Skip to main content

Contoh Isim Nakirah dan Ma'rifah dalam Al Qur'an

Daftar Isi [ Tampil ]
Contoh Isim Nakirah dan Ma'rifah
Al-Qur'an sebagai kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab memiliki banyak keistimewaan yang tidak pernah membosankan untuk selalu dikaji dan diteliti oleh para pecinta ilmu pengetahuan. Di antara banyak tema terkait dengan ilmu Al-Qur'an adalah kaidah tentang isim nakirah dan ma'rifat.

Dalam kaidah ilmu nahwu, istilah nakirah dan ma'rifat merupakan klasifikasi isim (kata benda) dalam bahasa Arab yang dilihat berdasarkan kekhususan maknanya. Secara umum, al-tankir atau nakirah dapat dipahami sebagai isim yang maknanya menunjukkan kepada sesuatu yang tidak tertentu (umum). Sebaliknya, al-ta'rif atau ma'rifah merupakan isim yang menunjukkan kepada makna tertentu (khusus).

Syaikh Mustafa al-Ghalayaini dalam kitab "Jami` al-Durus al-Arabiyah" menyebutkan bahwa lafadz yang tergolong ke dalam isim ma'rifah ada 7 macam, yaitu: isim dhamir (kata ganti), isim alam (nama), isim isyarah (kata tunjuk), isim yang didahului alif lam, isim yang mudhaf kepada ma'rifat, dan isim yang menjadi munada. Sedangkan untuk golongan isim nakiroh beliau tidak lagi menjelaskan, karena bisa jadi dengan hanya menyebutkan jenis isim ma'rifat dipandang telah memadai, sehingga dapat kita pahami bahwa selain jenis isim yang disebutkan tadi tentu tergolong isim nakirah.

Hanya saja, lebih lanjut lagi beliau menjelaskan bahwa isim yang didahului huruf alif lam tidak selamanya bermakna ma'rifah (tertentu), karena ada juga isim yang didahului alif lam namun tetap tergolong nakirah. Contohnya seperti pada ayat Al-Qur'an Surat An-Nisa berikut ini:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Artinya: "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah", (An-Nisa: 28).

Kata الْإِنْسَانُ dalam ayat tersebut memang didahului alif lam ta’rif. Meski secara lafadz ia tergolong isim ma’rifah, akan tetapi dari segi makna ia tetap dihukumi  nakirah. Karena yang dimaksud kata الْإِنْسَانُ di situ bukanlah manusia tertentu, melainkan semua manusia, siapapun dia.

Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman terkait alif lam ta’rif sebagai ciri khusus isim ma’rifat yang dibagi ke dalam dua macam, yaitu: 1) alif lam jinsiyyah, adalah huruf yang berfaedah menentukan jenis, 2) dan alif lam ahdiyyah, adalah huruf yang berfaedah untuk menunjukkan kepada sesuatu yang sudah diketahui, baik itu dzikri, chuduri, maupun dzihni. Contohnya seperti kalimat berikut:

  • جَائَنِي ضَيْفٌ فَأَكْرَمْتُ الضَّيْفَ (seorang tamu datang padaku, maka aku memuliakannya).
  • جِئْتُ اليَوْمَ (aku hadir hari itu juga).
  • حَضَرَ الأَمِيْرُ (pemimpin itu telah hadir).

Kata الضَّيْفَ dalam contoh kalimat di atas tidak lain dimaksudkan untuk lafadz ضَيْفٌ yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan pada kalimat kedua, kata اليَوْمَ menunjukkan kepada hari pada saat itu juga, bukan hari yang tidak jelas. Adapun yang dimaksud kata الأَمِيْرُ yakni seorang pemimpin yang telah dikenal oleh mutakallim (pembicara) dan mukhathab (lawan bicara).

Masih terkait dengan istilah nakirah dan ma'rifat, Imam Suyuthi dalam kitab "Al-Itqan fi `Ulum al-Quran" menyebutkan bahwa penggunaan isim nakirah dalam Al-Qur’an memiliki beberapa tujuan, antara lain yaitu:

  1. Al-wahdah, menunjukkan makna satu atau tunggal.
  2. Al-jinsi, menunjukkan kepada makna jenis.
  3. Al-ta'dzim, menunjukkan kepada makna membesarkan atau mengagungkan.
  4. Al-taktsir, menunjukkan makna banyak.
  5. Al-tahqir, menunjukkan makna menghina.
  6. Al-taqlil, menunjukkan makna sedikit.

Selanjutnya, Imam Suyuthi juga menjelaskan sebab-sebab penyebutan lafadz-lafadz yang berbentuk ma’rifah. Sebagaimana lafadz yang nakirah, penyebutan isim dalam bentuk ma’rifah di dalam Al-Qur’an juga tidak terlepas dari tujuan-tujuan tertentu, antara lain:

  1. Ma'rifah berupa isim dhamir (kata ganti), baik itu mutakallim, mukhathab, maupun ghaib.
  2. Ma'rifah berupa isim alam (kata nama), untuk mengagungkan atau menghinakan.
  3. Ma'rifah dalam bentuk isim isyarah (kata tunjuk), untuk mengistimewakan, mengingatkan, menghina atau merendahkan.
  4. Makrifah dengan isim maushul (kata ganti penghubung), untuk menunjukkan makna umum, adakalanya karena tidak suka dengan penyebutannya.
  5. Makrifah dengan alif lam, baik dzikri, dzihni, maupun chuduri.
  6. Makrifah dengan idhafah, untuk mengagungkan mudhaf, ada juga yang dimaksudkan untuk tujuan umum.

Contoh isim nakirah dalam Al-Qur’an sebagaimana tujuan penggunaannya bisa dilihat dalam potongan ayat berikut:

  • وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ (dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota), (QS. Al-Qasas: 20).
  • وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ (dan penglihatan mereka ditutup), (QS. Al-Baqarah: 7).
  • وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (dan bagi mereka siksa yang pedih), (QS. Al-Baqarah: 10).
  • أَئِنَّ لَنَا لَأَجْرًا (apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah banyak?), (QS. Asy-Syu'ara: 41).
  • مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (dari apakah Allah menciptakannya?), (QS. 'Abasa: 18).
  • وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ (dan keridhaan Allah adalah lebih besar), (QS. At-Taubah: 72).

Contoh penggunaan isim ma’rifah dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  • قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa), (QS. Al-Ikhlas: 1).
  • مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ (Muhammad itu adalah utusan Allah), ( QS. Al-Fath: 29).
  • أَهَٰذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ (apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan-mu?), (QS. Al-Anbiya: 36).
  • وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا (dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: cis bagi kamu keduanya), (QS. Al-Ahqaf: 17).
  • الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ (pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu), (QS. Al-Maidah: 3).
  • إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ (sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka), (QS. Al-Hijr: 42).

Demikianlah contoh isim nakirah dan ma'rifah dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Penting diketahui bahwa konsep tentang al-ta'rif (ma'rifah) dan al-tankir (nakirah) dalam teori ilmu nahwu itu dirasa masih belum cukup untuk memahami uslub atau gaya bahasa Al-Qur'an. Oleh karena itu, selain mempelajari kaidah ilmu nahwu, juga harus ditunjang dengan ilmu Al-Qur'an lainnya, seperti ilmu balaghah, ilmu tafsir, ilmu mantiq, dan lain sebagainya.