah jamak muannats salim ?

Untuk mengetahui isim jamak muannats salim memang dapat dilihat dengan terdapatnya tanda alif+ta’ di akhir kalimahnya. Namun, tidak semua isim yang diakhiri alif+ta’ adalah jamak muannats salim.

Contohnya lafadz قُضَاةٌ, lafadz ini tidak termasuk jenis jamak muannats salim meskipun ada alif+ta’ pada akhir kalimahnya. Sebab, alif yang terdapat dalam lafadz قُضَاةٌ bukanlah alif zaidah (tambahan), melainkan alif pengganti dari huruf ya’ yang dibuang. Bentuk asalnya adalah قُضَيَةٌ mengikuti wazan فُعَلَةٌ. Dalam ilmu shorof, jika ada ya’ berharakat terjatuh setelah fathah, maka ya’ wajib diganti alif, menjadi قُضَاةٌ.

Contoh lain seperti lafadz أَبْيَاتٌ, bentuk jamak dari mufrad بَيْتٌ. Isim tersebut tidak dapat disebut sebagai jamak muannats salim, meskipun terdapat alif+ta’ di akhir kalimahnya. Karena ta’ yang terdapat dalam lafadz أَبْيَاتٌ bukanlah ta' zaidah, melainkan ta' ashliyyah (asli).

Dengan demikian, untuk mengenali suatu isim apakah ia termasuk jamak muannats salim atau bukan, kita perlu teliti dalam melihat huruf alif+ta’ yang berada di akhir isim tersebut. Jika alif+ta’ yang terdapat di akhir isim adalah zaidah (tambahan), maka ia termasuk jamak muannats salim. Sebaliknya, jika alif+ta’ yang ada pada akhir isim berupa ghairu zaidah (bukan tambahan), maka isim tersebut tidak termasuk jenis isim jamak muannats salim. Sebagaimana lafadz قُضَاةٌ dan أَبْيَاتٌ yang telah kami sebutkan di atas.

I’rab Jamak Muannats Salim

Ada tiga macam i’rab jamak muannats salim, yaitu i’rab rafa’, i’rab nashab, dan i’rab jer. Jamak muannats salim tidak memiliki i’rab jazem, sebab i’rab jazem hanya dikhususkan masuk pada fi’il saja, tidak dapat masuk pada isim.

Adapun i’rab jamak muannats salim ketika rafa’ adalah dhammah, ketika nashob dan jernya ditandai dengan harakat kasrah.

وَحُكْمُ هذَا الجَمْعِ أَنْ يُرْفَعُ بِالضَّمَّةِ وَيُنْصَبُ وَيُجَرُّ بِالكَسْرَةِ

“Dan aturan (i’rab) inilah jamak (muannats salim), yaitu dirafa’kan dengan dhammah, dinashobkan dan dijerkan dengan kasrah”.

Contoh jamak muannats salim ketika rafa’ :

جَائَنِي صَالِحَاتٌ (Para perempuan shalihah menghampiriku).

Lafadz صَالِحَاتٌ dalam contoh tersebut merupakan jamak dari bentuk mufrad صَالِحَةٌ. Berkedudukan sebagai fa’il dari fi’il جَاءَ, dan setiap fa’il pasti dibaca rafa’. Adapun i’rabnya yaitu dengan dhammah, karena lafadz صَالِحَاتٌ adalah isim jamak muannats salim.

Contoh jamak muannats salim ketika nashob :

إِنَّ المُؤْمِنَاتِ الصَّالِحَاتِ ذَوَاتُ خُلُقٍ حَسَنٍ (Sesungguhnya para wanita beriman memiliki akhlak yang baik).

Pada contoh tersebut, lafadz المُؤْمِنَاتِ adalah isim jamak muannats salim dari bentuk mufrad مُؤْمِنَةٌ, di i'rabi dengan kasrah berkedudukan sebagai isimnya inna yang wajib dibaca nashab. Begitu juga dengan lafadz الصَّالِحَاتِ, akhir kalimahnya dibaca kasrah sebab ia juga termasuk jamak muannats salim, berkedudukan sebagai sifat dari lafadz المُؤْمِنَاتِ. Dalam kaidah ilmu nahwu, i’rab sifat haruslah mengikuti maushufnya. Seperti contoh jamak muannats salim di atas.

Contoh jamak muannats salim ketika jer :

يَجِبُ عَلَى المُسْلِمَاتِ أَنْ تَسْتَعْمِلُوا الحُجُبَ (Para muslimah harus memakai penutup-penutup).

Lafadz المُسْلِمَاتِ dalam contoh di atas adalah isim jenis jamak untuk muannats yang berasal dari bentuk mufrad مُسْلِمَةٌ. Kedudukannya dalam kalimat tersebut menjadi majrur (yang dijerkan) atas huruf jer عَلَى. I'rabnya adalah kasrah, karena lafadz المُسْلِمَاتِ termasuk isim jamak muannats salim, ditandai dengan adanya tambahan alif+ta’ di akhir kalimahnya.

Baca juga : I'rab dalam Ilmu Nahwu

Kesimpulan

Dari penjelasan dan contoh jamak muannats salim yang telah kami sebutkan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa jamak muannats salim adalah isim yang menunjukkan makna lebih dari dua baik untuk benda ataupun orang jenis perempuan, yang ditandai dengan adanya huruf tambahan berupa alif+ta’ pada akhir katanya.

Tidak semua isim dapat dijamak muannats salim-kan, seperti lafadz زَيْدٌ, tidak boleh diucapkan menjadi زَيْدَاتٌ/زَيْدَاتٍ, karena lafadz tersebut adalah isim jenis mudzakkar bukan muannats. Terkecuali kalau memang زَيْدٌ merupakan nama perempuan, di daerahmu misalnya. Maka boleh diucapkan زَيْدَاتٌ/زَيْدَاتٍ, dan sebagainya.

Adapun i’rab jamak muannats salim ketika rafa’ adalah dhammah, ketika nashobnya di alamati dengan kasrah, begitu juga ketika tingkah jer. Meski demikian, menurut sebagian pendapat ulama ahli nahwu, ada juga jamak muannats salim yang i’rabnya disamakan dengan i’rab isim ghairu munsharif, yaitu ketika jamak muannats salim dijadikan sebagai nama seseorang (alam asma), insyaallah akan dibahas pada artikel kami selanjutnya.

Tabel 4.1 Contoh Jamak Muannats Salim dan Mufradnya
No. Mufrad Jamak Muannats Salim
1 هِنْدٌ
“Nama perempuan (1)”
هِنْدَاتٌ/هِنْدَاتٍ
“Nama perempuan (banyak)”
2
قَارِئَةٌ
“Orang yg membaca (1)”
قَارِئَاتٌ/قَارِئَاتٍ
“Orang yg membaca (banyak)”
3
نَائِمَةٌ
“Orang yg tidur (1)”
نَائِمَاتٌ/نَائِمَاتٍ
“Orang yg tidur (banyak)”
4
نَاضِرَةٌ
“Orang yg melihat (1)”
نَاضِرَاتٌ/نَاضِرَاتٍ
“Orang yg melihat (banyak)”
5
مَنْصُوْرَةٌ
“Orang yg ditolong (1)”
مَنْصُوْرَاتٌ/مَنْصُوْرَاتٍ
“Orang yg ditolong (banyak)”