Skip to main content

Fi'il Amr: Contoh, Ciri, Tashrif, Tanda Mabni dan Penjelasannya dalam Bahasa Arab

Daftar Isi [ Tampil ]
Fiil Amr

Fi’il amr adalah kata kerja yang digunakan untuk memberikan perintah atau instruksi kepada mukhatthab (lawan bicara). Contoh fi’il amr seperti kata “إِجْلِسْ” (duduklah), “إِرْجِعْ” (pulanglah), “أُدْخُلْ” (masuklah), dan sebagainya. Dalam kepenulisan bahasa Indonesia, kata kerja perintah biasanya diakhiri dengan partikel; -lah, intonasi keras, dan tanda seru (!). Akan tetapi, ciri-ciri tersebut tentunya berbeda dengan fi’il amr dalam tata bahasa Arab. Apa itu fi’il amr? Bagaimana penjelasannya dalam bahasa Arab? Selengkapnya kami rangkum dalam kajian Nahwu Shorof Online berikut.

Pengertian Fi'il Amr

Dalam tata bahasa Arab, kalimah fi’il adalah suatu kata yang menyatakan atas perkerjaan atau perbuatan (verba). Sedangkan al-amr (الأمر) merupakan bentuk mashdar dari fi’il amara-ya’muru (أَمَرَ-يَأْمُرُ) yang berarti perintah, suruhan, atau titah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 67, Allah Swt telah berfirman:

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً {البقرة: ٦٧}

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” (QS. Al-Baqarah 2:67)

Berangkat dari penjelasan tersebut, pengertian fi’il amr adalah setiap fi’il dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti kata perintah atau permohonan dan terikat dengan zaman mustaqbal (akan datang).

وَهُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى وَزَمَنٍ مُسْتَقْبَلٍ

“Fi’il amar adalah kata yang menunjukkan atas makna (perintah/permohonan) dan memuat zaman yang akan datang.”

Contoh penggunaan fi’il amr bisa dilihat dalam ayat Al-Qur’an berikut:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ {آل عمران: ٣٢}

Artinya: “Katakanlah: taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Ali Imran ayat 32)

Pada ayat tersebut, kata “قُلْ” adalah bentuk fi’il amr dari madhi qaala-yaquulu (قَالَ-يَقُوْلُ). Sedangkan lafadz “أَطِيعُوا” merupakan contoh fi’il amr dari tsulasi mazid biharfin athaa’a-yuthii’u (أَطَاعَ-يُطِيْعُ). Keduanya sama-sama berstatus mabni sesuai dengan i’rab fi’il mudhari ketika menempati keadaan jazm.

Ciri-ciri Fi'il Amr

Fi’il amr dalam bahasa Arab dapat dibedakan dengan adanya tambahan nun taukid baik khafifah (ringan) maupun tsaqilah (berat) yang melekat di akhir kalimahnya. Imam ibnu Malik telah menjelaskan mengenai ciri-ciri fi’il amr dalam bait syair Alfiyah:

وَسِمْ | بِالنُّوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ...

“Bedakanlah fi’il amr (kata perintah) dengan nun taukid jika perintahnya telah dipahami.”

Dari penjelasan Imam ibnu Malik dalam bait Alfiyah tersebut, kurang lebihnya terdapat 2 poin penting yang menjadi ciri dari fi’il amr, yaitu “بِالنُّوْنِ” (dengan nun) dan “إِنْ أَمْرٌ فُهِمَ” (jika perintahnya bisa dimengerti). Maksudnya, fi’il tersebut menunjukkan makna perintah secara mandiri tanpa adanya qayyid lain. Lebih lanjut lagi mengenai ciri-ciri tersebut bisa disimak sebagaimana berikut.

1. Menerima Nun Taukid

Ciri-ciri fi’il amr yang pertama adalah menerima masuknya nun taukid baik itu khafifah maupun tsaqilah. Nun taukid khafifah adalah nun yang berfaedah ta’kid (penguat/penegas) tanpa adanya tasydid sehingga ringan ketika diucapkan. Sedangkan nun taukid tsaqilah merupakan nun yang disertai tasydid sehingga berat dalam pengucapannya.

Misalkan fi’il “أُشْكُرْ” (bersyukurlah), ketika dipasangi nun taukid di akhir kalimahnya menjadi “أُشْكُرَنْ/أُشْكُرَنَّ”, maka mutakallim (pembicara) menegaskan perintahnya kepada mukhatthab (lawan bicara) untuk benar-benar bersyukur. Contoh lain fi’il amr dengan nun taukid seperti kalimat berikut:

إِذْهَبَنَّ لِلتَّسْلِيَةِ مَا دُمْتَ فَارِغًا

“Pergilah refreshing, selagi kamu sedang tidak sibuk.”

Lafadz “إِذْهَبَنَّ” dalam kalimat barusan merupakan contoh fi’il amr dengan nun taukid tsaqilah dan berstatus mabni fathah. Adanya nun tersebut berfungsi sebagai partikel penegas kepada mukhatthab supaya benar-benar pergi untuk berefreshing.

2. Menunjukkan Makna Perintah Secara Mandiri

Ciri fi’il amr yang kedua yaitu menunjukkan arti kata perintah secara mandiri. Artinya, fi’il tersebut dapat menyatakan kepada makna perintah tanpa disertai atau dipengaruhi oleh qayyid lainnya. Contohnya seperti “خُذْ” (ambillah), “إِفْتَحْ” (bukalah), “تَعَلَّمْ” (pelajarilah), “أُكْتُبْ” (tulislah), dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, kalimah fi’il yang menunjukkan makna perintah sebab adanya pengaruh dari kalimah lain tidak bisa dikatakan sebagai fi’il amr. Contohnya adalah ayat Al-Qur’an berikut:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

Artinya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq ayat 7)

Lafadz “لِيُنْفِقْ” dan “فَلْيُنْفِقْ” dalam ayat Al-Qur’an di atas tidak dapat disebut sebagai fi’il amr. Karena timbulnya arti kata perintah pada fi’il ini sebab adanya lam amr, sekalipun ia layak apabila bertemu dengan nun taukid (khafifah dan tsaqilah).

Ada juga kalimah dalam bahasa Arab yang memiliki makna perintah secara mandiri, akan tetapi tidak termasuk dalam kategori fi’il amr. Seperti “صَهْ” (diamlah), “حَيَّهَلْ” (terimalah), dan “آمِيْنُ” (kabulkanlah). Meskipun bermakna perintah atau permohonan, namun lafadz-lafadz tersebut merupakan kelompok isim fi’il amr, karena tidak menerima tambahan nun taukid di akhir kalimahnya.

Tanda Mabni Fi'il Amar

Fi’il amr adalah kalimah fi’il yang berstatus mabni secara mutlak, dan ini merupakan pendapat yang shahih. Karena menurut pendapat para ulama ahli nahwu Kuffah fi’il amar dihukumi memiliki tanda i’rab (mu’rab).

Fi’il amar memiliki 4 tanda mabni, yaitu:

  1. Mabni sukun
  2. Mabni fathah
  3. Mabni hadzfu nun (terbuangnya huruf nun)
  4. Mabni hadzfu harfil illah (terbuangnya huruf illat)

1. Fi’il Amr Mabni Sukun

Fi’il amar mabni sukun apabila berupa fi’il shahih akhir (tidak diakhiri alif, wawu, atau ya’), tidak pula disambung dengan alif tasniyah, wawu jamak, ya’ mukhathabah dan nun taukid baik khafifah maupun tsaqilah. Contohnya seperti “إِجْلِسْ” (duduklah [lk 1]), “قُمْنَ” (berdirilah [pr >2]), “أُدْخُلْ” (masuklah [lk 1]), “أُنْصُرْنَ” (menolonglah [pr >2]), dan sebagainya.

Contoh fi’il amar mabni sukun dalam kalimat:

  • وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ (Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.) (QS. Al-Ahzab ayat 33)
  • أُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ (Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur)
  • كُنْ لَهُ مُعِيْنًا (Jadilah penolong baginya)

2. Fi’il Amr Mabni Fathah

Fi’il amr mabni fathah apabila bertemu dengan nun taukid khafifah atau tsaqilah. Contohnya seperti “أُشْكُرَنَّ” (bersyukurlah !), “إِعْلَمَنَّ” (ketahuilah !), “إِشْرَبَنْ” (minumlah !), dan lain-lain.

Contoh fi’il amar mabni fathah dalam kalimat:

  • إِذْهَبَنَّ إِلَى المَسْجِدِ مَعَ العَمْرِ (Pergilah ke masjid bersama Amr !)
  • إِسْمَعَنْ نَصِيْحَتِيْ (Dengarlah nasihatku !)
  • إِجْتَنِبَنَّ سُوْءَ الظَّنِّ (Jauhilah prasangka buruk !)

3. Fi’il Amr Mabni Hadzfu Nun

Fi’il amar mabni hadzfu nun apabila bertemu dengan alif tasniyah, wawu jamak, dan ya’ muannats mukhathabah. Maka ketika hendak memberi perintah kepada dua orang, lebih dari dua, atau kepada seseorang berjenis perempuan, ucapkanlah “قُوْمَا” (lk/pr), “قُوْمُوا” (lk), “قُوْمِيْ” (pr).

Contoh fi’il amar mabni hadzfu nun dalam kalimat:

  • يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ (Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.) (QS. Ali Imran ayat 43)
  • أُمُّكُمَا تَنْتَظِرُكُمَا فَارْجِعَا إِلَى البَيْتِ (Ibu menunggu, pulanglah kalian berdua ke rumah)
  • كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ (Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah)

4. Fi’il Amr Mabni Hadzfu Harfi Illah

Fi’il amar mabni dengan membuang huruf akhirnya ketika berupa salah satu dari huruf illah yang tiga, yaitu wawu, alif, dan ya’. Contohnya kita hendak memerintahkan seseorang untuk berzakat, maka katakanlah “زَكِّ” (zakatkanlah). Asal polanya yaitu “زَكِّي” dari fi’il “زَكَّى-يُزَكِّيْ”, huruf ya’ kemudian dibuang (sebab mu’tal) dengan menetapkan harokat kasroh.

Contoh fi’il amr mabni hadzfu harfi illah dalam kalimat:

  • زَكِّ مَالَكَ (Zakatkanlah hartamu)
  • صَلِّ فِي المَسْجِدِ (Shalatlah di masjid)
  • أُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ (Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu.) (QS. An-Nahl ayat 125)

Semua tanda mabni fi’il amar tersebut diambil berdasarkan keadaan akhir fi’il mudhari ketika menempati tempat jazm (عَلَى مَا يُجْزَمُ بِهِ مُضَارِعُهُ). Hal ini berawal dari kaidah nahwu yang menjelaskan mengenai tata cara membuat fi’il amar dari bentuk mudhari’nya, seperti:

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُصَوِّغَ فِعْلَ أَمْرٍ فَأْتِ بِفِعْلٍ مُضَارِعٍ مَجْزُوْمٍ، ثُمَّ أَنْزِعْ مِنْهُ حَرْفَ المُضَارَعَةِ وَالحَرْفَ الجَازِمَ

Artinya: “Ketika kamu hendak membentuk fi’il amr maka datangilah fi’il mudhari’nya yang dibaca jazm, kemudian lepaskanlah huruf mudhara’ah dan huruf yang menjazemkan darinya.”

Misalkan kita ingin membuat fi’il amr dari “نَامَ” (tidur), fi’il mudhari’nya ketika menduduki tempat jazm yaitu “لَمْ يَنَمْ” (belum/tidak tidur), kemudian huruf lam (jazim) dan ya’ (mudhara’ah) dibuang, maka jadilah “نَمْ” (tidurlah).

Kecuali jika terdapat huruf mati setelah huruf mudhara’ah, maka harus mendatangkan hamzah washal, adalah hamzah yang tetap tetap bila berada di awal dan gugur ketika berada di tengah. Sehingga memungkinkan untuk diucapkan, karena suatu kata yang diawali huruf mati tidak mungkin dapat diucapkan tanpa adanya hamzah washal.

Contohnya kita berkeinginan membuat fi’il amr dari kata “عَمِلَ” (berbuat), fi’il mudhari’nya ketika jazm adalah “لَمْ يَعْمَلْ”, huruf lam jazim dan ya’ mudhara’ah dibuang, sehingga tampak adanya huruf mati di awal kalimah, maka wajib mendatangkan hamzah washal menjadi “إِعْمَلْ” (berbuatlah).

Contoh perubahan fi’il amr dari mudhari’nya:

  • لَمْ تَضْرِبْ-إِضْرِبْ (untuk laki-laki satu)
  • لَمْ تَضْرِبَا-إِضْرِبَا (untuk laki-laki/perempuan dua)
  • لَمْ تَضْرِبُوا-إِضْرِبُوا (untuk laki-laki lebih dari dua)
  • لَمْ تَضْرِبِيْ-إِضْرِبِيْ (untuk perempuan satu)
  • لَمْ تَضْرِبْنَ-إِضْرِبْنَ (untuk perempuan lebih dari dua)

Catatan: Hamzah washal nya fi’il amr tsulatsi mujarrad yang mengikuti wazan “فَعَلَ-يَفْعُلُ” maka harus dibaca dhammah, selainnya dibaca kasrah.

Oleh karena itulah para ulama ahli nahwu merumuskan mabninya fi’il amr dengan memakai kaidah:

فِعْلُ الأَمْرِ يُبْنَى عَلَى مَا يُجْزَمُ بِهِ مُضَارِعُهُ

Artinya: “Fi’il amr dimabnikan atas harokat fi’il mudhari’nya yang dibaca jazm.”

Tashrif Fi'il Amr

Tashrif fi’il amr sama seperti tashrif pada fi’il madhi dan fi’il mudhari’ yang mengalami perubahan berdasarkan dhamir. Akan tetapi, tashrif fi’il amr hanya berjumlah enam untuk dhamir mukhatthab (kata ganti orang kedua) mulai dari “أَنْتَ” (kamu [lk]) sampai dengan “أَنْتُنَّ” (kalian [pr]).

Wazan tashrif lughawi fi’il amr bisa dilihat dalam tabel berikut:

Tashrif Fi’il Amr
Tsulatsi Mujarrad Mazid Dhamir
أُفْعُلْ إِفْعِلْ إِفْعَلْ إِسْتَفْعِلْ أَنْتَ
أُفْعُلَا إِفْعِلَا إِفْعَلَا إِسْتَفْعِلَا أَنْتُمَا
أُفْعُلُوا إِفْعِلُوا إِفْعَلُوا إِسْتَفْعِلُوا أَنْتُمْ
أُفْعُلِيْ إِفْعِلِيْ إِفْعَلِيْ إِسْتَفْعِلِيْ أَنْتِ
أُفْعُلَا إِفْعِلَا إِفْعَلَا إِسْتَفْعِلَا أَنْتُمَا
أُفْعُلْنَ إِفْعِلْنَ إِفْعَلْنَ إِسْتَفْعِلْنَ أَنْتُنَّ

Adapun contoh tashrif lughawi fi’il amr ditunjukkan oleh tabel berikut:

Contoh Tashrif Fi’il Amr
Tsulatsi Mujarrad Mazid Dhamir
أُكْتُبْ إِحْسِبْ إِفْتَحْ إِسْتَغْفِرْ أَنْتَ
أُكْتُبَا إِحْسِبَا إِفْتَحَا إِسْتَغْفِرَا أَنْتُمَا
أُكْتُبُوا إِحْسِبُوا إِفْتَحُوا إِسْتَغْفِرُوا أَنْتُمْ
أُكْتُبِيْ إِحْسِبِيْ إِفْتِحِيْ إِسْتَغْفِرِيْ أَنْتِ
أُكْتُبَا إِحْسِبَا إِفْتَحَا إِسْتَغْفِرَا أَنْتُمَا
أُكْتُبْنَ إِحْسِبْنَ إِفْتَحْنَ إِسْتَغْفِرْنَ أَنْتُنَّ

Fi’il amr merupakan kata yang difungsikan untuk memberikan perintah, oleh karena itu ia hanya berlaku bagi dhamir mukhatthab. Misalkan ingin menyatakan perintah kepada orang berjumlah lebih dari dua berjenis perempuan, maka penggunaan fi’il amr yang tepat adalah “أُكْتُبْنَ” (tulislah). Begitu juga ketika hendak membuat kata perintah yang lain, maka perhatikanlah dhamir-nya.

Contoh Fi'il Amr

Supaya lebih memahami lagi apa yang telah dijelaskan sebelumnya. Perhatikan contoh penggunaan fi’il amr dalam kalimat sehari-hari dan ayat Al-Qur’an berikut.

Contoh fi’il amr dalam kalimat:

  • شَغِّلِ المِصْبَاحَ (Hidupkan lampunya !)
  • تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا (Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar)
  • أُدْخُلُوا إِلَى القَاعَةِ (Masuklah kalian ke dalam ruangan)
  • قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا (Katakanlah yang benar, meskipun itu pahit)
  • كُنْ عَبْدًا شَاكِرًا لَا يَشْتَكِيْ أَبَدًا (Jadilah hamba yang bersyukur, yang tidak pernah mengeluh)

Contoh fi’il amr dalam ayat-ayat Al-Qur’an:

  • رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ (Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau.) (QS. Al-Baqarah ayat 128)
  • فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ (Maka jangan kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.) (QS. Al-Baqarah ayat 150)
  • فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ (Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka belaka.) (QS. Al-Qashash ayat 50)
  • وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ (Dan jagalah sumpahmu.) (QS. Al-Maidah ayat 89)
  • إِرْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ (Ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu.) (QS. Al-Hajj ayat 77)

Sekarang coba buatlah kalimat menggunakan fi’il amar dengan contoh-contoh yang kami berikan berikut.

50 Contoh Fi’il Amar
No Fi’il Amr Arti
1 أُنْصُرْ Tolonglah!
2 مُدَّ Bentangkanlah!
3 صُنْ Jagalah!
4 أُغْزُ Sergaplah!
5 أُوْمُلْ Berharaplah!
6 إِضْرِبْ Pukullah!
7 فِرَّ Larilah!
8 عِدْ Berjanjilah!
9 إِشْرَبْ Minumlah!
10 سِرْ Berjalanlah!
11 أُصْدُمْ Benturkanlah!
12 إِفْتَحْ Bukalah!
13 ضَعْ Letakkanlah!
14 إِعْلَمْ Ketahuilah!
15 إِيْجَلْ Takutlah!
16 خَفْ Khawatirlah!
17 إِرْضَ Ridhalah!
18 أُحْسُنْ Baguskanlah!
19 طُلْ Panjangkanlah!
20 إِجْلِسْ Duduklah!
21 قُمْ Berdirilah!
22 أُكْتُبْ Tulislah!
23 إِحْسِبْ Hitunglah!
24 دَحْرِجْ Gulirkanlah!
25 تَرْجِمْ Terjemahkanlah!
26 بِسْمِلْ Ucaplah “bismillah” !
27 سَبْحِلْ Ucaplah “subhanallah” !
28 حَمْدِلْ Ucaplah “alhamdulillah” !
29 هَيْلِلْ Ucaplah “lailah illallah” !
30 جَلْبِبْ Berjilbablah!
31 أَبْطِلْ Batalkanlah!
32 جَهْوِرْ Bersuara keraslah !
33 أَخْمِدْ Padamkanlah!
34 فَرِّحْ Berbahagialah!
35 نَوِّرْ Terangilah!
36 أَكْرِمْ Muliakanlah!
37 أَعْطِ Memberilah!
38 تَبَاعَدْ Menjauhlah!
39 تَبَيَّنْ Jelaskanlah!
40 إِتَّصِلْ Kaitkanlah!
41 إِسْتَخْرِجْ Tarik keluarlah !
42 إِسْتَجِبْ Kabulkanlah!
43 إِقْعَنْسِسْ Mundurlah!
44 أَتِمَّ Sempurnakanlah!
45 إِطْمَئِنَّ Tenteramkanlah!
46 إِحْتَجِزْ Mencegahlah!
47 تَكَلَّمْ Bercakaplah!
48 تَبَسَّمْ Tersenyumlah!
49 عَقِّمْ Sterilkanlah!
50 إِسْتَيْقِظْ Bersiap-sedialah!

Kesimpulan

Fi’il amr adalah kata yang menunjukkan arti perintah/permohonan kepada seseorang untuk melakukan apa yang kita kehendaki.

Dalam tata bahasa Arab, fi’il amr (kata perintah) memiliki dua ciri-ciri, yaitu:

  1. Menerima adanya nun taukid.
  2. Menunjukkan makna perintah secara mandiri.

Fi’il amr dihukumi mabni secara mutlak, yang mengikuti keadaan akhir fi’il mudhari ketika menduduki tempat jazm. Sehingga dapat dirinci bahwa tanda mabninya fi’il amr adalah:

  1. Mabni sukun, apabila shahih akhir dan tidak bertemu dengan dhamir apapun, tidak pula dengan nun taukid.
  2. Mabni fathah, apabila disambung dengan nun taukid.
  3. Mabni hadzfu nun, apabila bertemu alif tasniyah, wawu jamak, dan ya’ mukhathabah.
  4. Mabni hadzfu harfi illah, apabila berupa fi’il mu’tal akhir.

Sedangkan tashrif fi’il amr hanya berjumlah enam khusus untuk dhamir mukhatthab. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bentuk kata perintah dalam bahasa Arab hanya berlaku untuk kata ganti orang kedua mulai dari “أَنْتَ” hingga “أَنْتُنَّ”. Semoga mengedukasi dan menginspirasi.