Skip to main content

Fi'il Mudhari: Contoh, Pengertian, Tanda I'rab, Ciri beserta Tashrifnya

Daftar Isi [ Tampil ]
Fiil Mudhari

Fi’il mudhari adalah kata kerja yang menunjukkan terjadinya sesuatu pada waktu atau setelah berbicara. Contoh seperti “يَكْتُبُ” (sedang menulis), “يَجْلِسُ” (sedang duduk), yang ditandai dengan adanya huruf mudhara’ah di awal kalimahnya. Meski bermakna chal dan mustaqbal, terkadang fi’il mudhari dalam bahasa Arab juga digunakan untuk zaman madhi (masa lampau). Penjelasan lengkapnya kami rangkum sebagai berikut.

Pengertian Fi'il Mudhori

Fi’il mudhori merupakan pola kalimat dalam bahasa Arab yang terbentuk dari dua kata, yaitu “fi’il” dan “mudhori”. Dalam bahasa Indonesia, kalimah fi’il diartikan sebagai ungkapan kata kerja. Sedangkan kata mudhori berasal dari madhi “ضَارَعَ”, artinya yang menyerupai atau menyamai. Dikatakan mudhori karena memang ia serupa dengan isim fa’il dalam hal harokatnya.

Contohnya fi’il mudhari “يُكْرِمُ” (memuliakan) serupa dengan isim fa’il “مُكْرِمٌ”, yang dimana huruf pertama, kedua, ketiga dan keempat memiliki harokat yang sama. Contoh lain seperti kalimah “يَضْرِبُ-ضَارِبٌ” (memukul), “يُفَرِّحُ-مُفَرِّحٌ” (menggembirakan). Oleh karenanya, huruf yang berada di awal fi’il mudhori juga disebut dengan huruf mudhara’ah (persamaan).

Menurut istilah ulama ahli nahwu, pengertian fi’il mudhori adalah:

كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى وَزَمَنٍ يَحْتَمِلُ الحَالَ وَالإِسْتِقْبَالَ

Artinya: “Fi’il mudhori adalah kata yang menunjukkan atas makna dan zaman yang memuat masa sekarang dan akan datang”.

Dari pengertian fi’il mudhori menurut istilah ulama ahli nahwu tersebut kita tahu bahwa jenis fi’il ini digunakan dalam ungkapan-ungkapan kata kerja untuk masa kini dan akan datang. Para santri biasa memaknai dengan arti “sedang” atau “akan”.

Perhatikan contoh fi’il mudhori dalam kalimat berikut:

  • يَجْلِسُ عَلِيٌّ (Ali sedang duduk).
  • تَجِيْئُ الأُسْتَاذَانِ (Kedua Pak guru akan datang).

Untuk menentukan apakah fi’il mudhori bermakna chal (sedang) atau mustaqbal (akan) tinggal disesuaikan saja dengan kebutuhannya. Seperti ketika Zaid yang pada saat itu juga sedang duduk, maka yang pas adalah makna chal. Sedangkan pada contoh kedua ini menunjukkan bahwa kedua Pak guru sebentar lagi akan datang, sehingga makna yang pas adalah mustaqbal.

Ciri-ciri Fi'il Mudhari

Setiap kalimah fi’il dalam bahasa Arab memiliki ciri-ciri tertentu sebagai pembeda antara yang satu dengan lainnya. Adapun ciri-ciri fi’il mudhari adalah:

  1. Di awali oleh huruf mudhara’ah yang empat, yaitu hamzah, nun, ya’, dan ta’ (أنيت).
  2. Layak bila kemasukan amil nawashib dan amil jawazim.
  3. Di awali huruf sin “س” atau saufa “سوف” (akan).

Namun yang perlu dicatat, jika terdapat penggunaan fi’il dalam Al-Qur’an, Hadits, dan kitab bahasa Arab yang mengandung ciri-ciri di atas, maka sudah pasti fi’il mudhari. Akan tetapi, tidak semua fi’il mudhari datang dengan semua tanda-tanda tersebut.

Contoh penggunaan kalimat fi’il mudhari dalam Al-Qur’an bisa kita lihat pada ayat berikut:

  1. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan). QS. Al-Ikhlash ayat 3
  2. سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا (Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?). QS. Al-Baqarah ayat 142
  3. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ (Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)). QS. At-Takatsur ayat 3
Pada kalimat di atas, kata "يَلِدْ" adalah contoh fi'il mudhari majzum yang ditandai dengan masuknya lam nafi dan di awali huruf mudhara'ah,. Sedangkan lafadz "يُوْلَدْ" merupakan bentuk fi'il mudhari majhul (kata kerja pasif). Selainnya adalah contoh penggunaan fi'il mudhari ma'lum (kata kerja aktif) yang marfu' (dibaca rafa').

I'rab Fi'il Mudhari

Pada dasarnya setiap fi’il mudhari dalam bahasa Arab hukumnya adalah mu’rab, jika memang tidak didapati adanya nun taukid mubasyirah atau nun jamak inats di akhir kalimahnya.

Contoh fi’il mudhari yang berstatus mu’rab bisa kita lihat dalam kalimat berikut:

  1. أَبْلُغُ آمَالِيْ بِبُطْءٍ (Aku akan menggapai harapan-harapanku secara perlahan).
  2. سَوْفَ أَزُوْرُ كُلَّ حَدَائِقِ فِى مَالَانج (Aku akan mengunjungi semua taman-taman di Malang).
  3. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ (Kecintaan/ketulusan teman itu akan tampak pada waktu kesempitan).

Perhatikanlah bahwa semua fi’il mudhari dalam kalimat tersebut berstatus mu’rab. Artinya, harokat akhir fi’il mudhori selalu mengalami perubahan seiring dengan masuknya amil yang berbeda-beda. Adapun tanda i’rabnya adalah dhammah dhahirah, sebab ia dalam keadaan marfu’, dengan kata lain tidak didahului oleh amil nawashib dan amil jawazim.

Bila fi’il mudhari di awali oleh amil nawashib (yang menashobkan) maka hukumnya adalah manshub (dibaca nashob), tanda asal i’rabnya berupa harokat fathah dhahirah. Contohnya adalah kalimat berikut:

  • لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ الَّتِيْ مَضَتْ (Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu).
  • لَنْ أَتَرَاجَعَ مَادَامَتِ الفُرْصَةُ قَائِمَةً (Saya tidak akan mundur selama masih ada kesempatan).
  • لَنْ تَنْجَحَ مَالَمْ تَجْتَهِدْ (Kamu tidak akan berhasil selama kamu tidak berjuang).

Dan apabila fi’il mudhari kemasukan amil jawazim (yang menjazemkan) maka ia berstatus majzum (dibaca jazm), ditandai dengan i’rab asal berupa harokat sukun. Contohnya seperti kalimat:

  • لَمْ تَنْجَحْ هَذِهِ المَرَّةَ وَلَكِنْ عَلَى الأَقَلِّ قَدْ حَاوَلْتَ (Kali ini kamu belum berhasil, tapi paling tidak kamu sudah mencoba).
  • لَمْ نَعْرِفْ حِيْنَئِذٍ مَا يُسَمَّى الآنَ بِالإِنْتِرْنِتِ (Waktu itu kita belum mengenal apa yang sekarang disebut internet).
  • لَمْ تَكُنْ حِيْنَئِذٍ هَوَاتِفُ ذَكِيَّةٌ (Saat itu belum ada smarthpone).

Penting dicatat bahwa semua contoh dan penjelasan yang kami berikan tersebut merupakan i’rab fi’il mudhari shahih akhir, dan tidak pula berupa af’alul khamsah atau fi’il-fi’il yang lima.

Fi’il mudhari yang tidak diakhiri huruf shahih maka disebut dengan fi’il mudhari mu’tal akhir dan dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 1) mu’tal alif, 2) mu’tal wawi, dan 3) mu’tal ya’.

Tanda i’rab fi’il mudhari mu’tal alif:

  1. Rafa’: dhammah muqaddarah, contohnya “يَخْشَى”.
  2. Nashab: fathah muqaddarah, contohnya “لَنْ يَخْشَى”.
  3. Jazm: terbuangnya huruf illat (alif), contohnya “لَمْ يَخْشَ”.

Tanda i’rab fi’il mudhari mu’tal wawi:

  1. Rafa’: dhammah muqaddarah, contohnya “يَدْعُو”.
  2. Nashab: fathah dhahirah, contohnya “لَنْ يَدْعُوَ”.
  3. Jazm: terbuangnya huruf illat (wawu), contohnya “لَمْ يَدْعُ”.

Tanda i’rab fi’il mudhari mu’tal ya’:

  1. Rafa’: dhammah muqaddarah, contohnya “يَرْمِيْ”.
  2. Nashab: fathah dhahirah, contohnya “لَنْ يَرْمِيَ”.
  3. Jazm: terbuangnya huruf illat (ya’), contohnya “لَمْ يَرْمِ”.

Adapun yang dimaksud dengan af’alul khamsah atau fi’il-fi’il yang lima adalah setiap fi’il mudhari yang isnad (bersandar) kepada dhamir alif tasniyah, wawu jamak, atau ya’ muannats mukhathabah.

Tanda i’rab af’alul khamsah (fi’il mudhari yang lima):

  1. Rafa’: tetapnya huruf nun (tsubutun nun), contohnya “يَضْرِبَانِ”.
  2. Nashab: terbuangnya nun (hadfun nun), contohnya “لَنْ يَضْرِبُوا”.
  3. Jazm: terbuangnya huruf nun (hadfun nun), contohnya “لَمْ تَضْرِبِيْ”.

Supaya lebih memudahkan lagi dalam menghafal semua i’rab fi’il mudhari tersebut, perhatikan tabel berikut ini:

I’rab Fi’il Mudhari
No Fi’il Mudhari Rafa’ Nashab Jazm
1 صَحِيْحُ الآخِرِ ضَمَّةٌ فَتْحَةٌ سُكُوْنٌ
2 مُعْتَلُّ الآلِفِ ضَمَّةٌ مُقَدَّرَةٌ فَتْحَةٌ مُقَدَّرَةٌ حَدْفُ حَرْفِ العِلَّةِ
3 مُعْتَلُّ الوَاوِ ضَمَّةٌ مُقَدَّرَةٌ فَتْحَةٌ حَدْفُ حَرْفِ العِلَّةِ
4 مُعْتَلُّ اليَاءِ ضَمَّةٌ مُقَدَّرَةٌ فَتْحَةٌ حَدْفُ حَرْفِ العِلَّةِ
5 أَفْعَالُ الخَمْسَةِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ حَدْفُ النُّوْنِ حَدْفُ النُّوْنِ

Fi’il Mudhari yang Mabni

Pada bab sebelumnya telah kami jelaskan bahwa hukum asal fi’il mudhari adalah mu’rab, kecuali jika bertemu dengan nun taukid mubasyirah dan nun jamak inats.

Pertama, apabila fi’il mudhari dipertemukan dengan nun taukid mubasyirah, yaitu huruf yang berfaedah sebagai penguat dan tidak terdapat pemisah antara huruf nun dan fi’ilnya, maka hukumnya adalah mabni fathah.

Contoh fi’il mudhari yang mabni fathah:

  • لَيَقُوْمَنَّ زَيْدٌ (Sungguh Zaid benar-benar berdiri).
  • يُعْجِبُنِيْ أَنْ تَفْعَلَنَّ كَذَا (Aku heran bahwa kamu benar-benar melakukan hal seperti ini).
  • وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ (Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, maka sungguh dia akan dipenjarakan dan termasuk golongan orang-orang yang hina). (QS. Yusuf ayat 32)

Oleh penjelasan di atas, jika nun taukid yang menempel di akhir fi’il mudhari itu ghairu mubasyirah (tidak sambung) maka statusnya tetap mu’rab. Ini merupakan kesepakatan mayoritas ulama ahli nahwu (jumhur nahwiyyin).

Ada tiga tempat di mana fi’il mudhari bertemu nun taukid ghairu mubasyirah dan dihukumi mu’rab, yaitu ketika disandarkan pada:

  1. Alif tasniyah
  2. Wawu jamak
  3. Ya’ mukhathabah

Contohnya seperti ayat Al-Qur’an berikut:

وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. Yunus ayat 89)

Huruf nun pada fi’il mudhari “تَتَّبِعَانِّ” dalam ayat di atas merupakan nun taukid ghairu mubasyirah. Artinya ia tidak sambung secara langsung dengan fi’ilnya lantaran terpisah oleh alif tasniyah. Contoh lain adalah ayat Al-Qur’an surah At-Takatsur, yang berbunyi:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Artinya: “Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At-Takatsur ayat 8)

Secara lafadz antara fi’il mudhari dan huruf nun dalam ayat tersebut terlihat sambung tanpa pemisah. Tetapi ia tetap dihukumi mu’rab, bukan mabni. Karena asal mula fi’il “تُسْأَلُنَّ” adalah “تُسْأَلُوْنَنَّ” yang disandarkan kepada wawu jamak dan telah melalui proses i’lal (perubahan huruf).

تُسْأَلُنَّ أَصْلُهُ تُسْأَلُوْنَنَّ فَحُذِفَتِ النُّوْنُ لِتَوَالِى الأَمْثَالِ فَصَارَ تُسْأَلُوْنَّ فَحُذِفَتِ الوَاوُ لِلْتِقَاءِ السَّاكِنَيْنِ فَصَارَ تُسْأَلُنَّ

Artinya: “Fi’il (تُسْأَلُنَّ) asalnya adalah (تُسْأَلُوْنَنَّ), huruf nun dibuang sebab beruntun, menjadi (تُسْأَلُوْنَّ). Kemudian huruf wawu dibuang karena bertemunya dua sukun, menjadi (تُسْأَلُنَّ)”.

Begitu juga dengan fi’il mudhari yang bertemu dengan ya’ mukhathabah, seperti kalimat “لَتَسْمَعِنَّ يَاهِنْدُ” (sungguh kamu benar-benar mendengarkan wahai Hindun). Kata “تَسْمَعِنَّ” dalam kalimat barusan asalnya adalah “تَسْمَعِيْنَنَّ”, untuk proses i’lal-nya sama saja dengan yang di atas.

Meski demikian, menurut Abu al-Khattab Abdul Hamid bin Abdul Majid atau yang lebih dikenal dengan Imam Akhfasy berpendapat bahwa fi’il mudhari yang bertemu dengan nun taukid dihukumi mabni secara mutlak. Maksudnya, baik itu mubasyir maupun ghairu mubasyir fi’il mudhari tetaplah berstatus mabni.

Kedua, fi’il mudhari adalah mabni sukun hukumnya, bilamana dipertemukan dengan nun jamak inats, yaitu huruf yang menunjuk pada jamak jenis perempuan.

Contoh fi’il mudhari yang mabni sukun:

  1. هُنَّ يَرُعْنَ مَنْ فُتِنَ (Mereka (pr) merasa takut pada (melihat) orang yang digoda). 
  2. عَلَيْهِنَّ أَنْ يَعْرِفْنَ هَذِهِ المَعْلُوْمَاتِ (Mereka (pr) harus tahu informasi ini).
  3. الطَّلَبَةُ لَمْ يَكْتُبْنَ بُحُوْثَهُنَّ وَقْفًا لِقَوَاعِدِ الكِتَابَةِ العِلْمِيَّةِ (Para mahasiswi belum menuliskan paper mereka sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah).

Perhatikanlah bahwa fi’il mudhari yang bertemu nun jamak inats pada kalimat di atas adalah mabni sukun, baik dalam keadaan rafa’, nashab, maupun jazm.

Tashrif Fi'il Mudhari

Fi’il mudhari merupakan kalimah fi’il dalam bahasa Arab yang dapat ditashrif secara lughawi dan dibedakan berdasarkan dhamir yang jumlahnya ada 14 macam. Berikut ini adalah contoh tashrif lughawi fi’il mudhari beserta dhomirnya mulai dari tsulatsi hingga ruba’i baik itu mujarrad maupun mazid.

Tashrif Fi’il Mudhari Tsulatsi Mujarrad
Wazan Contoh Dhomir
يَفْعُلُ يَنْصُرُ هُوَ
يَفْعُلَانِ يَنْصُرَانِ هُمَا
يَفْعُلُوْنَ يَنْصُرُوْنَ هُمْ
تَفْعُلُ تَنْصُرُ هِيَ
تَفْعُلَانِ تَنْصُرَانِ هُمَا
يَفْعُلْنَ يَنْصُرْنَ هُنَّ
تَفْعُلُ تَنْصُرُ أَنْتَ
تَفْعُلَانِ تَنْصُرَانِ أَنْتُمَا
تَفْعُلُوْنَ تَنْصُرُوْنَ أَنْتُمْ
تَفْعُلِيْنَ تَنْصُرِيْنَ أَنْتِ
تَفْعُلَانِ تَنْصُرَانِ أَنْتُمَا
تَفْعُلْنَ تَنْصُرْنَ أَنْتُنَّ
أَفْعُلُ أَنْصُرُ أَنَا
نَفْعُلُ نَنْصُرُ نَحْنُ
Tashrif Fi’il Mudhari Tsulatsi Mazid
Wazan Contoh Dhomir
يُفْعِلُ يُكْرِمُ هُوَ
يُفْعِلَانِ يُكْرِمَانِ هُمَا
يُفْعِلُوْنَ يُكْرِمُوْنَ هُمْ
تُفْعِلُ تُكْرِمُ هِيَ
تُفْعِلَانِ تُكْرِمَانِ هُمَا
يُفْعِلْنَ يُكْرِمْنَ هُنَّ
تُفْعِلُ تُكْرِمُ أَنْتَ
تُفْعِلَانِ تُكْرِمَانِ أَنْتُمَا
تُفْعِلُوْنَ تُكْرِمُوْنَ أَنْتُمْ
تُفْعِلِيْنَ تَكْرِمِيْنَ أَنْتِ
تُفْعِلَانِ تُكْرِمَانِ أَنْتُمَا
تُفْعِلْنَ تُكْرِمْنَ أَنْتُنَّ
أُفْعِلُ أُكْرِمُ أَنَا
نُفْعِلُ نُكْرِمُ نَحْنُ
Tashrif Fi’il Mudhari Ruba’i Mujarrad
Wazan Contoh Dhomir
يُفَعْلِلُ يُدَحْرِجُ هُوَ
يُفَعْلِلَانِ يُدَحْرِجَانِ هُمَا
يُفَعْلِلُوْنَ يُدَحْرِجُوْنَ هُمْ
تُفَعْلِلُ تُدَحْرِجُ هِيَ
تُفَعْلِلَانِ تُدَحْرِجَانِ هُمَا
يُفَعْلِلْنَ يُدَحْرِجْنَ هُنَّ
تُفَعْلِلُ تُدَحْرِجُ أَنْتَ
تُفَعْلِلَانِ تُدَحْرِجَانِ أَنْتُمَا
تُفَعْلِلُوْنَ تُدَحْرِجُوْنَ أَنْتُمْ
تُفَعْلِلِيْنَ تُدَحْرِجِيْنَ أَنْتِ
تُفَعْلِلَانِ تُدَحْرِجَانِ أَنْتُمَا
تُفَعْلِلْنَ تُدَحْرِجْنَ أَنْتُنَّ
أُفَعْلِلُ أُدَحْرِجُ أَنَا
نُفَعْلِلُ نُدَحْرِجُ نَحْنُ
Tashrif Fi’il Mudhari Ruba’i Mazid
Wazan Contoh Dhomir
يَتَفَعْلَلُ يَتَدَحْرَجُ هُوَ
يَتَفَعْلَلَانِ يَتَدَحْرَجَانِ هُمَا
يَتَفَعْلَلُوْنَ يَتَدَحْرَجُوْنَ هُمْ
تَتَفَعْلَلُ تَتَدَحْرَجُ هِيَ
تَتَفَعْلَلَانِ تَتَدَحْرَجَانِ هُمَا
يَتَفَعْلَلْنَ يَتَدَحْرَجْنَ هُنَّ
تَتَفَعْلَلُ تَتَدَحْرَجُ أَنْتَ
تَتَفَعْلَلَانِ تَتَدَحْرَجَانِ أَنْتُمَا
تَتَفَعْلَلُوْنَ تَتَدَحْرَجُوْنَ أَنْتُمْ
تَتَفَعْلَلِيْنَ تَتَدَحْرَجِيْنَ أَنْتِ
تَتَفَعْلَلَانِ تَتَدَحْرَجَانِ أَنْتُمَا
تَتَفَعْلَلْنَ تَتَدَحْرَجْنَ أَنْتُنَّ
أَتَفَعْلَلُ أَتَدَحْرَجُ أَنَا
نَتَفَعْلَلُ نَتَدَحْرَجُ نَحْنُ

Apabila kita perhatikan tabel di atas, maka kita akan mendapati beragam bentuk wazan tashrif lughawi fi’il mudhari. Namun, sebenarnya ia tidak jauh berbeda dengan tashrif fi’il madhi yang perubahannya berdasarkan isim dhamir atau kata ganti mulai “هُوَ” hingga “نَحْنُ”. Hanya saja, tashrif fi’il mudhari lebih rumit karena yang berubah tidak hanya huruf akhirnya saja, akan tetapi juga pada huruf pertamanya, yaitu hamzah, nun, ya’, dan ta’ (أنيت).

Contoh Fi’il Mudhari

Supaya lebih memperkaya lagi kosa kata fi’il mudhari serta memudahkan dalam membuat kalimat fi’il mudhari, berikut adalah beberapa contoh fi’il mudhari beserta madhi dan artinya yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Contoh Fi’il Mudhari dan Madhinya
No Madhi Mudhari Artinya
1 عَمِلَ يَعْمَلُ Bekerja
2 تَكَلَّمَ يَتَكَلَّمُ Berbicara
3 قَصَّ يَقُصُّ Bercerita
4 قَامَ يَقُوْمُ Berdiri
5 ذَهَبَ يَذْهَبُ Pergi
6 رَجَعَ يَرْجِعُ Kembali
7 صَلَّى يُصَلِّي Sholat
8 نَامَ يَنَامُ Tidur
9 أَنْكَرَ يُنْكِرُ Mengingkari
10 آمَنَ يُؤْمِنُ Beriman
11 عَرَفَ يَعْرِفُ Mengetahui
12 رَفَعَ يَرْفَعُ Mengangkat
13 أَخَذَ يَأْخُذُ Mengambil
14 وَجَدَ يَجِدُ Menemukan
15 سَمِعَ يَسْمَعُ Mendengar
16 سَأَلَ يَسْأَلُ Bertanya
17 إِحْتَاجَ يَحْتَاجُ Membutuhkan
18 تَعَلَّمَ يَتَعَلَّمُ Mempelajari
19 دَعَى يَدْعُوْ Memohon
20 إِجْتَمَعَ يَجْتَمِعُ Berkumpul

Kesimpulan

Dalam bahasa Arab fi’il mudhari adalah kata kerja (verba) yang memuat zaman hal (masa kini/sekarang) dan zaman mutaqbal (masa akan datang). Fi’il mudhari memiliki 3 ciri-ciri khusus, yaitu:

  1. Di awali huruf mudhara’ah yang empat (أنيت).
  2. Kemasukan amil nawashib dan jawazim.
  3. Kemasukan huruf sin (س) atau saufa (سوف).

Tidak semua fi’il mudhari adalah mu’rab, ada sebagian dari fi’il nya yang berstatus mabni, yaitu ketika dalam keadaan:

  1. Bertemu nun taukid mubasyirah.
  2. Bertemu nun jamak inats.

Selain dua keadaan di atas, fi’il mudhari dalam tata bahasa Arab dihukumi mu’rab, yang ditandai dengan tiga tanda i’rab asli, adalah dhammah, fathah,dan sukun. Selebihnya memakai tanda i’rab niyabah (pengganti), yaitu terbuangnya huruf illat (wawu, alif, ya’), tetapnya nun, dan terbuangnya huruf nun.

Tahsrif lughawi fi’il mudhari sebenarnya memiliki perubahan yang sama dengan fi’il madhi. Di mana perubahan tersebut didasari oleh berbeda-beda isim dhamir yang menempel di akhir kalimah. Hanya saja, fi’il mudhari mempunyai rumus tashrif yang sedikit rumit dibandingkan fi’il madhi. Karena perubahan yang terjadi pada fi’il mudhari tidak hanya terjadi di akhir, melainkan juga pada awal huruf kalimahnya.