Skip to main content

Fungsi Isim Nakirah dan Ma'rifah Serta Contoh Penggunaannya pada Ayat Al-Qur'an

Daftar Isi [ Tampil ]
Secara etimologi al-nakirah berarti; نقيض المعرفة (yang tak tentu). Kata nakirah berakar dari huruf ن – ك – ر yang merupakan lawan dari kata al-ma’rifah. Sedangkan menurut terminologi, pengertian isim nakirah adalah:

النَّكِرَةُ : إِسْمٌ دَلَّ عَلَى غَيْرِ مُعَيَّنٍ

Artinya: Al-nakirah adalah isim yang menunjukkan atas sesuatu yang tidak ditentukan.

Adapun kata al-ma’rifah secara etimologi berarti; العلم والإدرك (pengetahuan). Kata al-ma’rifah sendiri berakar dari huruf ع – ر – ف yang mengandung arti; Pertama, sesuatu yang kontinu dan berkesinambungan antara satu bagian dengan bagian lainnya; Kedua, diam dan tenang. Sedangkan al-ma’rifah menurut istilah ulama ahli nahwu adalah:

المَعْرِفَةُ : إِسْمٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْئٍ مُعَيَّنٍ

Artinya: al-ma’rifah adalah isim yang menunjukkan atas sesuatu yang sudah ditentukan (jelas).

Dari dua pengertian di atas, baik dari segi etimologi maupun terminologi, dapat ditarik kesimpulan bahwa isim nakirah adalah isim (kata benda) yang menunjukkan kepada sesuatu yang umum, tidak dapat dikenali dengan pengenalan sempurna. Sebaliknya, isim ma’rifah adalah isim yang jelas dalam penunjukannya (tertentu, serta dapat dikenal dengan pengenalan yang sempurna.

Di dalam Al-Qur’an, isim nakirah dan ma’rifat memiliki fungsi tersendiri yang tidak dapat dicampurkan antara satu dengan lainnya. Menurut Syaikh Manna Al-Qaththan dalam “Mabahis fi ‘Ulumil Qur’an” terjemah Aunur Rafiq El-Mazni,  menyebutkan bahwa penggunaan isim nakirah ini mempunyai beberapa fungsi, di antaranya:

1. Untuk menunjukkan satu, seperti kata رَجُلٌ pada Surat Yasin Yasin ayat 20 yang artinya adalah seorang laki-laki.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Artinya: "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu", (Q.S. Yasin: 20).

2. Untuk menunjukkan kepada jenis, seperti pada:

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ

Artinya: "Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia)", (Q.S. Al-Baqarah: 96).

3. Untuk menunjukkan kepada satu dan jenis sekaligus. Misalnya ayat:

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya: "Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air", (Q.S. An-Nur: 45).

Maksudnya, setiap jenis binatang berasal dari satu jenis air dan setiap individu (satu) binatang itu berasal dari satu nuthfah (air mani).

4. Untuk menunjukkan arti banyak dan melimpah, seperti pada ayat:

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ

Artinya: "Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, mereka pun bertanya kepada Fir'aun: Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?, (Asy-Syu'ara: 41).

Kata أَجْرًا pada ayat di atas maksudnya adalah upah yang melimpah. Atau untuk membesarkan dan menunjukkan banyak, seperti kata رُسُلٌ dalam Q.S. Fathir ayat 4, yakni rasul-rasul yang mulia dan banyak jumlahnya.

5. Untuk meremehkan dan merendahkan, misalnya:

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

Artinya: "Dari apakah Allah menciptakannya?", ('Abasa: 18).

Maksud dari ayat tersebut yakni, diciptakan dari sesuatu yang hina, rendah.

6. Untuk menyatakan sedikit, kecil, seperti pada ayat:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ

Artinya: "Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar", (At-Taubah: 72).

Maksudnya, keridhaan yang sedikit dari Allah SWT itu lebih besar nilainya daripada surga, karena keridhaan itu pangkal segala kebahagiaan.

Adapun penggunaan isim ma’rifah memiliki beberapa fungsi yang berbeda sesuai dengan jenis dan macamnya, yaitu:

1. Dengan isim dhamir (kata ganti) baik mutakallim (kata ganti orang pertama), mukhatab (kata ganti orang kedua), ataupun ghaib (kata ganti orang ketiga).

2. Dengan isim alam (kata nama), yang berfungsi untuk menghadirkan pemilik nama itu dalam benak pendengar dengan cara menyebutkan namanya yang khas; menghormati, memuliakannya, seperti pada ayat:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Artinya: "Muhammad itu utusan Allah", (Al-Fath: 29).

Atau menghadirkan pemilik nama itu dalam benak pendengar dengan cara menyebutkan namanya yang khas; menghinakan, seperti pada ayat:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

Artinya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa", (Al-Lahab: 1).

3. Dengan menggunakan isim isyarah (kata tunjuk), berfungsi untuk menjelaskan bahwa sesuatu yang ditunjuk itu dekat. Seperti kata هَذَا pada Surat Al-Luqman ayat 11 berikut:

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

Artinya: "Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah", (Luqman: 11).

Atau untuk menunjukkan kepada sesuatu yang jauh, seperti kata pada Surat Al-Baqarah ayat 5 berikut:

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung", (Al-Baqarah: 5).

Atau dengan maksud menghinakan, maka menggunakan isim isyarah (kata tunjuk) dekat, seperti pada ayat:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ

Artinya: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main", (Al-'Ankabut: 64).

Atau dengan maksud memuliakan, dengan menggunakan kata tunjuk jauh, seperti ayat:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: "Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa", (Al-Baqarah: 2).

Atau untuk tanbih (mengingatkan) bahwa sesuatu yang diisyaratkan itu sangat layak dengan sifat yang disebutkan sesudah isim isyarah tersebut, seperti pada Surat Al-Baqarah ayat 2-5.

4. Ma’rifat dengan isim maushul (kata ganti penghubung), berfungsi untuk menunjukkan kepada arti yang umum, misalnya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami", (Al-'Ankabut: 69).

Atau karena tidak disukainya menyebutkan nama sebenarnya untuk menutupinya atau disebabkan hal lain, seperti:

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي

Artinya: "Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?", (Al-Ahqaf: 17).

Atau berfungsi untuk meringkas kalimat, seperti pada ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan", (Al-Ahzab: 69).

Kalau nama-nama orang yang mengatakan itu disebutkan, niscaya kalimatnya menjadi panjang, sehingga hadirnya kata الَّذِينَ dalam potongan ayat di atas adalah untuk meringkaskan.

5. Ma’rifat dengan alif lam (dibaca al), yang berfungsi untuk menunjukkan kepada sesuatu yang telah diketahui, karena telah disebutkan sebelumnya, seperti ayat:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ

Artinya: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara", (An-Nur: 35).

Atau untuk menunjukkan kepada sesuatu yang telah diketahui bagi benak pendengar, seperti:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon", (Al-Fath: 18).

Atau berfungsi untuk menunjukkan kepada sesuatu yang telah diketahui karena kehadirannya pada saat itu juga, seperti potongan ayat berikut ini:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu", (Al-Maidah: 3).

Atau untuk mencakupi semuanya, seperti pada Surat Al-Ashr ayat 2 berikut:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Artinya: "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian", (Al-Ashr: 2).

Atau untuk istitsna’ (pengecualian) sesudahnya; untuk mencakupi segala karakteristik suatu jenis. Bisa juga untuk menerangkan hakikat dari suatu jenis. Misalnya ayat:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: "Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa", (Al-Baqarah: 2).

Maksudnya, kitab yang sempurna cakupan hidayahnya, dan juga mencakup semua isi kitab yang diturunkan dengan segala karakteristiknya.

Demikianlah fungsi isim nakirah dan ma’rifah serta contoh penggunaannya pada ayat-ayat Al-Qur’an. Semoga membantu kita dalam memberikan makna yang tepat pada teks-teks bahasa Arab khususnya Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar hukum pertama dan kedua dalam agama Islam.