Skip to main content

Contoh Jumlah Fi’liyah dalam Ayat Al-Qur’an

Daftar Isi [ Tampil ]
Jumlah fi'liyah adalah kalimat yang diawali dengan musnad berupa fi'il (predikat) dan musnad ilaih yang menjadi subyeknya berupa fa'il atau naibul fa'il.

Dilihat dari segi struktur kalimatnya, jumlah fi’liyah adalah kalimat yang terdiri dari beberapa unsur pokok kata, yaitu fi’il, fa’il, dan maf’ul bih. Atau sekurang-kurangnya terdiri dari dua unsur kata, yaitu fi’il dan fa’il.

Contohnya seperti قَرَأَ زَيْدٌ القُرْآنَ (Zaid membaca Al-Qur’an). Kalimat barusan merupakan contoh susunan jumlah fi’liyah dalam bentuk asal, artinya mendahulukan musnad yakni قَرَأَ (fi’il/predikat), dan mengakhirkan musnad ilaih yakni زَيْدٌ (fa'il/subyek), kemudian diikuti dengan kata yang menjadi obyeknya atau kata yang masih memiliki keterhubungan dengan fi'il, yakni القُرْآنَ (maf’ul bih).

Syaikh Manna Al-Qaththa dalam bukunya yang berjudul "Pengantar Studi Al-Qur'an" terjemah Aunur Rafiq El-Mazni, menjelaskan bahwa jumlah fi'liyah (kalimat verba) menunjukkan arti tajaddud (baru) dan hudus (temporal). Lebih lanjut lagi, beliau menambahkan yang dimaksud tajaddud dalam fi'il madhi (kata kerja lampau) adalah perbuatan itu timbul-tenggelam, kadang ada dan terkadang tidak ada. Sedangkan arti tajaddud dalam fi'il mudhari (kata kerja sekarang atau akan datang) berarti perbuatan itu terjadi secara berulang-ulang. Penjelasan tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Al-Qatthan oleh Al-Suyuthi dalam buku "Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an".

Dalam Al-Qur’an yang menjadi pegangan pokok umat Islam sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupannya, juga banyak memakai pola struktur jumlah fi’liyah yang dapat dilihat pada ayat-ayat yang redaksinya menggunakan fi’il berikut ini:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan", (Q.S. Al-Fatihah: 5)

Kata إِيَّاكَ (hanya Engkaulah) dalam ayat di atas berkedudukan sebagai maf'ul bih yang didahulukan mengakhirkan fi'ilnya, dalam istilah ulama ahli nahwu disebut khilaful ashli atau bertolak belakang dengan kaidah aslinya. Karena pada hakikatnya, kata إِيَّاكَ berada di akhir susunan kalimat. Sedangkan kata نَعْبُدُ dan نَسْتَعِينُ pada ayat tersebut diungkapkan dalam bentuk fi'il mudhari. Artinya, perbuatan menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah SWT harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus) dan berkesinambungan tanpa terkecuali.

Contoh penggunaan jumlah fi’liyah dalam ayat-ayat Al-Qur’an lainnya juga bisa dilihat sebagaimana berikut ini:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?", (Q.S. Al-Fajr: 6)

Sekalipun diawali dengan kalimah huruf, ayat di atas masuk dalam kategori kalimat yang menggunakan pola susunan jumlah fi'liyah. Karena yang dilihat di sini adalah kata yang terjatuh setelahnya, yaitu kata kerja تَرَ, yang menunjukkan kepada pekerjaan memperhatikan. Maksudnya adalah meminta setiap individu untuk mengambil ibrah atau pelajaran atas kejadian-kejadian yang telah berlalu supaya mendapat pencerahan di masa mendatang. Adapun fa'il atau subyeknya adalah isim dhomir yang disimpan, apabila ditampakkan maka berupa kata أَنْتَ (kamu).

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya: "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah", (Q.S. Az-Zumar: 68)

Meski redaksi dalam ayat tersebut diungkapkan menggunakan fi'il madhi (kata kerja lampau), bukan berarti peniupan terompet itu tidak terjadi. Justru ayat di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa peristiwa peniupan terompet itu pasti akan terjadi.

Itulah beberapa contoh jumlah fi'liyah dalam ayat Al-Qur'an beserta penjelasannya. Yang penting diketahui di sini adalah, bahwa fi'il madhi tidak selalu digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi. Terkadang fi'il madhi juga digunakan untuk kejadian yang akan datang. Begitu juga dengan fi'il mudhari, tidak selamanya difungsikan untuk menunjukkan kepada peristiwa yang sedang atau akan terjadi. Kadang kala kejadian yang sudah berlalu malah diungkapkan dalam bentuk fi'il mudhari.