Skip to main content

Mulhaq Isim Tasniyah/Mutsanna dan Contohnya

Daftar Isi [ Tampil ]
Mulhaq bil mutsanna

Isim tasniyah adalah isim yang memiliki arti ganda atau dua, baik itu untuk aqil (berakal) ataupun ghairu aqil (tidak berakal). Dalam kaidah ilmu nahwu, isim tasniyah terdiri atas dua macam, yaitu isim tasniyah haqiqi dan isim tasniyah majazi atau mulhaq bil mutsanna, bisa juga disebut syibhul mutsanna. Isim tasniyah majazi atau mulhaq mutsanna inilah yang menjadi point pembahasan pada kajian kali ini.

Pengertian Mulhaq Mutsanna

Menurut KH. Mishbah Zainal Musthafa dalam terjemah matan Jurumiyyah, definisi isim tasniyah majazi atau mulhaq mutsanna adalah isim yang ditasniyahkan dengan tambahan alif+nun ketika rafa’, dan ya’+nun ketika tingkah nashab dan jer.

وَهُوَ مَا ثُنِّيَ بِأَلِفٍ وَنُوْنٍ فِى حَالَةِ الرَّفْعِ وَيَاءٍ وَنُوْنٍ فِى حَالَتَيِ النَّصْبِ وَالجَرِّ

“Isim tasniyah majazi atau mulhaq bil mutsanna adalah isim yang ditasniyahkan dengan alif+nun ketika tingkah rafa’, dan dengan ya+nun ketika nashab dan jer”.

Dalam kitab Ibnu Aqil syarah Alfiyah Ibnu Malik dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan mulhaq bil mutsanna adalah isim yang menunjukkan makna rangkap/ganda dengan tambahan huruf di akhir kalimahnya, dan tidak layak apabila dipisah-pisah kemudian diathaf-athafkan (ma’thuf dan ma’thuf alaih).

Baca juga: Cara Membuat Isim Tasniyah/Mutsanna dan Jamak

Contoh mulhaq mutsanna seperti lafadz كِلَا dan إِثْنَانِ. Kedua isim ini termasuk golongan mulhaq mutsanna karena keduanya tidak dapat dipisah-pisah. Jadi, tidak boleh diucapkan كُلٌّ وَكُلٌّ atau إِثْنٌ وَإِثْنٌ. Sebab lafadz كِلَا dan إِثْنَانِ tidak memiliki bentuk mufrad.

Demikian halnya dengan قَمَرَانِ, lafadz ini juga termasuk mulhaq mutsanna meskipun ia dapat dipisah-pisah. Namun, ketika diathafkan athafnya mengarah kepada selain bentuk mufrad lafadz itu sendiri. Karena yang dimaksud dengan lafadz قَمَرَانِ adalah bulan dan matahari, bukan bulan dan bulan. Jika dipisah-pisah dan diathafkan maka menjadi قَمَرٌ وَشَمْسٌ.

Berbeda lagi dengan lafadz خَالِدَانِ yang berakar dari bentuk mufrad خَالِدٌ. Ketika dipisah-pisah dan diathafkan maka menjadi خَالِدٌ وَخَالِدٌ. Oleh karenanya lafadz tersebut tidak termasuk mulhaq mutsanna, melainkan isim tasniyah yang haqiqi.

Baca juga : Nun pada Jamak Mudzakkar Salim dan Isim Tasniyah

Ketentuan I’rab Kilaa (كِلَا) dan Kiltaa (كِلْتَا) sebagai Mulhaq Mutsanna

Pada dasarnya semua isim tasniyah itu di i’rabi dengan huruf alif ketika rafa’, dan dengan ya’ ketika tingkah nashab dan jernya, termasuk mulhaq mutsanna. Akan tetapi, ada juga mulhaq mutsanna yang di i’rabi menggunakan tanda harakat, yaitu kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا).

Kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) merupakan mulhaq isim mutsanna sebagaimana yang telah kami singgung dalam bab sebelumnya. Meski sama-sama termasuk golongan mulhaq mutsanna, keduanya ini berbeda. Letak perbedaan tersebut yaitu dalam penggunaannya, jika lafadz kilaa (كِلَا) digunakan untuk jenis mudzakkar, maka kiltaa (كِلْتَا) dipakai untuk jenis muannats.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya, bukankah isim tasniyah dan mulhaqnya ditandai dengan tambahan alif+nun atau ya’+nun diakhir kalimahnya ? kenapa dalam lafadz kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) hanya terdapat tambahan huruf alif saja ?.

Jawabnya, mulhaq mutsanna kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) adalah isim yang wajib mudhaf, itulah mengapa kedua lafadz ini tidak terdapat tambahan nun di akhir kalimahnya. Dalam kaidah ilmu nahwu, di mana ada isim tasniyah atau jamak salim berlaku mudhaf maka nunnya wajib dibuang. Terlebih lagi isim-isim yang berstatus wajib mudhaf, sebagaimana kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا).

Adapun i’rab kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) ketika rafa’ adalah alif, ketika nashab dan jer dengan ya’, sebagaimana i’rab isim tasniyah haqiqi. Dengan syarat kedua mulhaq mutsanna tersebut mudhaf kepada isim dhamir. Apabila mudhaf ilaihnya berupa isim dhahir, maka di i’rabi dengan harakat yang dikira-kirakan atas alif, baik saat keadaan rafa’, nashab, maupun jer.

Contoh mulhaq mutsanna kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) mudhaf kepada isim dhamir :

  • جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلَاهُمَا (Kedua Zaid itu telah datang).
  • جَائَتِ المَرْأَتَانِ كِلْتَاهُمَا (Kedua perempuan itu telah datang).
  • رَأَيْتُ الزَّيْدَيْنِ كِلَيْهِمَا (Aku melihat kedua Zaid itu).
  • رَأَيْتُ المَرْأَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا (Aku melihat kedua perempuan itu).
  • مَرَرْتُ بِالزَّيْدَيْنِ كِلَيْهِمَا (Aku berpapasan dengan kedua Zaid itu).
  • مَرَرْتُ بِالمَرْأَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا (Aku berpapasan dengan kedua perempuan itu).

Contoh mulhaq mutsanna kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) mudhaf kepada isim dhahir :

  • جَائَنِي كِلَا الزَّيْدَيْنِ (Keduanya (Zaid) telah mendatangiku).
  • جَائَتْنِي كِلْتَا المَرْأَتَيْنِ (Kedua-duanya (perempuan) telah mendatangiku).
  • رَأَيْتُ كِلَا الرَّجُلَيْنِ (Aku melihat kedua-duanya pemuda itu).
  • رَأَيْتُ كِلْتَا المَرْأَتَيْنِ (Aku melihat kedua-duanya perempuan itu).
  • مَرَرْتُ بِكِلَا الرَّجُلَيْنِ (Aku berpapasan dengan kedua-duanya pemuda itu).
  • مَرَرْتُ بِكِلْتَا المَرْأَتَيْنِ (Aku berpapasan dengan kedua-duanya perempuan itu).

Coba perhatikan contoh di atas, ketika mulhaq mutsanna kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) berlaku mudhaf kepada isim dhamir, i’rabnya mengikuti i’rab isim tasniyah sebagaimana mestinya. Sedangkan pada saat mudhaf kepada isim dhahir, kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) di i’rabi dengan harakat muqaddarah atas alif.

Tambahan : Sebagian ulama ahli nahwu ada yang berpendapat bahwa kilaa (كِلَا) dan kiltaa (كِلْتَا) adalah bentuk isim mufrad secara lafdziyahnya. Akan tetapi dalam hal makna, keduanya mutsanna.

I’rab Itsnaani (إِثْنَانِ) dan Itsnataani (إِثْنَتَانِ) sebagai Mulhaq Mutsanna

Lafadz itsnaani (إِثْنَانِ) dan itsnataani (إِثْنَتَانِ) itu berlaku sama sebagaimana lafadz ibnaani (إِبْنَانِ) dan ibnataani (إِبْنَتَانِ), dalam i’rabnya. Artinya, ketika rafa’ di i’rabi dengan alif, ketika nashab dan jer di i’rabi dengan ya’.

Hanya saja, itsnaani (إِثْنَانِ) dan itsnataani (إِثْنَتَانِ) termasuk golongan mulhaq mutsanna, sedangkan ibnaani (إِبْنَانِ) dan ibnataani (إِبْنَتَانِ) adalah isim tasniyah yang haqiqi, karena keduanya dapat ditajrid (dipisah-pisah) lalu dibuat athaf-athafan, menjadi إِبْنٌ وَإِبْنٌ.

Contoh mulhaq mutsanna itsnaani (إِثْنَانِ) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang di antara kalian menghadapi kematian, sedang ia hendak berwasiat, hendaknya (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kalian”. (QS. Al-Maidah: 106)

Lafadz itsnaani (إِثْنَانِ) dalam potongan ayat di atas berkedudukan sebagai khobar atas mubtada’ lafadz شَهَادَةُ. Dan setiap khobar pasti dibaca rafa’, adapun i’rab rafa’nya yaitu alif karena itsnaani (إِثْنَانِ) adalah mulhaq bil mutsanna.

Contoh mulhaq mutsanna itsnataani (إِثْنَتَانِ) :

فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا

Artinya : “Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air”. (QS. Al-Baqarah: 60)

Lafadz itsnataani (إِثْنَتَانِ) pada ayat di atas adalah mulhaq bil mutsanna yang berlaku sebagaimana ibnataani (إِبْنَتَانِ). Berkedudukan menjadi fa’il atas fi’il فَانْفَجَرَتْ, dan setiap fa’il hukumnya adalah rafa’. Ditandai dengan alamat alif sebagai pengganti atas dhammah. Adapun nun yang terdapat pada lafadz itsnataani (إِثْنَتَانِ) itu dibuang, sebab ia berlaku mudhaf, jika dikembalikan maka menjadi اِثْنَتَانِ عَشْرَةَ.

Demikianlah penjelasan mengenai mulhaq bil mutsanna. Sederhananya, mulhaq bil mutsanna diartikan sebagai isim yang kurang mencukupi syarat definisi isim tasniyah secara haqiqi, yaitu dapat ditajrid (dipisah-pisah) dan diathafkan kepada semisalnya. Dalam bab mulhaq mutsanna ini juga kami menemukan perbedaan pendapat dalam hal i’rabnya. Untuk itu, selain dari artikel ini kami harap pembaca juga mencari referensi lainnya sebagai rujukan tambahan sekaligus banding.