Skip to main content

Khabar Kana dan Saudaranya (Wa Akhwatuha): Contoh, Pengertian, dan Pembagiannya

Daftar Isi [ Tampil ]
Khabar Kana

Khabar kana dan saudaranya (wa akhwatuha) adalah setiap khabar mubtada yang telah kemasukan kana wa akhwatuha sehingga dibaca nashob. Seperti lafadz “أُسْتَاذٌ” pada contoh berikut:

حَامِدٌ أُسْتَاذٌ – كَانَ حَامِدٌ أُسْتَاذًا
“Hamid adalah seorang guru”.

Pembagian Khabar Kana wa Akhwatuha

Pada dasarnya, khabar kana wa akhatuha merupakan unsur yang menjelaskan suatu isim dalam jumlah ismiyyah atau kalimat nominal. Khabar tersebut bisa terbentuk baik dari kalimah mu'rab maupun mabni, bisa juga berupa jumlah ismiyyah atau yang serupa dengannya (syibhul jumlah). Hal ini selaras sebagaimana pembagian khabar mubtada yang sudah kami jelaskan sebelumnya. Sehingga pembagian khabar kana wa akhwatuha pun sama, karena hakikatnya ia adalah khabar mubtada, yang dikelompokkan ke dalam 3 macam:

1. Mufrad (Berdiri Sendiri)

Maksud mufrad di sini adalah tidak berupa jumlah maupun syibh jumlah. Artinya, ia hanya berupa satu kata saja atau berupa idhafah (mudhaf + mudhaf ilaih).

Contoh:
  • فِي البِدَايَةِ كَانَ عَدَدُ المُشَارِكِيْنَ كَبِيْرًا (Pada awalnya, jumlah peserta banyak).
  • لَيْسَ كُلُّ دُمُوعٍ سِمَةَ الحُزْنِ (Tidak semua air mata itu tanda kesedihan).

2. Jumlah (Kalimat)

Kebalikan dari mufrad, khabar kana wa akhwatuha yang berupa jumlah terdiri dari beberapa kalimah atau kata. Jenis khabar tersebut dibagi lagi menjadi 2 macam, yaitu:

  • Jumlah Ismiyyah

Adalah kalimat yang tersusun atas mubtada dan khabar. Dalam bahasa Indonesia disebut kalimat nominal, adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda (nomina).

Contoh:
    • كَانَ أَحْمَدُ أَبُوْهُ مُدَرِّسٌ (Bapaknya Ahmad adalah seorang guru).
    • لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِيْ قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ (Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, tapi (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti).

  • Jumlah Fi’liyyah

Jumlah fi’liyyah adalah kalimat yang diawali oleh kalimah fi’il, yang dalam bahasa sehari-hari disebut dengan kalimat verbal.

Contoh:
    • مَهْمَا كَانَ عُلُوُّ عِلْمِكَ يَسْتَحِيْلُ أَنْ تَعْرِفَ كُلَّ شَيْءٍ (Betapa pun tingginya ilmumu, mustahil kamu tahu segalanya).
    • أَيَّا كَانَ السَّبَبُ لَا أُرِيْدُ أَنْ تَتَشَاجَرَا (Apa pun sebabnya, Saya tidak ingin kalian berdua bertengkar).

3. Syibhul Jumlah (Menyerupai Kalimat)

Syibhul jumlah adalah susunan kata menyerupai jumlah (kalimat), yang secara makna tidak dapat berdiri sendiri sehingga membutuhkan kalimah atau kata lain supaya menunjukkan kepada makna yang sempurna. Ada 2 macam syibhul jumlah, yaitu:

  • Jer Majrur

Jer majrur merupakan susunan kata yang terdiri dari huruf + isim. Huruf ini menjadikan setiap isim yang dimasukinya menjadi majrur (dibaca jer).

Contoh:
    • كَانَ التِّلْمِيْذُ فِيْ الفَصْلِ (Pelajar itu ada di dalam kelas).
    • هُوَ لَيْسَ مِنَ الأَغْنِيَاءِ وَمَعَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَتَبَرَّعُ كَثِيْرًا (Dia bukan termasuk orang kaya, namun demikian ia banyak menyumbang).

  • Dharaf

Dharaf adalah kalimah atau kata yang difungsikan untuk menunjukkan waktu atau tempat terjadinya suatu perkara.

Contoh:
    • كَانَ الْمُدِيْرُ أَمَامَ الْمَكْتَبَةِ (Direktur itu ada di depan perpustakaan).
    • الإِجْتِمَاعُ لَيْسَ اليَوْمَ لَكِنْ بَعْدَ غَدٍ (Rapatnya bukan hari ini, tapi besok lusa).

Khabar Kana Didahulukan

Pada dasarnya letak posisi khabar kana adalah terjatuh setelah isim kana. Namun dalam keadaan tertentu, ia boleh diletakkan tepat setelah perabot kana wa akhwatuha. Seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, yang berbunyi:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ar-rum: 47)

Perhatikan bahwa lafadz “حَقًّا” pada ayat di atas berstatus manshub sebagai khabar kana yang didahulukan dan “نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ” adalah isim kana yang diakhirkan.

Meski demikian, ada beberapa ketentuan yang tidak memperbolehkan khabar kana didahulukan, yaitu:

  1. Khawatir timbul iltibas (kerancuan), karena antara isim dan khabar kana sama-sama menggunakan i’rab muqaddar (dikira-kirakan). Contoh: كَانَ صَاحِبِيْ عَدُوِّيْ (temanku adalah lawanku).
  2. Khabar kana disertai illa (إِلَّا). Contoh: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً (Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan). (Q.S. Al-Anfal: 35)
  3. Khabar kana memuat dhamir dan merujuk kepada lafadz yang ikut menjadi isimnya kana.  Contoh: كَانَ غُلَامُ هِنْدٍ مُبْغِضَهَا (punakawannya Hindu adalah orang yang membenci Hindun).

Ketentuan-ketentuan sebagaimana yang telah disebutkan di atas juga berlaku bagi saudaranya kana. Tetapi, sebagian ulama ahli nahwu mengatakan ketidakbolehan mendahulukan khabar laisa “لَيْسَ” mengakhirkan isimnya. Adapun yang memperbolehkannya sebagaimana syair Arab berikut:

سَلِى إِنْ جَهِلْتِ النَّاسَ عَنَّا وَعَنْهُمُ | فَلَيْسَ سَوَاءً عَالِمٌ وَجَهُوْلُ
“Wahai wanita, jika Engkau tidak dapat membedakan antara aku dengan orang lain, maka sebaiknya kamu tanyakan kepada orang lain, yang jelas ada perbedaan antara orang bodoh dengan orang pintar”.

Begitu juga dengan khabar daama “دَامَ”, Imam Ibnu Mu’thi berkata bahwa khabar daama “دَامَ” tidak boleh didahulukan mengakhirkan isimnya. Jadi, tidak boleh mengucapkan “لَا أَصْحَبُكَ مَادَامَ قَائِمًا زَيْدٌ”. Sedangkan ulama yang memperbolehkannya, contohnya seperti syair Arab berikut:

لَا طِيْبَ لِلْعَيْشِ مَا دَامَتْ مُنَغِصَّةً | لَذَّاتُهُ بِالذَّكَارِ المَوْتِ وَالهَرَمِ
“Sepanjang manusia mau mengingat akan datangnya kematian dan kepikunan, maka semua kenikmatan dunia tidak ada artinya”.

Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata dalam kitabnya syarah Alfiyah ibnu Malik  terkait posisi khabar daama “دَامَ”, adalah sebagai berikut:

  1. Berlaku tartib, artinya sesuai dengan kaidah asal. Contoh: “لَا أَصْحَبُكَ مَا دَامَ زَيْدٌ قَائِمًا”.
  2. Boleh terletak di antara دَامَ dan khabarnya. Contoh: “لَا أَصْحَبُكَ مَا دَامَ قَائِمًا زَيْدٌ”.
  3. Tidak boleh terletak di antara دَامَ dan ma mashdariyyah dharfiyah (ijma’ ulama). Contoh: “لَا أَصْحَبُكَ مَا قَائِمًا دَامَ زَيْدٌ”.
  4. Tidak boleh terjatuh sebelum دَامَ beserta ma mashdariyyah-nya (ijma’ ulama). Contoh: “لَا أَصْحَبُكَ قَائِمًا مَا دَامَ زَيْدٌ”.

Untuk poin yang terakhir tersebut juga berlaku bagi kana dan saudaranya yang didahului oleh ma nafiyah, adalah huruf yang digunakan untuk membentuk kalimat negatif. Contohnya “مَا زَالَ اللّهُ مُحْسِنًا”, tidak boleh diucapkan “مُحْسِنًا مَا زَالَ اللّهُ”.

Begitu juga dengan laisa “لَيْسَ”, tidak boleh mendahulukan khabar mengakhirkan laisa beserta isimnya, sebagaimana pendapat yang dipilih oleh Imam ibnu Malik. Contohnya “لَيْسَ زَيْدٌ ضَارِبًا”. Kata “ضَارِبًا” pada contoh tersebut tidak boleh didahulukan mengakhirkan لَيْسَ beserta isimnya.

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa khabar kana wa akhwatuha boleh didahulukan mengakhirkan kana dan saudaranya, kecuali 3 perkara; 1) daama “دَامَ” beserta ma mashdariyyah-nya, 2) kana wa akhwatuha yang didahului ma nafiyah, dan 3) laisa “لَيْسَ”, dengan segala ketentuan yang telah dijelaskan sebelumnya.