Skip to main content

50 Contoh Fi’il Mudhari dan Penggunaannya dalam Kalimat

Daftar Isi [ Tampil ]

Dalam tata bahasa Arab, kata kerja yang menunjukkan kepada terjadinya pekerjaan di masa sekarang dan akan datang disebut dengan fi’il mudhari. Di antara ciri-ciri jenis kalimah fi’il ini yaitu bermakna “sedang” atau “akan”. Contohnya أَذْهَبُ (Aku akan pergi), يَتَعَلَّمُ (dia sedang belajar), تَجْلِسُ (kamu sedang duduk), dan lain sebagainya.

Pengertian Fi’il Mudhori dan Contohnya

Fi’il mudhori adalah kata kerja yang biasa dipakai untuk kalimat pada waktu terjadinya suatu pekerjaan atau yang akan dikerjakan. Dalam syarah kitab Ajurumiyyah, pengertian fi’il mudhori adalah:

وَهُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى وَزَمَنٍ يَحْتَمِلُ الحَالَ وَالإِسْتِقْبَالَ

Artinya: “Fi’il mudhari adalah kalimah (kata) yang menunjukkan atas suatu makna dan zaman yang memuat masa sekarang dan akan datang”.

Tercatat ada 3 tanda pokok yang dimiliki kalimah fi’il mudhari, salah satunya adalah di awali huruf mudhara’ah, yaitu hamzah, nun, ya’, dan ta’ (أَنَيْتُ). Selengkapnya sahabat bisa membaca artikel tentang penjelasan fi’il mudhari pada postingan kami sebelumnya.

50 Contoh Fi’il Mudhari

Setelah membaca dan mengetahui apa itu fi’il mudhori dan ciri-cirinya, berikut 50 contoh fi’il mudhari beserta artinya yang dapat digunakan dalam kalimat sehari-hari.

50 Contoh Fi’il Mudhari
No Fi’il Mudhari Artinya
1 يَسْتَمِعُ Mendengarkan
2 يُقِيْمُ Mendirikan
3 يَعْرِفُ Mengetahui
4 يَعْمَلُ Bekerja
5 يُخْبِرُ Mengabarkan
6 يُرْسِلُ Mengirim
7 يَأْكُلُ Makan
8 يَأْخُذُ Mengambil
9 يَأْمُرُ Memerintahkan
10 يُحِبُّ Mencintai
11 يَتْرُكُ Meninggalkan
12 يَحُجُّ Berhaji
13 يَخَافُ Takut
14 يَخْرُجُ Keluar
15 يَدْعُو Berdo’a
16 يَرْكَبُ Mengendarai
17 يَشْرَبُ Minum
18 يَظُنُّ Mengira
19 يَعُوْدُ Kembali
20 يَمْسَحُ Mengusap
21 يَنَامُ Tidur
22 يَنْزِلُ Turun
23 يَخْتَارُ Memilih
24 يَسْتَخْرِجُ Mengeluarkan
25 يُسْلِمُ Masuk Islam
26 يَعْتَقِدُ Percaya
27 يُكْمِلُ Menyempurnakan
28 يَبْنِي Membangun
29 يَرْفَعُ Mengangkat
30 يَصْحَبُ Menemani
31 يَشْهَدُ Bersaksi
32 يَظْهَرُ Terlihat
33 يُعَلِّمُ Mengajarkan
34 يَنَالُ Memperoleh
35 يَنْصُرُ Menolong
36 يَبْتَسِمُ Tersenyum
37 يُظْهِرُ Menampakkan
38 يَنْقَطِعُ Memutus
39 يَجْعَلُ Menjadikan
40 يُحَدِّثُ Menceritakan
41 يَرْمِي Melempar
42 يَعْلَمُ Mengetahui
43 يُشْبِهُ Menyerupai
44 يُطِيْلُ Mengulur
45 يُبَيِّنُ Menjelaskan
46 يُخَصِّصُ Mengkhususkan
47 يَشَاءُ Berkehendak
48 يَصْلُحُ Baik
49 يَفْصِلُ Memisahkan
50 يُمَيِّزُ Membedakan

Contoh Fi’il Mudhari Rofa’

Setiap fi’il mudhari dalam bahasa Arab adalah mu’rab, bila memang tidak didapati adanya nun taukid mubasyirah dan nun jamak inats di akhir katanya.

Fi’il mudhari yang berstatus mu’rab memiliki 3 i’rab dasar, yaitu:

  1. Rofa’ dengan dhammah (tidak di awali amil nawashib dan jawazim).
  2. Nashab dengan fathah (di awali amil nawashib).
  3. Jazem dengan sukun (di awali amil jawazim).

I’rab tersebut berlaku bagi fi’il mudhari shahih akhir, artinya tidak diakhiri oleh huruf illat wawu, alif, dan ya’. Bilamana berupa fi’il mudhori mu’tal akhir, maka i’rabnya adalah seperti berikut:

  1. Rofa’ dengan dhammah muqaddarah.
  2. Nashab dengan fathah dhahirah (untuk mudhari mu’tal alif tanda nashobnya adalah muqaddarah).
  3. Jazem dengan terbuangnya huruf illat wawu, alif, atau ya’.

Berikut contoh kalimat menggunakan fi’il mudhari ketika rofa’:

  • أَبْلُغُ آمَالِيْ بِبُطْءٍ (Aku akan mencapai harapan-harapanku secara perlahan).
  • سَأَعُوْدُ لَكِ فِي أَسْرَعِ وَقْتٍ (Aku akan kembali untukmu secepatnya).
  • ظَنَنْتُهَا تَضْحَكُ فَإِذَا هِيَ تَبْكِيْ (Kukira dia sedang tertawa, ternyata dia lagi menangis).
  • يُنَاقِسُ الأَسَاتِيْذُ (Para guru sedang berdiskusi).
  • الحَسُوْدُ لَا يَسُوْدُ (Pendengki itu tidak akan menjadi mulia).

Jika fi’il mudhari bertemu alif tasniyah, wawu jamak, atau ya’ muannats mukhathabah (disebut af’alul khamsah), maka i’rabnya seperti berikut:

  1. Rofa’ dengan tetapnya nun.
  2. Nashab dan Jazem dengan terbuangnya nun.

Adapun contoh penggunaannya kita cukup merubah dhamir pada kalimat di atas. Misalkan “أَبْلُغُ” menjadi “يَبْلُغَانِ/تَبْلُغَانِ” (bertemu alif tasniyah), “يَبْلُغُوْنَ/تَبْلُغُوْنَ” (bertemu wawu jamak), “تَبْلُغِيْنَ” (bertemu ya’ muannats mukhathabah). Oleh karena itu, diperlukan adanya hafalan tashrif lughawi fi’il mudhari supaya memudahkan kita untuk memahaminya.

Contoh Fi’il Mudhari Manshub

Sekarang perhatikan contoh fi’il mudhari manshub (dibaca nashab) berikut:

  • لَنْ أُصَدِّقَكَ حَتَّى لَوْ أَقْسَمْتَ (Aku tidak akan mempercayaimu, sekalipun kamu bersumpah).
  • لَنْ أَسْتَسْلِمَ مَادُمْتُ عَلَى قَيْدِ الحَيَاةِ (Aku tidak akan menyerah selama hayat di kandung badan).
  • لَنْ يَخْسَرَ مَنْ يُحْسِنُ (Tidak akan rugi orang yang berbuat baik).
  • عَلَيْهِمْ أَنْ يَعْرِفُوْا هَذِهِ المَعْلُومَاتِ (Mereka harus tahu informasi ini).
  • لَنْ يَسْتَوِيَ أَهْلُ الخَيْرِ وَأَهْلُ الشَّرِّ (Tidak akan sama pelaku kebaikan dengan pelaku keburukan).

Semua kalimat tersebut merupakan contoh fi’il mudhari manshub sebab di awali oleh amil nawashib (yang menashabkan) seperti huruf “أَنْ” dan “لَنْ”.

Perhatikan juga fi’il mudhari “أَنْ يَعْرِفُوْا”, bentuk asalnya yaitu “يَعْرِفُونَ”, huruf nun dibuang karena ia bertemu dengan wawu jamak. Adapun fi’il “لَنْ يَسْتَوِيَ” adalah contoh fi’il mudhari mu’tal ya’ ditandai dengan tanda i’rab fathah dhahirah.

Contoh Fi’il Mudhari Majzum

Ini merupakan contoh fi’il mudhari majzum (dibaca jazem), adalah fi’il mudhari yang di awali oleh amil jawazim (yang menjazemkan) seperti “لَمْ” dan “لَا نَهْيِ”. Berikut contoh penggunaannya dalam kalimat:

  • لَا تَعْتَذِرْ أَنَا لَمْ أَعُدْ أُصَدِّقُكَ (Jangan beralasan, aku tidak lagi mempercayaimu).
  • لَا تَتَكَاسَلُوْا إِنَّ الحَيَاةَ لَمْ تَعُدْ سَهْلَةً كَمَا كَانَتْ (Kalian jangan bermalas-malasan, hidup tidak lagi mudah seperti dulu).
  • لَمْ نَسْأَمْ مِنْ تَعَلُّمِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ (Kami tidak bosan belajar bahasa Arab).
  • لَمْ تَغْضَبْ مِنِّيْ أُمِّيْ وَلَا مَرَّةً (Ibuku tidak pernah sekalipun memarahiku).
  • لَا تَقْلَقْ فَلَا يَسْتَبْعِدُ أَنْ يَكُوْنَ الخَبَرُ كَاذِبًا (Jangan cemas, bisa saja kabar itu bohong).

Semua contoh fi’il mudhari di atas adalah berstatus mu’rab. Dalam keadaan tertentu fi’il mudhori dihukumi mabni, yaitu ketika bertemu nun taukid mubasyirah dan nun jamak inats. Karena ini sudah kami sampaikan sebelumnya, maka kita cukupkan sampai di sini saja. Semoga mengedukasi dan menginspirasi.