Skip to main content

Syair Arab Tentang Cinta

Daftar Isi [ Tampil ]
Berbicara tentang masalah cinta tentu tidak hanya cinta antara laki-laki dan perempuan, tapi lebih luas dari itu, yakni menggapai wilayah; cinta ketuhanan, cinta kemanusiaan, yang diungkap secara luas dan mendalam.

Ekspresi cinta lahir sebagai sebuah realitas kehidupan, kehadirannya menjadikan sebuah gairah sekaligus permasalahan sebagaimana kehidupan itu sendiri. Cinta juga bisa menjadi kebajikan yang mewakili kebaikan manusia, kasih sayang, perhatian, kesetiaan dan kebaikan hati yang tidak mementingkan diri sendiri.

Oleh kesuciannya itu, tampaknya karya sastra baik berupa prosa, lakon, ataupun syair tentang cinta lebih memiliki banyak peminatnya. Ini merupakan sesuatu yang wajar, mengingat cinta seakan sudah menjadi konsumsi bagi semua golongan. Seperti yang ditunjukkan beberapa syair Arab berikut ini.

نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلَامٌ ۞ فَكَلَامٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ
“Pandangan, senyuman, sapaan obrolan, kemudian pertemuan”

فَفِرَاقٌ يَكُوْنُ فِيْهِ دَوَاءٌ ۞ أَوْ فِرَاقٌ يَكُوْنُ مِنْهُ الدَّاءُ
“Hingga adanya perpisahan adalah penyembuh lara atau perpisahan sebagai penyakit yang menuai lara”.

*****

قَالَ لَهَا: لَا تَبْتَسَمِي أَمَامَ أَحَدٍ
“Laki-laki itu berkata kepada kekasihnya: jangan senyum di depan siapa pun”

فَقَالَتْ: لِمَاذَا؟
“Ia pun bertanya: kenapa?”

قَالَ: أتَتَذَكَّرِيْنَ كَيْفَ وَقَعْتُ بِغَرَامِكَ
“Laki-laki tersebut menjawab: apa kamu ingat? Bagaimana aku jatuh cinta padamu?”.

*****

وَمَا كُنْت مِمَّنْ يُدْخِـلُ العِشْـقَ قَلْبَه
“Engkau memang tak menaruh cinta di hati orang”

وَلكِنْ مَنْ يُبْصِـرُ جُفُوْنَـك يَعْشِـق
“Tetapi siapa saja yang melihat kelopak matamu akan jatuh cinta”

أُغِرُّك مِنِّي أَنَّ حُبَّك قَاتَـلِي
“Betapa cintamu yang mematikan itu telah membuatku terperdaya”

وَأَنَّك مَهْمَا تَأَمُّري القَلْب يَفْعَـل
“Hingga apa pun yang kau perintahkan pada hati ini akan dilakukannya”

يهـواك ما عشت القلب فإن أمت
“Hati ini akan tetap hidup jika pun aku mati”

يَتَّبِعُ صداي صداك في الأقبـر
“Gemaku akan membuntutimu dari dalam kubur”

أَنْت النَّعِيْـم لِقَلْبِـي وَالعَذَاب لَه
“Engkau adalah suatu kenikmatan, tetapi sekaligus siksa bagi hatiku”

فَمَا أَمُرُّك فِي قَلْبِـيْ وَأَحْلَاك
“Aku tak membolehkanmu mengabaikan rasa di hatiku”

وَمَا عجبـي مَوْت المُحِبِّيْـن فِي الهَوَى
“Begitu mengagumkannya para pecinta yang rela mati karena cinta”

وَلكِنْ بَقَاءُ العَاشِقِيْـنَ عَجِـيْب
“Akan tetapi, lebih mengagumkan lagi teguhnya perjuangan para pecinta”

لَقَدْ دَبَّ الهَـوَى لَك فِي فُـؤَادِي
“Cintaku padamu sungguh telah merasuk ke lubuk hatiku”

دَبِيْبُ دَمِّ الحَيَـاة إِلَى عُرُوْقِـي
“Darah kehidupan telah merayap ke pembuluh darahku”.

Dalam kesusastraan Arab, tema cinta ternyata menduduki posisi sentral dalam tradisi-tradisi syair Arab. Hal ini tidak dipungkiri karena cinta merupakan emosi positif yang paling intens dan diinginkan oleh setiap orang.

Baca juga: Syair Arab tentang Rindu dan Artinya

Selain membanggakan suku, kemenangan dalam suatu pertempuran, dan membesarkan nama-nama tokoh, masyarakat Arab yang terkenal dengan kemahirannya dibidang sastra juga memuja wanita dan orang-orang yang mereka cintai melalui syair-syair Arab. Seperti Imru al-Qays yang memuji keindahan Unaizah (kekasihnya) dalam bait syair di bawah ini:

فَلَمَّا أَجَزْنَا سَاحَةُ الحَيِّ وَانْتَحَى ۞ بِنَا بَطْنُ خَبْتٍ ذِى حِقَاقٍ عَقَنْقَلِ
"Ketika kami berdua telah lewat dari perkampungan, dan sampai di tempat yang aman dari intaian orang kampung"

هَصَرْتُ بِفَوْدَى رَأْسِهَا فَتَمَايَلَتْ ۞ عَلَيَّ هَضِيْمَ الكَشْحِ رَيَّا المُخَلْخَلِ
"Maka kutarik kepalanya sehingga Ia (Unaizah) dapat melekatkan dirinya kepadaku seperti pohon yang lunak"

مُهَفْهَفَةٌ بَيْضَاءُ غَيْرُ مُفَاضَةٍ ۞ تَرَائِبُهَا مَصْقُوْلَةٌ كَالسَّجَنْجَلِ
"Wanita itu langsing, perutnya ramping dan dadanya putih bagaikan kaca"

وَجِيْدٍ كَجِيْدِ الرِّئْمِ لَيْسَ بِفَاحِشٍ ۞ إِذَا هِيَ نَصَّتْهُ وَلَا بِمُعَطَّلٍ
"Lehernya jenjang seperti lehernya kijang, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun, karena lehernya dipenuhi kalung permata"

وَفَرْعٍ يَزِيْنُ المَتْنَ أَسْوَدَ فَاحِمٍ ۞ أَثِيْبٍ كَقَنْوِ النَّخْلَةِ المُتَعَثْكِلِ
"Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang kurma".

Kekuatan cinta mampu mengantarkan banyak orang untuk melakukan hal apapun. Kekuatan yang dapat mendorong semangat perjuangan hidup dan keberhasilan yang cemerlang, juga dapat menghanyutkan hati manusia dalam kesedihan yang paling dalam hingga masalah kejiwaan karena dimabuk kepayang. Seperti yang digambarkan melalui syair Arab berikut ini.

دَاءٌ ألمَّ فِيْهِ فَخِلْتُ شَفَائِي ۞ مِنْ صِبْوَتِي فتضاعفَتْ بُرَحَائِى
"Sakit yang menyakitiku dan menghilangkan kesehatanku, merenggut sejak masa kecilku dan terus berlipat ganda seperjalanan hidupku"

يَا للضَّعِيْفَيْن استَبَدَّا بِي وَمَا ۞ فِى الظُّلمِ مِثْل تَحْكُمُ الضُّعَفَاء
"Wahai dua kelemahan yang menzalimi diriku, sungguh tiada kezaliman sebagaimana kesewenangan terhadap orang lemah"

قَلْب أَصَبَتْهُ الصَّبَابَةَ وَالجَوى ۞ وَغِلَالةٌ رثت مِنَ الأَدْوَاءِ
"Hatiku luluh leleh karena kehampaan dan kengerian dalam meratapi obat-obat"

وَالرُّوحُ بَيْنَهُمَا نَسِيْم تنهُّد ۞ فِى حَالي التَّصْوِيب وَالصُّعَدَاءِ
"Ruh di antara keduanya bagai angin semilir yang mengalir pelan, ketika diri ini berusaha menarik nafas panjang"

وَالعَقْلُ كَالمِصْبَاحِ يغشَى نُوْرَهُ ۞ كَدَرِي وَيُضْعِفُهُ نُضُوبُ دِمَائِي
"Akal bagai lentera yang diliputi oleh cahaya, namun kekeruhan yang kualami mengalirkan air mata darah".

Baca juga: Bait Syair Alfiyah tentang Kehidupan

Sebagai penutup, berikut ini adalah puisi Arab tentang cinta karya Khalil Gibran (1883-1931) salah satu sastrawan Lebanon yang terkenal dan berhasil melukiskan cinta pada puisi-puisinya yang indah.

حَيَاةُ الحُبِّ

هَلُمِّي يَا مَحْبُوْبَتِي نَمْشِ بَيْنَ الطّلُوْلِ، فَقَدْ ذَابَت الثُّلُوْجِ، وَهَبَّتِ الحَيَاة مِنْ مَرَقدمهَا وَتَمَايلت فِى الأَوْدِيَةِ وَالمُنْحَدَرَاتِ. سِيْرِي مَعِي لنتتبع آثَلر أَقْدَم الرَّبِيْع فِى الحَفْلِ البَعِيْدِ. تَعَالى لِنَصْعد إِلَى أَعَالى الرُّبَى وَنَتَأَمَّل تموُّجَات اخْضَرَار السُّهُوْلِ حَوْلَهَا

هَا قَدْ نَشر فَجْر الرَّبِيْع ثَوْبًا طَوَاهُ لَيْلٌ الشِّتَاء، فَكْتَسَبَتْ بِهِ أَشْجَار الخَوْخ والتُّفَّاح، فَظَهَرَتْ كَالعَرَائِسِ فِى لَيْلَةِ القَدَرِ، وَاسْتَيْقَظَتْ الكرُوْم وَتَعَانقتْ قُضْبَانهَا كَمَعَاشِرِ لِلْعشَاق وَجَرَتِ الجدَاول رَاقِصَة بَيْنَ الصُّخُوْرِ مُرَدِّدَة أَغْنِيَة الفَرح، وانْبثقت الأَزْهَار مِنْ قَلْب الظَّبِيْعَة انبثَاق الزَّبد مِنَ البَحْرِ

تَعَالِي لِنَشْرَب بقَايًا دُمُوْعِ المَطَرِ مِنْ كُؤُوْسِ النَّرْجس، وَنَملَاء نَفْسِيْنَا بِأغَانِي العَصَافِيْر المَسْرُوْرَة وَنَغْتَنم اسْتِنْشَاق عَطْر النّيمَات

لِنَجْلِس بِقرب تِلْكَ الصَّخْرَة حَيْثُ يَخْتَبِيء البَنَفْسَج وَنَتَبَادل قبلَات المَحَبَّة

Kehidupan Cinta

Marilah, Sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan, salju telah cair dan kehidupan telah terjaga dari lenanya dan kini mengembara menyusuri pegunungan serta lembah-lembah. Ayo kita ikuti jejak-jejak musim bunga yang melangkaui ladang-ladang nan jauh dan mendaki puncak perbukitan untuk menadah ilham dari atas ketinggian, di atas hamparan ngarai yang sejuk kehijauan.

Fajar musim bunga telah mengeluarkan pakaiannya dari lipatan simpanan dan menyangkutnya di pohon pic dan sitrus dan mereka kelihatan bagaikan pengantin pada upacara tradisi malam Qadar. Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagaikan kekasih. Air di kali pun lincah saling berlompatan menari ria di sela-sela bebatuan dan menyanyikan lagu riang. Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam, laksana buih-buih bersemburan dari kalbu lautan.

Kemarilah sayang meneguk sisa air mata di musim dingin, dari gelas kelopak bunga lili dan menenangkan jiwa dengan gerimis nada-nada curahan simfoni burung-burung yang berkicauan dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan.

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet berteduh dalam persembunyian dan meniru kemanisan mereka dalam pertukaran kasih dan rindu. (Gibran, 1923)