Skip to main content

Nahwu Shorof: Pengertian, Materi Dasar, Tujuan dan Manfaatnya

Daftar Isi [ Tampil ]
Nahwu Shorof

Nahwu shorof adalah ilmu yang membicarakan mengenai kaidah-kaidah tata bahasa Arab yang sangat penting bahkan wajib untuk dipelajari, terutama bagi orang yang ingin mendalami Al-Qur'an dan hadits. Melihat realita zaman sekarang, penulis tertarik untuk membahas ilmu nahwu dan shorof yang kini jarang dipahami kebanyakan orang dan lebih menitik beratkan pada bidang ilmu yang bersifat umum.

Pengertian Nahwu dalam Bahasa Arab

Arti nahwu secara bahasa adalah tata bahasa Arab, sintaksis, atau grammar. Sedangkan menurut istilah, pengertian nahwu adalah sebagai berikut ini.

النَّحْوُ قَوَاعِدُ يُعْرَفُ بِهَا صِيَغُ الكَلِمَاتِ العَرَبِيَّةِ وَأَحْوَلُهَا حِيْنَ إِفْرَادِهَا وَحِيْنَ تَرْكِيْبِهَا

Artinya: "Nahwu adalah sekumpulan kaidah yang dengannya diketahui bentuk kosa kata bahasa Arab dan keadaannya saat berdiri sendiri (mufrad) dan pada saat menjadi susunan kalimat (murakkab).

Selain pengertian nahwu yang kami sampaikan di atas, ada juga sebagian ulama yang mengartikan bahwa ilmu nahwu adalah ilmu yang memiliki bahasan pokok meliputi kalimah, mu'rab, mabni dan lain sebagainya. Maka dari itu, perlu adanya penjelasan lebih lanjut secara singkat mengenai istilah-istilah dalam ilmu nahwu tersebut agar mudah dipahami.

Materi Nahwu Dasar

Pelajaran mengenai kalimah, i'rab, dan mabni ini sangat dasar/basic sekali. Pemula yang sedang mempelajari kaidah ilmu nahwu pastinya akan dituntut pendidik untuk memahami materi nahwu dasar ini terlebih dulu sebelum lanjut pada materi yang lebih rumit lagi. Apa itu kalimah?

الكَلِمَةُ هِيَ لَفْظَةٌ دَالَّةٌ عَلَى مَعْنًى مُفْرَدٍ بِالوَضْعِ وَأَقْسَمُهَا ثَلَاثَةٌ: إِسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ

Artinya: "Kalimah adalah lafadz yang menunjukkan atas makna tertentu, berdiri sendiri (mufrad) dengan penetapan, yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu isim, fi'il dan huruf."

Dalam bahasa sehari-hari, kita mengartikan istilah kalimah dalam ilmu nahwu sebagai "kata" dalam pengertian bahasa Indonesia, yaitu unsur bahasa yang dituliskan atau diucapkan. Dalam bahasa kita, istilah kata dapat merujuk pada nomina (kata benda), verba (kata kerja), konjungsi (kata sambung), dan sebagainya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan istilah "kalimah" dalam ilmu nahwu, yang merujuk pada 3 macam kalimah, yaitu isim (kata benda), fi'il (kata kerja), dan huruf (kata depan/sambung). Apa itu isim, fi'il dan huruf?

Arti Isim, Fi'il dan Huruf

Kalimah isim adalah kata benda yang menunjuk pada makna tertentu dan tidak terikat dengan waktu. Contohnya kata "مَكْتَبٌ" (meja), ketika kita mengucapkan kata tersebut, tidak muncul pertanyaan "sudah/akan/sedang meja" kan ? Itulah mengapa kalimah isim didefinisikan sebagai kata benda dalam kaidah nahwu yang tidak memiliki keterkaitan dengan waktu/zaman. Untuk mengidentifikasi kalimah isim dalam bahasa Arab cukup mudah kok, yaitu ditandai dengan adanya tambahan huruf alif+lam (Al) seperti "القَلَمُ" (pena), tanwin seperti "فَرَسٌ" (kuda), i'rab jar/khofadh seperti "فِى المَسْجِدِ" (di masjid), menjadi munada seperti "يَا خَالِدُ" (wahai Khalid), dan menjadi musnad seperti kalimat "زَيْدٌ جَاءَ" (Zaid datang).

Jika dalam ilmu nahwu kalimah isim adalah kata benda yang tidak memiliki zaman, maka kalimah fi'il adalah kata kerja yang mempunyai keterkaitan dengan zaman. Contohnya seperti kata kerja "ذَهَبَ" (telah pergi), "يَذْهَبُ" (sedang/akan pergi), "إِذْهَبْ" (pergilah). Tanda yang dapat dijadikan patokan dalam menetapkan kalimah fi'il yaitu adanya tambahan ta' fa'il seperti "نَصَرْتَ" (kamu menolong), ta' ta'nits "نَصَرَتْ" (dia (pr) menolong), ya' mutakallim "أُنْصُرِيْ" (tolonglah (pr)), dan nun taukid  "أُنْصُرَنْ" (sungguh tolonglah).

Adapun yang dimaksud kalimah huruf adalah kata yang tidak termasuk isim (kata benda) dan fi'il (kata kerja). Seperti huruf jar "فِى، عَلَى", huruf nawashib "أَنْ، لَنْ", huruf jawazim "لَمْ، لَمَّا", dan sebagainya.

Arti Kata Mu'rab dan Mabni

Materi nahwu dasar yang tidak kalah pentingnya yaitu mu'rab dan mabni. Kedua istilah ini digunakan untuk menggambarkan suatu kata dalam bahasa Arab berdasarkan berubah atau tidaknya keadaan akhir suatu kalimah. Ketika ada kalimah/kata yang mengalami perubahan harokat akhirnya, maka disebut dengan istilah mu'rab, dan kalimah yang tidak mengalami perubahan disebut sebagai mabni. Pemula sangat dituntut terlebih dahulu mengetahui arti mu'rab dan mabni. Karena bagaimana bisa kita membaca harokat akhir suatu kalimah dalam teks berbahasa Arab dengan baik dan benar tanpa materi nahwu dasar ini?.

Dari ketiga macam kalimah dalam ilmu (isim, fi'il, huruf) yang telah kami sebutkan sebelumnya, kalimah isim menjadi kata yang paling banyak dihukumi mu'rab dibandingkan kalimah fi'il. Sedangkan untuk kalimah huruf, semuanya dihukumi mabni. Jadi, tidak ada yang namanya kalimah huruf itu mu'rab.

Contoh isim mu'rab seperti "هُوَ طَالِبٌ" (dia pelajar), kata "طَالِبٌ" ini akan kita dapati perubahan harokatnya ketika dalam keadaan lain seperti "نَصَرْتُ طَالِبًا" (aku menolong pelajar) atau "مَرَرْتُ بِطَالِبٍ" (aku melewati seorang pelajar). Hal ini tentu berbeda dengan isim mabni atau kata benda yang tidak berubah harokat akhirnya. Contohnya "هَذَا طَالِبٌ" (ini pelajar), "رَأَيْتُ هَذَا" (aku melihat ini), "نَظَرْتُ إِلَى هَذَا" (aku mengamati ini). Perhatikan kata "هَذَا" dalam kalimat barusan, baik menempati posisi apa pun, ia tetap dan tidak mengalami perubahan sama sekali.

Adapun fi'il mu'rab adalah setiap fi'il mudhari' yang tidak bertemu nun taukid dan nun jamak inats, contohnya seperti "يَضْرِبُ". Selain ini maka hukumnya mabni, termasuk fi'il madhi, dan fi'il amr, seperti "يَضْرِبَنَّ، ضَرَبَ، إِضْرِبْ".

Pengertian Ilmu Shorof

Shorof secara bahasa (etimologi) berarti perubahan atau pergantian. Menurut istilah, pengertian shorof adalah ilmu yang membicarakan perubahan suatu kata kepada bentuk lainnya untuk mencapai arti yang dikehendaki, yang hanya bisa terwujud dengan adanya perubahan tersebut. Ilmu shorof juga banyak dikenal dengan istilah ilmu tashrif.

Misal kita mengubah suatu bentuk rumah, kebaya, dan sebagainya, maka bisa kita katakan itu adalah shorof dalam pengertian shorof secara bahasa. Sedangkan secara istilahnya, adalah mengubah dari bentuk asal pokok pertama kepada bentuk lain. Ada juga yang mengartikan ilmu shorof secara singkat, yaitu merubah bentuk fi'il madhi kepada fi'il mudhari', mashdar, isim fa'il, isim maf'ul, fi'il nahi, isim zaman/makan, dan isim alat.

Bukan asal-asalan merubah sesuatu dari bentuk pokoknya, setiap perubahan yang dilakukan pasti memiliki sebuah tujuan bukan? Begitu juga dengan perubahan dalam ilmu shorof, yang memiliki faedah untuk mendapatkan makna yang berbeda sesuai kebutuhannya. Coba perhatikan contoh shorof berikut :

  • خَرَجَ (fi'il madhi): telah keluar.
  • يَخْرُجُ (fi'il mudhari'): sedang/akan keluar.
  • خُرُوْجًا (mashdar): keluar
  • خَارِجٌ (isim fa'il): orang yang keluar.
  • مَخْرُوْجٌ (isim maf'ul) dikeluarkan.
  • أُخْرُجْ (fi'il amr): keluarlah!.
  • لَا تَخْرُجْ (fi'il nahi): kamu jangan keluar.
  • مَخْرَجٌ (isim zaman/makan): waktu/tempat keluar.
  • مِخْرَجٌ (isim alat): alat untuk mengeluarkan.

Sebagai tambahan, sebenarnya fi'il nahi itu adalah fi'il mudhari', hanya saja ia kemasukan oleh huruf lam nahi sehingga disebut dengan fi'il nahi. Jadi, jangan protes jika kemudian menemukan orang yang menyebutkan itu fi'il mudhari'.

Materi Shorof Dasar

Setelah mengetahui apa itu shorof atau tashrif, biasanya pemula akan diperkenalkan istilah wazan mauzun, dan tashrif terlebih dahulu. Ketiga istilah tersebut terbilang materi shorof yang sangat basic sekali, tetapi penting dipahami pemula. Apa arti dari wazan, mauzun, dan tashrif itu?

Arti Wazan, Mauzun dan Tashrif

Secara bahasa wazan dapat berarti timbangan, acuan, atau rumus. Menurut istilah ilmu shorof, pengertian wazan adalah bentuk baku di mana setiap kalimah nantinya akan masuk pada salah satu bentuk wazan yang ada. Lebih dalam lagi mengenai materi shorof dasar ini, wazan ilmu shorof adalah kata yang memakai acuan berupa fa' fi'il, ain fi'il, dan lam fi'il (فعل). Jika yang diartikan wazan adalah rumusnya, maka mauzun adalah setiap kalimah yang disandingkan dan dibandingkan dengan wazan. Misalnya seperti kata "كَتَبَ" yang mengikuti wazan "فَعَلَ", kata "يَكْتُبُ" mengikuti wazan "يَفْعُلُ", kata "أُكْتُبْ" mengikuti wazan "أُفْعُلْ", dan seterusnya.

Sedangkan tashrif, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, ia kata lain dari ilmu shorof. Kenapa bisa begitu? karena inti dari mempelajari ilmu shorof ya mempelajari tashrif itu sendiri. Pada umumnya, perubahan suatu kalimah ke beberapa bentuk lainnya adalah sebagai berikut :

  • Fi'il madhi (kata kerja lampau)
  • Fi'il mudhari' (kata kerja sekarang/akan datang)
  • Mashdar (kata benda, kata dasar)
  • Isim fa'il (pelaku/subyek)
  • Isim maf'ul (korban/obyek)
  • Fi'il amr (kata perintah)
  • Fi'il nahi (kata larangan)
  • Isim zaman (kata waktu)
  • Isim makan (kata tempat)
  • Isim alat (nama alat).

Tujuan dan Manfaat Belajar Nahwu Shorof

Ilmu nahwu dan shorof sangat penting sekali untuk kita pelajari, karena untuk dapat memahami literatur-literatur bahasa Arab terutama Al-Qur'an dan hadits tidak bisa terlepas dari yang namanya nahwu shorof. Bahkan banyak yang memberi interpretasi, begitu pentingnya mempelajari ilmu nahwu dan shorof, sampai-sampai ada sebagian ulama yang menuangkan argumentasinya berbentuk sya'ir Arab berikut ini.

مَنْ طَلَبَ العُلُومَ بِغَيْرِ نَحْوٍ | كَعِنِّيْنٍ يُعَالِجُ فَرْجَ بِكْرٍ

"Barang siapa menuntut ilmu tanpa menggunakan atau berbekal ilmu nahwu, bagaikan orang impoten yang ingin memecahkan keperawanan."

Begitu pentingnya ilmu nahwu dan shorof, ada juga ulama yang mengkiaskan bahwa ilmu nahwu adalah bapaknya ilmu sedangkan ilmu shorof adalah ibunya. Artinya, ilmu shorof itu bagaikan ibu yang kemudian melahirkan anak, dan setiap anak pasti membutuhkan seorang ibu. Kata anak di sini adalah ilmu-ilmu yang lain, sehingga ia membutuhkan shorof sebagaimana anak membutuhkan ibunya. Dan seorang bapaklah yang menunjang perkembangan sang anak, sehingga dapat berkembang dan menjadi pribadi yang baik, sebagaimana ilmu nahwu yang membuat baik kata dan kalimat bahasa Arab.

Adapun tujuan dan manfaat belajar nahwu dan shorof ini di antaranya adalah :

  • Untuk memahami teks-teks berbahasa Arab.
  • Untuk memahami isi kandungan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan hadits.
  • Membantu dalam berinteraksi memakai bahasa Arab dan menangkap makna dengan cepat.
  • Menajamkan perasaan, menghaluskan rasa kebahasaan.
  • Menjaga dan melindungi lisan dari kesalahan, kekeliruan dalam membentuk susunan berbahasa Arab.
  • Untuk mengetahui kesalahan ungkapan bahasa Arab.
  • Mampu mengetahui fungsi kata dalam kalimat berbahasa Arab.
  • Mampu memahami makna keseluruhan kalimat bahasa Arab secara cepat dan tepat.
  • Dapat menyusun kalimat dalam bahasa Arab dengan baik dan benar, dan lain sebagainya.