Skip to main content

Nun Jamak Inats dan Nun Niswah, Mana Istilah yang Benar? Berikut Fakta Keduanya!

Daftar Isi [ Tampil ]
Nun Jamak Inats

Nun jamak inats merupakan dhamir yang dapat melekat pada akhir suatu kata atau kalimah dalam bahasa Arab. Sebagian orang biasa menyebutnya dengan istilah nun jamak niswah. Dari keduanya, mana istilah yang benar? Berikut sederet fakta mengenai istilah nun jamak inats dan nun niswah.

Nun jamak inats adalah nun yang menunjukkan kepada jenis perempuan lebih dari dua. Istilah ini sering digunakan ketika membicarakan kalimah fi’il (kata kerja) baik itu madhi (lampau), chal (sekarang), dan mustaqbal (akan datang). Dihukumi mabni fathah dan huruf yang terjatuh sebelumnya wajib dibaca sukun.

Contoh penggunaan nun jamak inats bisa dilihat dalam tabel berikut:

Contoh Nun Jamak Inats
Fi’il Madhi Fi’il Mudhari Fi’il Amr
جَلَسْنَ
(Mereka (pr) duduk)
يَجْلِسْنَ
(Mereka (pr) sedang duduk)
إِجْلِسْنَ
Duduklah !
كَتَبْنَ
(Mereka (pr) menulis)
يَكْتُبْنَ
(Mereka (pr) sedang menulis)
أُكْتُبْنَ
Tulislah !
رَجَعْنَ
(Mereka (pr) kembali)
يَرْجِعْنَ
(Mereka (pr) akan kembali)
إِرْجِعْنَ
Kembalilah !
نَصَرْنَ
(Mereka (pr) menolong)
يَنْصُرْنَ
(Mereka (pr) sedang menolong)
أُنْصُرْنَ
Tolonglah !
ذَهَبْنَ
(Mereka (pr) pergi)
تَذْهَبْنَ
(Mereka (pr) akan pergi)
إِذْهَبْنَ
Pergilah !

Kalimat dalam tabel di atas merupakan contoh nun jamak inats yang berada di akhir kalimah fi’il. Bila ditasydid, maka harus sambung dengan dhamir lainnya untuk menunjukkan makna jamak jenis perempuan, dan bisa melekat baik pada isim, fi’il, ataupun huruf.

Contohnya seperti:

  • كِتَابُهُنَّ/كِتَابُكُنَّ : Kitab mereka/kalian (mudhaf ilaih).
  • ضَرَبَهُنَّ/ضَرَبَكُنَّ : Dia (Zaid) memukul mereka/kalian (maf’ul bih).
  • مِنْهُنَّ/مِنْكُنَّ : Dari mereka/kalian (majrur).

Terlepas dari itu semua, beberapa orang mengistilahkan nun jamak inats dengan istilah nun jamak niswah. Lalu, apakah kedua istilah ini sama? Atau justru malah berbeda?

Secara semantik arti kata inats (إِنَاثٌ) dalam ilmu nahwu adalah muannats (مُؤَنَثٌ), yaitu setiap yang berjenis perempuan baik secara haqiqi, majazi, aqil maupun ghairi aqil. Sedangkan arti kata niswah (نِسْوَةٌ) adalah bentuk jamak yang khusus digunakan untuk menyatakan atas jenis perempuan/wanita yang aqil (berakal).

Maka dari itu, istilah inats (إِنَاثٌ) sifatnya lebih umum dibandingkan dengan niswah (نِسْوَةٌ). Artinya, setiap yang niswah sudah pasti muannats, seperti “بَنَاتُ آدَمٍ” (anak-anak perempuannya Nabi Adam). Akan tetapi, setiap yang muannats belum tentu niswah, contohnya seperti “الغَنَمُ” (kambing) dan  “الشَمْشُ” (matahari).

Contoh lain adalah kata “النَّخْلُ” dalam firman Allah Swt, yang berbunyi:

وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ

Artinya: “Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun”. (QS. Qaf ayat 10)

Kata “النَّخْلَ” (pohon kurma) pada ayat Al-Qur’an tersebut bisa dikatakan sebagai muannats (majazi). Tetapi tidak masuk dalam kategori niswah, karena kata “النَّخْلَ” merupakan lafadz yang ghairi aqil (tidak berakal).

Oleh karena itu, penggunaan istilah nun jamak niswah terlebih lagi nun nisa’ tidaklah benar namun juga tidak sepenuhnya salah. Karena istilah niswah dipandang memiliki makna yang sempit untuk menggambarkan jenis suatu kalimah dalam bahasa Arab dibandingkan dengan istilah inats atau muannats.

Redaksi kitab:

الحَالُ الثَّانِيَةُ: إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ نُوْنُ الإِنَاثِ، وَالمُرَادُ نُوْنُ المُؤَنَّثِ، وَلَا نَقُوْلُ: نُوْنُ النِّسْوَةِ، لِأَنَّ مِنَ المُؤَنَّثِ مَا هُوَ نِسْوَةٌ كـ(بَنَاتِ آدَمٍ)، وَمِنْهُ مَا لَيْسَ بِنِسْوَةٍ كـ(الغَنَمِ)، وَ(النَّخْلِ)، كَمَا فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ...} [ق: ١٠] فـ(النَّخْلُ) مُؤَنَّثٌ، وَمَعَ ذَلِكَ لَيْسَ بِنِسْوَةٍ، فَكُلُّ نِسْوَةٍ إِنَاثٌ، وَلَيْسَ كُلُّ إِنَاثٍ نِسْوَةٌ، وَلِهَذَا قَالَ المُؤَلِّفُ: (نُوْنِ إِنَاثٍ)، وَلَمْ يَقُلْ: (نُوْنِ نِسَاءٍ)، وَلَوْ قَالَ: (نُوْنِ نِسَاءٍ)، لَصَارَتْ أُضِيْقَ...[محمّد بن صالح فى شرح ألفيّة ابن مَالك، صحيفة: ٩٩]