Skip to main content

Mubtada Muakhor: Contoh, Syarat, Ciri, dan Pengertian

Daftar Isi [ Tampil ]
Mubtada Muakhor

Salah satu kunci sukses belajar tata bahasa Arab adalah dengan cara memahami pola atau struktur kalimatnya. Bagi pemula, sangat penting untuk memahami struktur kalimat dalam bahasa Arab, di antaranya adalah jumlah ismiyyah atau kalimat nominal dalam pengertian bahasa Indonesia. Kalimat ini terdiri atas dua unsur penting dan harus ada, yaitu tarkib mubtada dan khabar. Hukum asal struktur ini adalah mubtada berada di awal kalimat, dan khabar terjatuh setelah mubtada. Akan tetapi, ada juga mubtada dan khabar yang bertolak belakang dari kaidah asalnya. Dalam ilmu nahwu, kaidah tersebut diistilahkan dengan mubtada muakhor dan khabar muqaddam.

Pengertian Mubtada Muakhor dan Khabar Muqaddam

Mubtada secara bahasa artinya permulaan atau yang awal. Menurut istilah ulama ahli nahwu, pengertian mubtada adalah isim sharih (eksplisit/terus terang) atau muawwal (butuh dita’wil/diperjelas) yang sepi dari amil lafdziyah dan terletak di awal kalimat sebagai musnad ilaih.  Sedangkan khobar adalah unsur yang menjadi penjelas bagi mubtada dalam sebuah kalimat nominal (jumlah ismiyyah).

Bisa dikatakan, mubtada adalah unsur yang hendak kita terangkan, dan khabar sebagai isi keterangan. Contohnya kalimat “الذَّهَبُ ثَمِيْنٌ” (emas adalah barang berharga). Kata “الذَّهَبُ” dalam kalimat barusan adalah kata yang akan kita terangkan atau informasikan, dan kata “ثَمِيْنٌ” menjadi isi keterangannya. Sehingga, kalimat tersebut dapat memuat informasi secara lengkap dan utuh. Jadi, seseorang yang kita ajak bicara bisa memahami dan tidak menanyakannya kembali.

Pada dasarnya, mubtada adalah isim yang berada di awal kalimat, karena mubtada adalah mahkum alaih (perkara yang dihukumi), dan harus didahulukan atas sesuatu yang menjadi hukumnya (mahkum bih), yaitu khabar. Contoh mubtada khobar seperti kalimat “زَيْدٌ قَائِمٌ” (Zaid berdiri), maka kita menyandarkan hukum berdiri kepada Zaid. Jadi, tidak boleh mengucapkannya “قَائِمٌ زَيْدٌ”, yang di mana “قَائِمٌ” sebagai mubtada dan “زَيْدٌ” menjadi khobarnya. Karena bagaimana bisa kita menghukumi sesuatu yang belum diketahui ?

Akan tetapi, jika kita menjadikan kata “قَائِمٌ” sebagai khabar dan “زَيْدٌ” menjadi mubtada dalam kalimat “قَائِمٌ زَيْدٌ”, maka boleh-boleh saja.  Hal ini dalam tata bahasa Arab disebut dengan khilaful ashli, yang dalam bab ini diistilahkan dengan mubtada muakhor dan khabar muqaddam.

Berangkat dari sini, penulis menyimpulkan bahwa pengertian mubtada muakhor adalah isim yang dibaca rofa’ berkedudukan sebagai musnad ilaih (disandari hukum), dan bertempat di akhir kalimat. Sedangkan khabar muqaddam adalah musnad (hukum yang disandarkan) dalam struktur kalimat nominal, dan didahulukan atas mubtada. Contohnya seperti ucapan   “فِى الدَّارِ رَجُلٌ” (Laki-laki itu ada di rumah), yang mana kata “فِى الدَّارِ” menduduki kedudukan khabar muqaddam dan kata “رَجُلٌ” sebagai mubtada muakhor-nya. Apakah ini diperbolehkan ? Jawabnya, boleh. Karena kalimat tersebut tidak menimbulkan mudharat.

Syaikh Imam Ibnu Malik dalam kitab “Alfiyah ibnu Malik”, yaitu kitab nahwu shorof fenomenal sepanjang masa yang menjadi pedoman tata bahasa Arab bagi mayoritas bahkan semua pesantren di Indonesia, beliau berkata :

وَالأَصْلُ فِى الأَخْبَرِ أَنْ تُأَخَّرَا | وَجَوَّزُ التَّقْدِيْمَ إِذْ لَا ضَرَرَا

“Asal khobar adalah diakhirkan (setelah mubtada), dan orang-orang Arab memperbolehkan mendahulukan khobar jika memang tidak menimbulkan kemudharatan”.

Pada syair bait Alfiyah di atas Imam ibnu Malik menjelaskan kebolehan mubtada di akhirkan dan khobar didahulukan dengan syarat tidak ada kemudharatan. Maksud kata mudharat di sini adalah mukhalafatul qowa’id/labsi (perselisihan kaidah-kaidah/salah paham). Artinya, mukhatthab (lawan bicara) tidak salah paham menentukan mana mubtada (mahkum alaih) dan mana yang menjadi khabar (mahkum bih).

Contoh mubtada muakhor dan khabar muqaddam seperti “فِى الدَّارِ رَجُلٌ” yang kami sebutkan sebelumnya. Kalimat tersebut tidak berselisih paham dengan kaidah mubtada isim nakirah. Karena di antara syarat diperbolehkannya mubtada berupa isim nakirah adalah mendahulukan khobar syibhul jumlah (dharaf, jar majrur). Sehingga tidak menimbulkan iltibas (salah paham) bagi mukhattab (lawan bicara).

Meski demikian, ada perkara yang mana susunan mubtada dan khabar wajib menempati hukum asal. Oleh karena itu, membutuhkan penjelasan lebih lanjut lagi mengenai kewajiban mubtada khobar menempati kaidah asal dan syarat serta ciri susunan mubtada muakhor dan khabar muqaddam.

Syarat dan Ciri Mubtada Muakhor

Sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa kaidah asal mubtada adalah terletak di awal kalimat, dan khabar terjatuh setelahnya. Apabila ada yang tidak sesuai dengan kaidah ini maka khilaful ashli (memperselisihi kaidah asal). Lebih lanjut lagi mengenai hal ini, Imam ibnu Malik menjelaskan tentang syarat mubtada khabar wajib menempati hukum asal, yang nantinya dapat kita ambil kesimpulan akan musawwig (perkara yang memperbolehkan) atau ciri mubtada muakhor dan khabar muqaddam, dalam bait syair Alfiyah sebagai lanjutan dari bait sebelumnya, beliau berkata :

فَامْنَعْهُ حِيْنَ يَسْتَوِىْ الجُزْآنِ | عُرْفًا وَنُكْرًا عَادِمَيْ بَيَانِ

“Cegahlah mendahulukan khabar (muqaddam) ketika mubtada dan khabar itu sama dalam hal ma’rifat dan nakirah yang sepi dari dalil”.

كَذَا إِذَا مَا الفِعْلُ كَانَ الخَبَرَ | أَوْ قُصِدَ اسْتِعْمَالُهُ مُنْحَصِرَ

“Demikian juga dengan mubtada yang memiliki khabar berupa jumlah fi’liyah atau mubtada khabar yang diringkas menggunakan lafadz illa/innama (إِلَّا/إِنَّمَا)”.

أَوْ كَانَ مُسْنَدًا لِذِى لَمِ ابْتِدَا | أَوْ لَازِمِ الصَّدْرِ كَمَنْ لِمُنْجِدَا

“Atau mubtada yang didahului oleh lam ibtida’ (ل) atau didahului lafadz yang wajib terletak di awal jumlah”.

1. Mubtada Khabar berupa dua bagian yang sama

Mubtada dan khabar wajib menempati hukum asal apabila keduanya merupakan bagian yang sama. Maksud dari dua bagian yang sama di sini adalah; dua-duanya berupa isim nakirah atau ma’rifat, serta tidak ditemukannya dalil yang menunjukkan mana mubtada mana khabar.

Contohnya seperti kalimat “صَدِيْقِيْ زَيْدٌ” (temanku adalah Zaid), ungkapan ini muncul dari pertanyaan “مَنْ صَدِيْقُكَ” (siapa temanmu?). Jika dijadikan mubtada muakhor dan khabar muqaddam dikhawatirkan iltibas dengan susunan mubtada khabar “زَيْدٌ صَدِيْقِيْ” (Zaid adalah temanku). Karena kalimat “زَيْدٌ صَدِيْقِيْ” ini muncul dari pertanyaan “مَنْ زَيْدٌ” (siapa itu Zaid?).

Contoh lain seperti “أَجْمَلُ مِنِّيْ أَجْمَلُ مِنْكَ” (orang yang lebih baik dariku itu lebih baik darimu). Pernyataan ini memiliki kesan memuji diri sendiri yang berarti “aku lebih baik darimu”. Apabila disusun menjadi mubtada muakhor dan khabar muqaddam dikhawatirkan iltibas dengan kalimat “أَجْمَلُ مِنْكَ أَجْمَلُ مِنِّيْ” (orang yang lebih baik darimu itu lebih baik dariku). Kalimat ini berkesan merendahkan diri sendiri dan memuji orang lain, mafhum-nya bermakna “kamu lebih baik dariku”.

Dengan demikian, ketika wujud dalil yang menunjukkan mana yang menjadi mubtada dan khabarnya, maka boleh disusun dengan pola mubtada muakhor dan khabar muqaddam. Seperti kalimat “أَبُو يُوسُفَ أَبُو حَنِيْفَةَ” (Abu Yusuf itu seperti Abu Hanifah) menjadi “أَبُو حَنِيْفَةَ أَبُو يُوسُفَ” (أَبُو حَنِيْفَةَ; khabar muqaddam, أَبُو يُوسُفَ; mubtada muakhor). Karena sudah diketahui secara pasti bahwa yang dimaksud adalah menyerupakan Abu Yusuf (murid) kepada Abu Hanifah (guru), bukan kok sebaliknya.

Contoh mubtada muakhor dan khabar muqaddam juga bisa kita jumpai dalam syair Arab berikut ini :

بَنُونَ بَنُو اَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا | بَنُوهُنَّ اَبْنَاءُ الرِّجَاالِ الأَبَاعِدِ

“Cucu lelakiku mirip sekali dengan anak lelakiku. Sedangkan anak perempuanku mirip dengan anaknya lelaki yang sudah jauh nasabnya”.

Pada syair di atas lafadz “بَنُونَ” adalah khabar muqaddam dan lafadz “بَنُو اَبْنَائِنَا” menjadi mubtada muakhor-nya. Hal ini tidak dikhawatrikan timbul iltibas, karena antara cucu dan anak tentu lebih dahulu anak. Sehingga mustahil jika memiliki kesan “anak lelakiku mirip cucu lelakiku”, iya kan ? cucunya kan belum lahir.

2. Mubtada memiliki khabar jumlah fi’liyah

Syarat mubtada khabar yang wajib menempati hukum asal adalah ketika mubtada memiliki khabar berupa kalimah fi’il dan merofa’kan dhamir mustatir yang kembali kepada mubtada itu sendiri.

Misalkan kalimat “زَيْدٌ ذَهَبَ” (Zaid itu telah pergi), lafadz “زَيْدٌ” sebagai mubtada dan fi’il (kata kerja) “ذَهَبَ” menjadi khabar yang menyimpan dhamir mustatir berupa “هُوَ”. Apabila mubtada diakhirkan (muakhor) mendahulukan khabar “ذَهَبَ زَيْدٌ”, dikhawatirkan akan iltibas dengan susunan fi’il dan fa’il, di mana lafadz “ذَهَبَ” di situ merofa’kan isim dhahir, yaitu “زَيْدٌ”.

Dengan demikian, jika mubtada memiliki khabar berupa fi’il yang merofa’kan isim dhahir, maka khabar boleh didahulukan (muqaddam) atas mubtada. Contohnya adalah “زَيْدٌ ذَهَبَ أَبُوْهُ” (bapaknya Zaid itu telah pergi), boleh diucapkan “ذَهَبَ أَبُوْهُ زَيْدٌ”.

Begitu juga ketika khabar berupa fi’il yang mero’fakan dhamir bariz. Misalkan kalimat “الزَّيْدَانِ قَامَا” (kedua Zaid itu berdiri), menjadi “قَامَا الزَّيْدَانِ”. Apa kalimat barusan tidak iltibas dengan susunan fi’il dan fa’il ? Jawabnya tentu saja tidak, karena meskipun fa’il (subyek) berupa tasniyah/jamak, fi’il wajib menempati bentuk mufrad.

3. Khabar Mubtada diringkas lafadz illa/innama

Ketika mubtada memiliki khabar yang diringkas menggunakan lafadz illa/innamaإِلَّا/إِنَّمَا” maka wajib menepati hukum asal. Maksud diringkas di sini adalah dibatasi atau dipersempit maknanya. Seperti kalimat “إِنَّمَا زَيْدٌ قَائِمٌ” (sesungguhnya Zaid berdiri). Lafadz “زَيْدٌ” berkedudukan menjadi mubtada yang dibatasi dengan pekerjaan berdiri “القِيَامُ”. Seperti halnya kalimat “مَا زَيْدٌ إِلَّا قَائِمٌ” (tidaklah Zaid kecuali berdiri). Oleh sebab itu, tidak boleh disusun dengan pola mubtada muakhor dan khabar muqaddam, karena nantinya akan memunculkan makna yang berbeda.

Apabila ada mubtada muakhor (diakhirkan), dan khabar-nya di mahshur (diringkas) dengan lafadz “إِلَّا/إِنَّمَا”, maka hukumnya syadz (keluar dari kaidah). Seperti syair Arab berikut ini :

فَيَا رَبِّيْ هَلْ إِلَّا بِكَ النَّصْرُ يُرْتَجَى | عَلَيْهِمْ وَهَلْ إِلَّا عَلَيْكَ المُعَوَّلُ

“Ya Allah, hanya kepadamu Aku mengharapkan pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuhku, karena semua ketentuan hanya Engkaulah yang menentukan”.

Pada syair tersebut lafadz “إِلَّا عَلَيْكَ” menduduki kedudukan khabar muqaddam dan lafadz “المُعَوَّلُ” sebagai mubtada muakhor, susunan aslinya adalah “إِلَّا عَلَيْكَ هَلْ المُعَوَّلُ”, dan ini syadz hukumnya.

Jika tidak melanggar kaidah ini apakah boleh mendahulukan khabar atas mubtada ? Tentu saja boleh, asal tidak mudharat.

4. Mubtada di awali oleh lam ibtida’

Ketika mubtada di awali dengan lam ibtida’, maka tidak boleh mengakhirkannya. Karena lam ibtida’ adalah huruf yang wajib berada di awal kalimat, yang berfungsi sebagai taukid (pengukuhan/penegasan).

Misalkan kalimat “لَزَيْدٌ جَالِسٌ” (sungguh Zaid itu duduk), tidak boleh mengakhirkan mubtada mendahulukan khabar menjadi “جَالِسٌ لَزَيْدٌ”. Karena hal ini akan memicu kontradiksi atau pertentangan antara dua hal, sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya.

Terkadang ada juga mubtada muakhor dan khabar muqaddam, padahal mubtada-nya di awali lam ibtida’. Contohnya syair berikut :

خَالِيْ لَأَنْتَ وَمَنْ جَرِيْرٌ خَالُهُ | يَنَلِ العَلآءَ وَيُكْرِمِ الأَخْوَالَا

“Jarir, engkau adalah pamanku, dan semua keponakanmu yang mau menghargai dirimu harga dirinya akan ikut terangkat berkat kewibawaanmu”.

Lafadz “لَأَنْتَ” berkedudukan menjadi mubtada dan “خَالِيْ” adalah contoh khabar muqaddam. Akan tetapi, hal ini terbilang syadz.

Dengan begitu, apabila mubtada sepi dari lam ibtida’لام الإبتداء”, maka boleh mendahulukan khabar atas mubtada.

5. Mubtada berupa lafadz yang wajib berada di awal

Mubtada khabar wajib menempati hukum asal apabila mubtada berupa lafadz yang wajib berada di awal kalimat, yaitu isim istifham, isim syarat, ma ta’ajjub, dan lafadz yang mudhaf kepada lafadz yang wajib berada di permulaan kalimat.

Contohnya “مَن لِيْ مُنْجِدًا” (siapa yang membantuku?), kedudukan lafadz “مَن” adalah mubtada isim istifham, lafadz “لِيْ” merupakan jar majrur yang memiliki ta’alluq sebagai khabar yang dibuang, dan “مُنْجِدًا” menjadi tarkib chal, jika ditakdirkan atau ditampakkan menjadi “مَنْ كَائِنٌ لِيْ مُنْجِدًا”. Karena di sini mubtada berupa kata yang wajib ditempatkan di awal kalimat, maka tidak boleh disusun memakai pola mubtada muakhor khabar muqaddam, menjadi “مُنْجِدًا لِيْ مَن”.

Demikian itu adalah penjelasan mubtada khabar yang wajib menempati hukum asal, yaitu mubtada berada di awal kalimat dan khabar terjatuh setelah mubtada. Berangkat dari sini penulis menyimpulkan, bahwa ciri-ciri atau musawwig (hal-hal yang memperbolehkan) mengakhirkan mubtada (muakhor) mendahulukan khabar (muqaddam) adalah :

  1. Mubtada khabar tidak berupa isim nakirah atau ma’rifat keduanya. Kecuali jika memang ada dalil yang menunjukkan mana mubtada dan mana lafadz yang menjadi khabar.
  2. Khabar mubtada berupa kalimah fi’il dan merofa’kan dhamir mustatir (wajib disimpan) yang merujuk kepada mubtada itu sendiri.
  3. Mubtada memiliki khabar yang maknanya dibatasi atau dipersempit menggunakan lafadz illa/innamaإِلَّا/إِنَّمَا”.
  4. Mubtada tidak terjatuh setelah lam ibtida’لَ”.
  5. Mubtada tidak berupa isim istifham, isim syarat, ma ta’jjub, atau isim yang mudhaf kepada lafadz yang wajib berada di awal kalimat.

Selain itu, ada penjelasan-penjelasan tambahan yang mana hukumnya adalah wajib khabar muqaddam (didahulukan) dan mengakhirkan mubtada. Namun, tidak kami rangkum di sini, karena penjelasannya akan semakin panjang dan membutuhkan lembaran tersendiri untuk membahasnya.