Skip to main content

Kitab Shorof Dasar Amsilatut Tashrifiyah

Daftar Isi [ Tampil ]
Kitab Shorof

Nahwu merupakan bapaknya ilmu, dan shorof adalah ibunya. Pernyataan ini begitu terkenal di lingkungan pesantren. Seakan-akan kiasan barusan menegaskan pada kita kalau untuk memperoleh serta menyibak ilmu dan pengetahuan, terutamanya pengetahuan yang berkaitan dengan syariat, kita perlu menguasai ilmu nahwu sebagai bapaknya ilmu, dan seorang bapak tidak komplet tanpa seseorang yang menjadi ibu. Dengan begitu, ilmu shorof juga sama utamanya dengan nahwu sebagai dua induk ilmu dalam mempelajari tata bahasa Arab.

Untuk dapat membaca kitab berbahasa Arab, pasti kita membutuhkan ilmu nahwu untuk memastikan keakuratan formasi serangkaian kata yang bakal berimplikasi pada arti dari sebuah kalimat. Tanpa nahwu, kita tidak akan dapat sampai pada arti dalam teks-teks kitab kuning. Walau begitu, ada pengetahuan lain yang perlu kita kuasai, yakni ilmu shorof sebagai pasangan dari ilmu nahwu. Kedua disiplin keilmuan ini tidaklah sama. Kalau ilmu nahwu mempelajari peralihan yang terjadi di akhir-akhir kalimah atau kata, maka ilmu sharaf/tashrif adalah ilmu yang mempelajari peralihan wujud kata dari 1 wujud ke wujud yang lain.

Banyak kitab-kitab yang membicarakan ilmu shorof secara eksklusif seperti Ilmu Shorof dan Nadzam Maqshud, atau yang dikolaborasikan dengan ilmu nahwu, seperti kitab nahwu shorof fenomenal Alfiyah Ibnu Malik, Syarah Qothrunnada, Jami'ud Durus, dan sebagainya.

Tetapi, umumnya kitab nahwu dan sharaf di atas masuk ke kelompok kitab "kelas berat", tidak direkomendasikan langsung dipelajari pemula. Oleh karenanya, biasanya para pemula di ponpes akan memakai kitab Amtsilatut Tashrifiyah dalam mempelajari ilmu sharaf.

Amtislatut Tashrifiyah adalah kitab shorof dasar yang dikarang oleh KH. M. Ma'sum bin Ali saat usia beliau 19 tahun. KH. Ma'sum terlahir di Maskumambang-Gresik, berasal dari ponpes Seblak-Jombang. KH. Ma'sum adalah menantu dari Hadratu as-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Nama lengkap beliau adalah M. Ma'sum bin Ali bin Abdu al-Jabbar al-Maskumambangi. Beliau meninggal dunia pada 8 Januari 1933 tepatnya di bulan suci Ramadhan. KH. Ma'sum adalah ulama yang produktif, di antara beberapa karya beliau yaitu kitab Amtsilatut Tashrifiyyah, Fathu al-Qadir, al-Durus Al-Falakiyah, dan Badi'atu al-Mitsal.

Kelebihan kitab shorof dasar ini dibandingkan dengan kitab-kitab shorof lainnya adalah formasinya yang sistematis, mulai dari tsulatsi mujarrod dan seterusnya, dan dimulai dari tasrif istilahi sampai tasrif lughawi. Formasinya yang sederhana dan langsung memperlihatkan beberapa contoh tanpa banyak teori, karena itu kitab ini pantas jadi kitab shorof dasar untuk para pemula dalam mempelajari transisi dari satu bentuk ke lainnya.

Di samping menjadi pegangan pokok di beberapa bahkan mayoritas pesantren di Indonesia, kitab Amtsilatut Tashrifiyah juga menjadi pedoman belajar pengetahuan sharaf di jenjang sekolah tinggi internasional.

Mendalami peralihan wujud kata dari 1 ke yang lain dengan memakai kitab shorof Amtsilatut Tashrifiyah akan mempermudah kita untuk menimbang dan menelusur peralihan kalimah lainnya yang tidak tertera dalam beberapa contoh kitab ini. Namun, kadang-kadang mendalami peralihan wujud kata dari beberapa contoh akan membuat kita cukup kesusahan saat mendapati kata yang asing untuk kita, apa peralihannya sama dengan perumpamaan ini, atau contoh itu. Ya, walau ini sedikit terjadi.

Biarpun sistematis serta mempermudah pemula belajar shorof, kitab Amtsilatut Tashrifiyah cuma berisi sedikit keterangan, dan hal itu bisa dimaklumi dari judul kitab ini, Amtsilatut Tasrifiyah yang bila kita definisikan ialah "contoh-contoh tasrif".

Baca juga: Buku Shorof Lengkap PDF untuk Pemula

Walaupun keterangan-keterangan dalam kitab shorof ini sedikit, akan tetapi lumayan meliputi beberapa bagian yang penting. Contohnya, dijelaskan dalam kitab shorof ini di bab pertama mengenai tsulasi mazid :

ينقل الثلاثي المجرد إلى وزن - فعّل - بزيادة التضعيف ١- للتعدية، نحو: فَرَّحَ زَيْدٌ عَمْرًا، فإنّ مجردَه لازم. ٢- وللدلالة على التكثير، نحو: قَطَّعَ زَيْنٌ الحَبْلَ، أي جَعَلَهُ قِطَعًا كثيرةً، ٣- ولنسبة المفعول إلى أصل الفعل، نحو: كَفَّرَ زَيْدٌ عَمْراً، أي نَسَبَهُ إِلَى الكُفْرِ، ٤- ولسلب أصل الفعل من المفعول، نحو: قَشَّرَ زَيْدٌ الرُّمَّانَ، أي نَزَعَ قِشْرَهُ، 5- ولاتخاذ الفعل من الإسم، نحو: خَيَّمَ القَوْمُ، أي ضَرَبُوا الخِيَامَ

Itulah kitab shorof dasar yang banyak dijadikan pedoman bagi pemula dalam mempelajari transisi kata dari satu bentuk ke dalam bentuk lainnya.

Sumber: Ditulis ulang dari nu.or.id